NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

KH Abdullah Sajjad: Syahid Madura yang Gugur Demi Kemerdekaan dan Kejujuran Hati

KH Abdullah Sajjad dari Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, dikenal sebagai pejuang tangguh yang gugur dengan sujud terakhir. Beliau memimpin laskar rakyat Madura melawan Belanda dan menolak tunduk pada penjajahan, meski harus kehilangan nyawa demi kemerdekaan dan kejujuran hati.


Jejak Awal Penelusuran Kisah KH Abdullah Sajjad

Sekitar tahun 2003, Pondok Pesantren Annuqayah Latee Guluk-Guluk, Sumenep, mengadakan temu alumni pertama. Panitia menyiapkan beragam kegiatan penting, termasuk penerbitan buku Jejak Masyayikh Annuqayah.

Untuk menyusun buku itu, panitia membentuk tim penelusur sejarah para masyayikh dari berbagai daerah seperti Karduluk, Kemisan, dan Kalabaan. Penelusuran tersebut bertujuan menggali kembali nilai perjuangan dan spiritualitas para pendiri pesantren. Saya menjadi bagian dari tim yang menelusuri kisah hidup dan perjuangan KH Abdullah Sajjad, seorang ulama yang namanya harum di tanah Madura karena keberanian dan keikhlasannya.

Tim memulai riset dengan mengunjungi berbagai daerah dan mewawancarai saksi sejarah. Melalui proses panjang ini, kisah heroik Kiai Sajjad muncul sebagai cermin kejujuran, keberanian, dan pengorbanan seorang ulama yang mencintai tanah air.


Kiai Rahman, Saksi Hidup Perjuangan

Penelusuran membawa saya ke daerah Guluk Manjung, Kapedi. Di sana, saya bertemu dengan seorang saksi hidup bernama H. Abdurrahman, yang dikenal masyarakat sebagai β€œKiai Rahman.” Beliau berperawakan tinggi, berkulit kuning, dan sedikit bungkuk karena usia lanjut. Meski demikian, tubuhnya masih bugar. Wajahnya tampak teduh, sementara bibirnya selalu bergerak berdzikir. Saat wawancara dilakukan, usianya mencapai 113 tahun.

Kiai Rahman menceritakan banyak hal tentang masa perjuangan. Ia pernah menikah lebih dari sepuluh kali dan dikenal sebagai sosok pengembara. Setelah Agresi Militer Belanda tahun 1947, ia merantau ke Jawa dan Kalimantan. Di setiap tempat yang disinggahi, ia membangun masjid dan mengajarkan agama kepada masyarakat setempat.

Menurut keluarganya, bahkan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengunjungi beliau menjelang tahun 1998. Kisah itu memperlihatkan betapa luas pengaruh dan penghormatan terhadap sosok Kiai Rahman yang menjadi saksi sejarah perjuangan KH Abdullah Sajjad.


Belanda Menyerbu Annuqayah

Dalam wawancara, Kiai Rahman mengenang masa ketika Belanda menyerbu Annuqayah. Saat itu, KH Abdullah Sajjad memimpin Laskar Sabil dan memerintahkan seluruh santri serta warga untuk mengosongkan pesantren. Namun, KH Ilyas β€” salah satu kiai Annuqayah β€” memilih bertahan bersama santri-santrinya.

Belanda kemudian datang menggeledah pesantren, tetapi tidak menemukan siapa pun. Padahal, Kiai Ilyas dan para santri sebenarnya sedang berada di masjid dan mengaji dengan tenang. β€œItu karomah Kiai Ilyas,” tutur Kiai Rahman.

Peristiwa itu menunjukkan bagaimana keteguhan spiritual para kiai menjadi tameng dalam menghadapi kekuatan kolonial. Keteguhan hati dan keikhlasan mereka menjadi pondasi moral perjuangan rakyat Madura.


Kiai Sajjad dan Kidung Perjuangan

KH Abdullah Sajjad bin KH Muhammad Syarqawi al-Kudusi dikenal gagah dan pemberani. Ia menjadi tokoh utama perlawanan rakyat Madura terhadap Belanda. Selain berjuang di medan tempur, beliau tetap mengajar tauhid dan menyebarkan semangat melalui syair-syair berbahasa Madura yang berisi pujian kepada Nabi.

