NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Kiai Dhofir Munawwar: Ulama Alim dan Menantu Teladan Kiai As’ad Syamsul Arifin

Kiai Dhofir Munawwar dikenal sebagai ulama alim yang berperan besar di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Sebagai menantu Kiai As’ad Syamsul Arifin, beliau menempuh jalan khumul, mengabdikan diri sepenuhnya untuk ilmu dan santri tanpa mencari popularitas.


Kiai Dhofir Munawwar dan Tradisi Menantu Ulama Besar

NU MEDIA JATI AGUNG, – Kiai Maimoen Zubair pernah bercerita bahwa Kiai Abdul Karim, pendiri Pesantren Lirboyo, memiliki dua menantu andalan: Kiai Marzuqi Dahlan dan Kiai Mahrus Ali. Kedua menantu itu membantu Kiai Abdul Karim mengurus dan memajukan pesantren hingga dikenal luas.

Bagi seorang kiai besar, kehadiran menantu memang sangat penting. Seorang menantu menjadi tangan kanan yang membantu mengelola pesantren, mendampingi jamaah, serta menopang aktivitas dakwah. Peran ini tampak pula dalam kehidupan Kiai As’ad Syamsul Arifin, pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.

Di tengah kesibukan sebagai tokoh nasional dan sesepuh Nahdlatul Ulama, Kiai As’ad memiliki menantu andalan bernama Kiai Dhofir Munawwar. Sosok ini dikenal rendah hati, berilmu luas, dan memilih menempuh jalan khumul, yaitu menjauh dari popularitas duniawi.


Laku Kiai Dhofir Munawwar: Jalan Khumul dan Kesederhanaan

Kiai Dhofir menempuh hidup dalam diam. Ia mengabdikan seluruh waktunya untuk mengajar dan membimbing santri. Dalam dunia tasawuf, sikap ini disebut khumul. Ibnu Athaillah al-Sakandari dalam al-Hikam berkata:

Kuburlah dirimu dalam tanah yang tak dikenal, sebab sesuatu yang tumbuh dari biji yang tak ditanam tak berbuah sempurna.

Syekh Muhammad Said Ramadan al-Buthi menafsirkan laku khumul sebagai cara untuk mematangkan diri dan menyucikan jiwa. Kiai Dhofir menjalankan hal itu dengan konsisten. Ia mengajar kitab, menolak urusan duniawi, dan fokus pada pendidikan santri.

Saat Munas NU 1983 dan Muktamar 1984, Kiai As’ad bahkan melarang beliau menghadiri bahtsul masail. Kiai As’ad berkata dengan bahasa Madura:

“Mon bedhe Syekh Dhofir, kebey apa mabede bahtsul masai’il?”

Artinya, “Kalau ada Syekh Dhofir, buat apa masih melaksanakan bahtsul masail?”

Pernyataan ini menunjukkan betapa tinggi keilmuan Kiai Dhofir hingga Kiai As’ad menilainya mampu menjawab persoalan tanpa perlu forum besar. Dengan kata lain, beliau menjaga Kiai Dhofir agar tetap berada di jalan khumul, tidak mencari ketenaran dengan berdebat dalam forum ilmiah.


Nasab, Pendidikan, dan Jejak Keilmuan

Kiai As’ad sering memanggil menantunya dengan sebutan “Syekh”, bukan “Kiai”. Panggilan ini bukan soal asal-usul Arab, melainkan pengakuan atas keluasan ilmunya. Bahkan Kiai As’ad sendiri mengakui bahwa Syekh Dhofir lebih alim darinya.

Secara nasab, Kiai Dhofir masih sepupu Kiai As’ad. Keduanya bertemu di jalur keturunan Kiai Ruham. Sejak kecil, Kiai Dhofir tumbuh dalam keluarga pesantren dan belajar dasar agama dari ayahandanya, Kiai Munawwar. Ia kemudian menimba ilmu di Pesantren An-Nuqayyah Guluk-Guluk Sumenep di bawah bimbingan Kiai Abdullah Sajjad.

Di sana, beliau menaklukkan ilmu nahwu-sharaf dari tingkat dasar hingga tinggi. Ilmu alat ini menjadi fondasi kuat bagi kecemerlangan intelektualnya. Seperti kata Syekh Syarafuddin ibn Yahya dalam nazam Imrithi:

“Nahwu adalah ilmu yang harus pertama kali dipelajari, karena tanpanya perkataan tak dapat dipahami.”

