IHSG dan Rupiah Menguat Berkat Sentimen Positif Pasar
Jakarta, NU Media Jati Agung ā IHSG dan rupiah menguat pada penutupan perdagangan Kamis (16/7/2026), meski ketegangan geopolitik global masih berlangsung.
Penguatan pasar keuangan Indonesia didorong oleh sentimen positif dari dalam maupun luar negeri, terutama pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan meredanya tekanan inflasi di Negeri Paman Sam.

Berdasarkan data perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 66,24 poin atau 1,10 persen ke level 6.108,21. Sementara itu, nilai tukar rupiah menguat 0,44 persen ke posisi Rp17.980 per dolar AS, sekaligus kembali berada di bawah level psikologis Rp18.000.
Penguatan tersebut menunjukkan kepercayaan investor terhadap pasar domestik masih terjaga, walaupun konflik geopolitik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Saham Perbankan Jadi Penopang IHSG
Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi pendorong utama kenaikan IHSG.
Di antaranya adalah saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bank Mandiri (BMRI), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI).

Namun demikian, saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) sempat menekan pergerakan indeks setelah mengalami koreksi pada awal perdagangan.
Meski begitu, pelemahan tersebut berhasil berkurang menjelang penutupan sehingga dampaknya terhadap IHSG menjadi lebih kecil.

Di sisi lain, investor asing masih membukukan aksi jual bersih di pasar reguler.
Akan tetapi, transaksi bernilai besar di pasar negosiasi membuat nilai investasi asing secara keseluruhan tetap mencatat pembelian bersih sekitar Rp1 triliun.

Rupiah Menguat karena Dolar AS Melemah
Selain IHSG, rupiah juga mencatat penguatan selama tiga hari perdagangan berturut-turut. Kondisi tersebut dipengaruhi pelemahan dolar AS setelah pemerintah Amerika Serikat merilis data Producer Price Index (PPI) yang lebih rendah dari perkiraan.
Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) belum akan terburu-buru menaikkan suku bunga acuan.
Akibatnya, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menjadi lebih ringan.
Selama perdagangan, rupiah bergerak pada kisaran Rp17.970 hingga Rp18.070 per dolar AS.
Pasar Obligasi Masih Mengalami Tekanan
Sementara itu, pasar obligasi menunjukkan pergerakan berbeda. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik tipis menjadi 7,237 persen dari sebelumnya 7,236 persen.
Kenaikan imbal hasil tersebut mengindikasikan sebagian investor melakukan aksi jual obligasi sehingga harga SBN mengalami penurunan.
Investor Tetap Waspadai Sentimen Global
Meskipun pasar keuangan Indonesia menunjukkan kinerja positif, pelaku pasar masih mencermati sejumlah faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi perdagangan.
Beberapa sentimen yang menjadi perhatian meliputi perkembangan konflik geopolitik dunia, data penjualan ritel Amerika Serikat, inflasi kawasan Eropa, serta dinamika pasar global menjelang akhir pekan.
Fakta Singkat
IHSG naik 1,10 persen ke level 6.108,21.
Rupiah menguat ke Rp17.980 per dolar AS.
Penguatan rupiah berlangsung selama tiga hari berturut-turut.
Investor asing mencatat net buy sekitar Rp1 triliun.
Pelemahan dolar AS dipicu data inflasi produsen yang lebih rendah dari perkiraan.
Pasar tetap mewaspadai perkembangan konflik global dan kebijakan suku bunga AS. (Erwin Indra Saputra)

