NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Hujan Tak Surutkan Kekhusyukan Istighotsah Kubro Jati Sari

Istighotsah Kubro Rutin Tahunan Warga Nahdliyin Jati Sari

Lampung Selatan, NU Media Jati Agung– Istighotsah Kubro dan Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H/2025 kembali menjadi ruang doa dan kebersamaan warga Nahdliyin Dusun Jati Sari, Desa Jatimulyo, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan.

Kegiatan ini berlangsung khidmat pada Rabu malam (31/12/2025), meskipun hujan deras sempat mengguyur lokasi acara pada awal hingga pertengahan rangkaian kegiatan.

Tradisi Tahunan yang Terus Dijaga

Setiap tahun, masyarakat Dusun Jati Sari secara konsisten menggelar istighotsah sebagai agenda keagamaan rutin.

Melalui tradisi ini, masyarakat menjadikan istighotsah sebagai sarana doa bersama sekaligus momentum refleksi spiritual menjelang pergantian tahun.

Oleh karena itu, hujan deras tidak menyurutkan semangat jamaah untuk tetap hadir dan bermunajat bersama.

Ulama dan Tokoh Masyarakat Hadir Membersamai

Sejumlah tokoh ulama dan masyarakat setempat menghadiri kegiatan istighotsah tersebut.

Tampak hadir Rois Syuriah PRNU Jatimulyo Abah Yai Zainal, Ketua Tanfidziyah PRNU Jatimulyo Ustadz Nurrohman, Kyai Ahmad Mubaroq, Kepala Dusun Jati Sari Suminta, serta para ustadz dan tokoh masyarakat, di antaranya Ustadz Nasikin, Ustadz Rohmadi, Pengasuh Majelis Sholawat Nariyah Mas Andri Supriyadi, Muslimat NU setempat, ketua RT, dan tokoh pemuda.

Rangkaian Acara Diawali Nuansa Kebangsaan

Sebelum memasuki inti istighotsah, panitia mengawali acara dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Mars Syubbanul Wathon.

Foto Ahmad Royani: Muslimat NU Jatimulyo, tetap semangat dalam rangkaian Istighotsah Kubro, meski hujan deras mengguyur lokasi. 

Setelah itu, Abah Yai Ahmad Mubaroq memimpin istighotsah, kemudian Abah Yai Zainal menyampaikan mauidzah hasanah kepada jamaah.

Jamaah Tetap Khusyuk di Tengah Hujan

Sejak awal hingga pertengahan acara, hujan turun dengan intensitas tinggi. Meski demikian, jamaah tetap bertahan dan mengikuti rangkaian istighotsah secara tertib dan penuh ketenangan.

Sikap tersebut menunjukkan kekhusyukan jamaah dalam bermunajat dan memohon pertolongan kepada Allah SWT.

Ketua Panitia Maknai Hujan Sebagai Keberkahan

Ketua Panitia, Ustadz Rohmadi, memaknai hujan yang turun sebagai tanda keberkahan dalam pelaksanaan istighotsah.

“Sejak dahulu, saat kita menanam atau tandur, yang kita harapkan adalah turunnya hujan. Alhamdulillah, pada malam hari ini hujan benar-benar turun. Mudah-mudahan semua ini menjadi tanda keberkahan bagi kita semua,” ujarnya.

Selain itu, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat atas kontribusi yang diberikan.

“Ribuan terima kasih kami sampaikan kepada seluruh masyarakat Jati Sari atas dukungan yang diberikan, baik berupa tenaga, pikiran, materi, maupun doa,”ungkapnya.

Alhamdulillah, berkat kebersamaan tersebut kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik,” tambahnya.

Kepala Dusun Tegaskan Istighotsah Agenda Rutin

Sementara itu, Kepala Dusun Jati Sari, Suminta, mengungkapkan rasa syukur karena masyarakat rutin menggelar istighotsah setiap tahun.

“Alhamdulillah, kegiatan rutin Istighotsah Kubro dapat kita laksanakan dengan baik, baik dalam penanggalan Hijriah maupun Masehi,” katanya.

Ia berharap Allah SWT meridhoi seluruh doa jamaah.

“Semoga segala niat dan hajat yang kita panjatkan dikabulkan oleh Allah SWT. Mudah-mudahan menjelang tahun 2026, kita semua menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan tahun 2025,” tuturnya.

Tausiyah Tentang Hakikat Istighotsah

Sebelum memimpin istighotsah, Abah Yai Ahmad Mubaroq menyampaikan tausiyah mengenai makna istighotsah sebagai bentuk permohonan pertolongan kepada Allah SWT.

“Istighotsah itu minta tolong atau berdoa, ndungo marang Allah SWT,” ujar Abah Yai Ahmad Mubaroq.

Ia menjelaskan bahwa jamaah yang memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh akan memperoleh pertolongan Allah SWT.

Foto Rio Saputra: Abah Yai Ahmad Mubaroq (Paling Kanan) saat mengimami Istighotsah Kubro di Dusun Jati Sari, Desa Jatimulyo, Kecamatan Jati Agung, Rabu (31/12/2025). 

“Apabila seseorang benar-benar meminta pertolongan kepada Allah dan Allah mengabulkan permohonannya, maka secara teknis Allah akan mengutus seribu malaikat untuk merealisasikan doa tersebut,” jelasnya.

Menurutnya, hujan deras bukan penghalang terkabulnya doa.

“Perlu atau tidak perlu, yakin atau belum yakin, meskipun malam ini kita diguyur hujan sangat deras, Allah tetap akan menurunkan seribu malaikat untuk mengabulkan doa-doa kita,” tegasnya.

Ia pun mengajak jamaah menata hati dan memohon kepada Allah SWT dengan penuh kesungguhan.

“Marilah kita menata hati dengan sebaik-baiknya, memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT untuk perjalanan hidup kita di tahun 2026 ke depan, hingga kelak Allah mencabut nyawa kita,” pungkasnya.

Doa Ditutup dengan Mahallul Qiyam

Sejak awal kegiatan, hujan deras sempat mengguyur lokasi acara dan perlahan reda saat Abah Yai Zainal menyampaikan tausiyah.

Setelah itu, jamaah mengikuti rangkaian akhir istighotsah tahunan secara tertib dan khidmat.

Panitia menutup acara dengan pembacaan Mahallul Qiyam, sementara jamaah mengikutinya dengan penuh kekhusyukan sebagai penutup doa dan harapan akan keberkahan serta kebaikan di masa mendatang. (ARIF)