Setelah itu, Kiai Dhofir melanjutkan pengembaraan ke Pesantren Sidogiri. Di sinilah beliau mengasah berbagai cabang ilmu: fikih, ushul fikih, tafsir, hadis, hingga tasawuf. Karena kecemerlangannya, beliau dipercaya menjadi lurah pondok di Sidogiri.

Perjalanan intelektualnya berlanjut ke Pesantren Lasem di bawah bimbingan Kiai Maksum. Di sana beliau tabarrukan atau mencari berkah keilmuan. Setelah matang secara ilmu, banyak pesantren menginginkan beliau sebagai menantu.


Menjadi Menantu Kiai As’ad Syamsul Arifin

Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo akhirnya berhasil meminangnya. Kiai As’ad menikahkan beliau dengan putri sulungnya, Nyai Hj Zainiyah As’ad. Dari pernikahan ini lahir empat putra-putri: Nyai Qurratul Faizah, Nyai Umi Hani’, Nyai Uswatun Hasanah, dan Kiai Ahmad Azaim Ibrahimy.

Kehadiran Kiai Dhofir membawa angin segar bagi Sukorejo. Ia memperkaya tradisi keilmuan dengan membuka kajian kitab tingkat tinggi seperti Fath al-Wahhab, Iqna’, dan Tafsir Jalalain. Selain itu, beliau mengganti bahasa penerjemahan kitab dari Madura menjadi bahasa Indonesia agar lebih inklusif.

Langkah ini menandai transformasi Sukorejo dari pesantren perjuangan menjadi pesantren keilmuan. Sejak saat itu, citra Sukorejo tak hanya lekat dengan semangat perjuangan, tetapi juga dengan kedalaman ilmu.


Inovasi Keilmuan dan Administrasi Pesantren

Kiai Dhofir tidak hanya unggul dalam keilmuan, tetapi juga dalam tata kelola pesantren. Ia memperkenalkan sistem honorarium bagi para guru. Sebelumnya, guru hanya menerima upah berupa sarung dan jatah makan. Bahkan, gagasan pendirian lembaga formal seperti SD, SMP, dan SMA di Sukorejo juga berasal dari beliau.

Jejak pemikiran Kiai Dhofir berpengaruh kuat terhadap banyak ulama besar. KH Afifuddin Muhajir berkata:

“Kalau bukan karena Syekh Dhofir, saya tidak akan bisa memahami logika dan ushul fikih dengan sebening ini.”

Beliau juga menjadi guru bagi KH Ghazali Ahmadi dan KH Ahmad Azaim Ibrahimy. Ketiganya kemudian menjadi penerus sanad keilmuan Kiai Dhofir yang tetap hidup hingga kini.


Teladan Kesederhanaan dan Tawadhu

Dalam keseharian, Kiai Dhofir hidup sangat sederhana. Beliau makan bersama santri, sering berjalan kaki mengelilingi pesantren, dan menolak pujian. Ketika ada santri menulis biografinya, beliau berkata:

“Jangan tulis tentang saya, tulis saja tentang ilmu yang bermanfaat untuk umat.”

Sikap ini menunjukkan kerendahan hatinya yang luar biasa. Ia menolak dikenal, namun meninggalkan pengaruh besar bagi dunia pesantren.

Kiai Dhofir juga sering berpesan:

“Kalau kamu membaca kitab, jangan hanya ingin selesai. Bacalah dengan niat ingin memahami, ingin mendapat berkah dari penulisnya.”

Beliau wafat dalam usia belum terlalu tua, tetapi meninggalkan warisan ilmu yang luas dan generasi ulama besar yang terus menghidupkan semangatnya.


Warisan Keilmuan yang Tak Pernah Padam

Hingga kini, nama Kiai Dhofir Munawwar masih disebut dengan hormat di berbagai pesantren di Jawa Timur dan Madura. Para santri masih tawassul menyebut namanya sebelum belajar sebagai bentuk penghormatan dan rasa cinta terhadap sanad keilmuan beliau.

Warisan beliau tidak hanya berupa ilmu, tetapi juga nilai: kesederhanaan, keikhlasan, dan cinta ilmu. Dari sikap itulah muncul generasi penerus yang menjaga api keilmuan Pesantren Sukorejo agar tetap menyala.