Kader NU Menghadapi Tantangan Memasuki Abad Kedua
Lampung Selatan, NU Media Jati Agung — Kader NU menghadapi tantangan baru saat Nahdlatul Ulama memasuki abad kedua. Katib Syuriah MWCNU Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Ustadz Mas’ud Fauzi atau Kyai Mas’ud, menilai kaderisasi NU perlu memperkuat tradisi keilmuan dan tidak berhenti pada keterlibatan administratif dalam organisasi.
Pandangan tersebut Kyai Mas’ud sampaikan dalam wawancara bersama NU Media Jati Agung saat membahas harapan terhadap Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, sekaligus arah NU dalam memasuki abad kedua.
Kyai Mas’ud Soroti Pergeseran Tradisi Keilmuan
Kyai Mas’ud menilai NU perlu menjaga hubungan kader dengan tradisi pendidikan pesantren.
Menurutnya, status kader dalam organisasi perlu berjalan bersama penguatan pemahaman keagamaan.
“Kiyai-kiyai NU saat ini saya melihat, sudah bergeser dengan pondok pesantren, makanya banyak kader NU saat ini hanya sah secara administrasi saja, tapi secara keilmuan sudah mulai bergeser, nilai-nilai inilah yang harus kita jaga,” ujar Kyai Mas’ud, Selasa (18/8/2026).
Karena itu, ia mendorong NU memperkuat pembelajaran yang lebih terarah, terutama melalui kajian kitab-kitab Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
Kader NU Didorong Perkuat Kajian Kitab Aswaja
Lebih lanjut, Kyai Mas’ud menyebut sejumlah kitab yang menurutnya dapat mendukung penguatan pendidikan kader NU.
Kitab tersebut antara lain Ta’limul Muta’allim, Kifayatul Awam, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, serta berbagai kitab Aswaja lainnya.
“Menurut saya kiyai-kiyai NU saat ini perlu mengubah metode pembelajaran dengan mengedepankan ngaji kitab-kitab Ahlussunah wal-Jama’ah, seperti Ta’limul Muta’alim, Kifayatul Awam, Fathul Qorib bahkan Fathul Mu’in dan kitab-kitab Aswaja lainnya. Tidak hanya sekedar pengajian kumpul-kumpul tapi serapan materi sangat nihil,” katanya.
Menurutnya, penguatan tradisi keilmuan dapat membantu kader memahami nilai-nilai Aswaja sekaligus meneruskannya di tengah perubahan zaman.
Muktamar Ke-35 NU Diharapkan Perkuat Khidmah
Terkait Muktamar Ke-35 NU, MWCNU Kecamatan Rajabasa telah menggelar rapat koordinasi internal untuk membahas agenda tersebut.
Karena jarak tempuh menuju Jombang cukup jauh, pengurus MWCNU Rajabasa memutuskan menggelar doa bersama atau istighotsah bersama jamaah.
Sementara itu, beberapa pengurus tetap akan hadir sebagai muhibin bersama gabungan MWCNU se-Lampung Selatan.
“Kami mengadakan rapat koordinasi internal di kalangan pengurus MWCNU Kecamatan Rajabasa terkait agenda Muktamar NU ke-35. Mengingat jarak tempuh yang sangat jauh ke lokasi muktamar, kami memutuskan untuk mengadakan doa bersama (istighotsah) bersama jamaah, meskipun ada beberapa pengurus yang ikut hadir sebagai muhibin ke lokasi muktamar, bersama gabungan MWCNU di Lampung Selatan,” jelasnya.
Kyai Mas’ud berharap siapa pun yang terpilih memimpin PBNU nantinya dapat menjalankan program ke-NU-an secara baik dan membangun kepengurusan yang ramah serta bijaksana.
“Kami berharap siapapun yang terpilih sebagai ketua PBNU, agar bersikap KOHEREN dalam menjalankan program ke NU-an, demi terwujudnya kepengurusan NU yang ramah dan bijaksana,” ujarnya.
