KH Zaini Dahlan, ulama asal Maskumambang, Gresik, berperan besar menanamkan benih Nahdlatul Ulama di Kencong sejak 1930-an. Ia berdakwah sambil berdagang tembakau, memperluas jaringan, dan membangun basis sosial keagamaan yang kokoh di wilayah itu.
Awal Berdirinya NU di Kencong
NU MEDIA JATI AGUNG, – Kencong termasuk kota kecamatan yang secara struktural dalam Nahdlatul Ulama (NU) biasanya berstatus Majelis Wakil Cabang (MWC). Namun, masyarakat Kencong mampu melampaui status tersebut sejak dini. Mereka sudah membentuk Cabang NU pada tahun 1938.
Awalnya, organisasi NU di Kencong hanya berbentuk Ranting atau Kring. Selanjutnya, perkembangan pesat membuatnya naik menjadi Centraal Kring, yang setara dengan MWC. Akhirnya, struktur tersebut berkembang menjadi Consul atau Cabang NU.
KH Ahmad Dahlan Achyad dari Surabaya, seorang Rais Syuriyah pada masa Hofdbestuur NU generasi awal, meresmikan pendirian tersebut. Langkah ini menandai tonggak penting dalam sejarah penyebaran NU di kawasan selatan Kabupaten Jember.
Peran Sentral KH Zaini Dahlan
KH Zaini Dahlan, yang akrab disapa Kiai Zen, menjadi figur utama di balik berdirinya NU di Kencong. Ia berasal dari Maskumambang, Gresik, dan dikenal sebagai pedagang tembakau yang giat. Dalam setiap perjalanan bisnisnya mencari tembakau terbaik, ia juga berdakwah kepada masyarakat.
Kiai Zen menggunakan aktivitas dagangnya sebagai sarana memperkenalkan ajaran dan nilai-nilai Nahdlatul Ulama. Ia rutin mengadakan pengajian keliling di berbagai desa. Dari sana, masyarakat mulai mengenal dan menerima ajaran Ahlussunah wal Jamaah.
Kegiatan dakwah tersebut berkembang cepat pada awal 1930-an. Dalam waktu singkat, NU tumbuh kuat di Kawedanan Kencong. Perpaduan antara perdagangan, dakwah, dan jaringan sosial membuat pergerakan ini berakar dalam kehidupan masyarakat.
Kencong sebagai Kota Pergerakan dan Pendidikan
Pada masa itu, Kencong tidak hanya menjadi pusat pertumbuhan NU. Beragam organisasi lain juga bergerak aktif di wilayah ini. Muhammadiyah, PSII, dan PBI turut meramaikan kegiatan sosial, politik, dan pendidikan.
Masing-masing organisasi berlomba mendirikan madrasah dan sekolah dasar. Persaingan itu justru memperkaya semangat keagamaan dan mempercepat perkembangan literasi masyarakat. Karena itu, banyak kalangan menyebut Kencong sebagai kota pergerakan dan kota industri pada era 1930-an.
Aktivitas tersebut mencerminkan dinamika sosial yang hidup. Warga tidak hanya berjuang dalam bidang spiritual, tetapi juga berperan dalam pembangunan ekonomi dan pendidikan. Dengan demikian, Kencong tumbuh sebagai wilayah yang progresif dan terbuka terhadap gagasan keislaman modern.
Jiwa Perjuangan dan Keteladanan Kiai Zen
Kiai Zen dikenal sebagai sosok lincah dan solider. Ia memiliki jiwa perjuangan tinggi serta semangat sosial yang kuat. Selain berdakwah, ia menjalin persahabatan dengan tokoh-tokoh pergerakan lokal.
Salah satu sahabat dekatnya ialah Pak Thohir, seorang tokoh yang memahami hukum Islam dan hukum Belanda. Ketika Pabrik Gula Goenoengsari Kencong memutuskan kontrak sewa tanah secara sepihak, Pak Thohir memperjuangkan hak rakyat hingga ke tingkat gubernuran.
Perjuangan itu bahkan melibatkan Gubernur Jawa Timur, Charles Van Der Plas. Berkat keteguhan mereka, para petani akhirnya memenangkan kasus tersebut. Kejadian ini memperlihatkan keberanian dan solidaritas sosial yang tumbuh di kalangan ulama dan masyarakat Kencong.
Peran Kiai Zen di Dunia Politik dan Dakwah
Setelah masa perjuangan fisik, Kiai Zen terus mengabdi untuk umat. Ia ikut berjuang dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan, kemudian aktif dalam politik kebangsaan.
Pada dekade 1950-an, ia menjabat sebagai wakil Nahdlatul Ulama di DPRD Jember. Kiprahnya di lembaga legislatif memperkuat posisi NU sebagai organisasi yang tidak hanya religius, tetapi juga berperan dalam kebijakan publik.
Peran keluarga Kiai Zen pun berlanjut. Salah satu anaknya, G. Dwipayana, menjadi tokoh perfilman nasional. Ia dikenal sebagai produser film legendaris Pengkhianatan G-30-S/PKI, sekaligus pencetus serial Si Unyil dan program Aku Cinta Indonesia (ACI).
Kisah keluarga ini mencerminkan bahwa perjuangan Kiai Zen tidak berhenti pada dakwah, tetapi juga merambah ke ranah kebudayaan dan pendidikan nasional.
Kepemimpinan Kolektif NU Kencong
Di bawah kepemimpinan Kiai Zen bersama KH Djauhari Zawawi, KH Syarif, KH Syafawi Ahmad Basyir, dan KH Kholiq, NU Kencong berkembang pesat pada dekade 1950-an. Organisasi ini aktif membina jamaah, mengelola pendidikan, dan memperkuat solidaritas sosial.
Menurut catatan KH Abdul Chayyi, terdapat tiga alasan utama berdirinya NU Kencong:
- Tumbuhnya semangat organisasi dari kalangan Ahlussunah wal Jamaah.
- Dorongan berkompetisi dalam fastabiqul khairat.
- Kebutuhan rakyat akan pendamping dalam perjuangan politik dan sosial.
Catatan tersebut menggambarkan semangat awal NU di Kencong yang tidak hanya bergerak di bidang keagamaan, tetapi juga menjadi wadah perjuangan rakyat.
NU Kencong sebagai Gerakan Sosial dan Keagamaan
Pendirian NU Kencong bukan semata respon terhadap situasi keagamaan, melainkan juga bentuk kesadaran sosial. Masyarakat membutuhkan lembaga yang mampu melindungi dan membimbing mereka dalam menghadapi perubahan sosial dan ekonomi.
Dengan semangat fastabiqul khairat, warga Kencong menjadikan NU sebagai wadah perjuangan kolektif. Para ulama dan masyarakat bahu-membahu menjaga nilai-nilai Islam Ahlussunah wal Jamaah serta memperjuangkan kesejahteraan umat.
Perpaduan antara dakwah, pendidikan, dan perjuangan sosial menjadikan NU Kencong sebagai contoh nyata organisasi keagamaan yang progresif. Hingga kini, nilai perjuangan itu terus hidup di tengah masyarakat.
Wallahu A’lam Bisshawab.