Kiai Sajjad mencipta syair perjuangan bernuansa religius yang kemudian dikenal sebagai Kidung Kiai Sajjad. Syair ini membangkitkan semangat pasukan rakyat untuk terus berjuang melawan penjajahan.

Para santri dan pejuang menjadikan kidung tersebut sebagai pengobar semangat jihad. Dalam setiap baitnya, tersirat pesan bahwa perjuangan melawan penjajahan sama dengan menegakkan keadilan dan kejujuran hati di jalan Allah.


Pengkhianatan dan Penangkapan

Meskipun Belanda mulai terdesak, mereka belum menyerah. Mereka menyusun siasat dengan mengirimkan surat palsu berisi ajakan damai agar Kiai Sajjad pulang ke Annuqayah. Surat itu ternyata hasil rekayasa seorang pengkhianat pribumi.

Karena rindu pada pesantrennya, Kiai Sajjad pulang tanpa curiga. Begitu kedatangannya diketahui, pasukan Belanda langsung bergerak. Mereka menangkap beliau di Latee dan membawanya ke Kemisan, lokasi yang kini menjadi kantor kecamatan.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa perjuangan ulama tidak hanya menghadapi penjajah asing, tetapi juga pengkhianatan dari bangsanya sendiri. Namun, Kiai Sajjad tidak menaruh dendam. Ia menerima ujian itu dengan ketenangan dan keteguhan iman.


Darah Syuhada di Kemisan

Di Kemisan, Belanda berusaha membujuk Kiai Sajjad agar tunduk dan bersedia menjadi kepala desa. Namun, beliau menolak dengan tegas. Ketika ancaman gagal melunakkan hatinya, mereka memutuskan mengeksekusi beliau.

Sebelum dieksekusi, Kiai Sajjad mengajukan dua permintaan. Pertama, setelah eksekusi, Belanda harus meninggalkan Guluk-Guluk. Kedua, beliau meminta izin untuk menunaikan shalat terlebih dahulu.

Beliau shalat berulang kali dengan khusyuk hingga membuat tentara Belanda kehilangan kesabaran. Tiga peluru akhirnya menembus dadanya saat beliau sedang sujud. Tubuhnya tersungkur menghadap Ilahi dalam posisi sujud β€” syahid di jalan Allah.

Peristiwa itu menjadi simbol keteguhan iman dan keberanian. Ia tidak menyerah pada bujuk rayu maupun ancaman. Ia memilih jalan suci kemerdekaan dan kejujuran hati.


Pemakaman dan Warisan Perjuangan

Setelah penembakan, tentara Belanda membuang jasad beliau ke pojok lapangan Kemisan. Namun, warga bersama keluarganya diam-diam mengambil jenazah untuk dimakamkan di kompleks Pesantren Annuqayah.

Darahnya berbau harum, dan jasadnya dishalati oleh KH Ilyas di Masjid Annuqayah sebelum dimakamkan di sisi selatan pesantren. Peristiwa itu menjadi bukti cinta masyarakat kepada ulama yang rela mati demi kebenaran.

Pengorbanan KH Abdullah Sajjad tidak berhenti pada kematiannya. Warisan moral dan spiritual beliau terus hidup di hati para santri. Kini, Pesantren Annuqayah berkembang pesat menjadi salah satu pesantren terbesar di Madura. Ribuan santri belajar setiap hari dengan semangat kejujuran dan keberanian yang diwariskan oleh Sang Syahid.

Perjuangan beliau mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak hanya berarti bebas dari penjajah, tetapi juga bebas dari ketidakjujuran, ketakutan, dan kebodohan. KH Abdullah Sajjad meninggalkan teladan abadi tentang makna sejati jihad β€” membela kebenaran dengan hati yang jujur dan iman yang teguh.


Warisan Nilai untuk Generasi Muda

Generasi muda Madura dapat meneladani perjuangan KH Abdullah Sajjad dengan menegakkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan semangat belajar. Pesantren Annuqayah kini menjadi pusat pendidikan Islam yang menanamkan nilai tersebut kepada para santri.

Kisah beliau mengingatkan bahwa perjuangan tidak selalu dalam bentuk peperangan. Dalam konteks sekarang, perjuangan berarti menjaga integritas, menegakkan kebenaran, dan menolak segala bentuk ketidakadilan.