NU Rajabasa Dorong Kemandirian Ekonomi Warga
Selain kaderisasi, Kyai Mas’ud menilai NU perlu memperkuat peran dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kecamatan Rajabasa memiliki potensi pertanian, peternakan, perkebunan, serta hasil laut yang dapat masyarakat kembangkan.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, NU Rajabasa berencana membentuk lembaga yang dapat melakukan pendampingan kepada masyarakat.
Lembaga tersebut juga dapat membuka peluang kerja sama dengan kementerian terkait maupun pihak swasta.
“Melihat potensi di Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan, pertanian, peternakan dan perkebunan, kami rasa NU di Kecamatan Rajabasa perlu dan insya Allah akan membuat suatu lembaga (LPPNU) untuk melakukan pendampingan serta bekerja sama dengan kementerian terkait ataupun swasta,” ungkapnya.
Potensi Gunung dan Laut Perlu Diberi Nilai Tambah
Alumni Ponpes Tahfidzul Quran, Kebon Jeruk, Menes Pandenglang Banten ini juga melihat posisi geografis Rajabasa sebagai modal penting untuk mengembangkan ekonomi masyarakat.
Kecamatan Rajabasa berada di antara Gunung Rajabasa dan Laut Selat Sunda sehingga memiliki potensi hasil perkebunan dan perikanan.
Menurutnya, masyarakat perlu mengolah hasil produksi lokal menjadi produk bernilai tambah agar tidak selalu menjual hasil pertanian, perkebunan, dan laut dalam bentuk mentah.
“Kecamatan Rajabasa yang berlokasi di antara Gunung Rajabasa dan Laut Selat Sunda, untuk memudahkan masyarakat dalam mengelola dan menjual hasil kebun dan laut, NU harus hadir dalam ranah tersebut, membuka peluang-peluang UMKM baru agar warga tidak menjual semua hasil kebunnya dalam bentuk mentah,” katanya.
Dengan pengolahan tersebut, masyarakat dapat membuka peluang UMKM sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari potensi lokal.
Kesinambungan Organisasi NU Harus Sampai Ranting
Pihaknya juga menekankan pentingnya kesinambungan organisasi mulai dari PBNU, PWNU, PCNU, MWCNU hingga ranting.
Menurutnya, hubungan antartingkatan organisasi perlu berjalan kuat agar program strategis NU dapat diterjemahkan dan dirasakan masyarakat di tingkat akar rumput.
“Karena hanya dengan menjaga kesinambungan antara PBNU hingga ranting NU, kita dapat menyalurkan program kerja strategis pusat agar sampai secara nyata kepada warga di akar rumput. Tanpa hubungan yang kuat, arahan organisasi bisa putus di tengah jalan dan tidak dirasakan langsung oleh umat,” tuturnya.
Selain kesinambungan organisasi, ia mendorong kader di tingkat bawah untuk mengembangkan kreativitas sesuai potensi wilayah masing-masing.
Kader NU Diminta Tidak Hanya Menunggu Program Pusat
Menutup wawancara, Kyai Mas’ud berpesan agar kader NU di Kecamatan Rajabasa tidak hanya menunggu program dari tingkat pusat.
Ia mendorong kader membaca potensi lingkungan masing-masing dan menerjemahkannya menjadi kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Saya berpesan semua kader di Kecamatan Rajabasa harus kedepannya dapat kooperatif dengan aturan organisasi dan tidak hanya menunggu program dari pusat, tapi harus berfikir kreatif dan positif dalam ber-NU, agar titah organisasi bisa berjalan dengan baik dan benar,” pungkasnya.
Memasuki abad kedua NU, Kyai Mas’ud menilai kader NU tidak cukup hanya aktif secara administratif.
Ia mendorong kader memperkuat keilmuan, kepedulian sosial, kesinambungan organisasi, serta kemandirian ekonomi masyarakat.
Muktamar Ke-35 NU pun ia harapkan dapat menjadi momentum untuk memperkuat arah khidmah tersebut, sehingga NU tidak hanya kuat dalam struktur organisasi, tetapi juga hadir secara nyata di tengah masyarakat. (ARIF)

