NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Dua Generasi Ulama Lamongan: Jejak Dakwah KH Nur Salim dan Putranya, KH Abdul Kholiq Afan

Kisah KH Abdul Kholiq Afandi bermula dari ketekunan ayahandanya, KH Nur Salim, santri Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari asal Lamongan. Dari keluarga sederhana ini tumbuh semangat dakwah dan pendidikan Islam yang kemudian melahirkan Pondok Pesantren Nurus Siroj.


Awal Perjalanan Dakwah KH Nur Salim

Pada masa kepemimpinan Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari, banyak santri beliau yang tumbuh menjadi ulama berpengaruh. Salah satunya KH Nur Salim, santri asal Desa Tritunggal, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Ia menuntut ilmu di Pesantren Tebuireng, Jombang, dengan ketekunan luar biasa.

Bahkan, ketika istrinya melahirkan, KH Nur Salim tetap berada di Tebuireng demi mengikuti pengajian KH Hasyim Asy’ari. Peristiwa itu terjadi pada Jumat Legi, 18 Syawal 1355 H (1 Januari 1937 M). Saat itu, istrinya melahirkan seorang putra yang kemudian diberi nama Abdul Kholiq, sebagai bentuk tafa’ul dan tabarruk terhadap nama putra KH Hasyim Asy’ari.

KH Nur Salim, yang dikenal masyarakat dengan sapaan Soko, menikah dengan Kasiyat, putri dari H. Siroj (Kamso). Ketulusan dan kealiman Nur Salim membuat H. Siroj terkesan, hingga akhirnya menikahkan putrinya dengan sang santri. Selain itu, H. Siroj juga memberi dukungan moral dan material bagi perjuangan menantunya.


Kehidupan Keluarga dan Dakwah Sederhana

Dari pernikahan itu, pasangan ini dikaruniai sebelas anak. Salah satunya ialah KH Abdul Kholiq, yang kelak menjadi tokoh penting Nahdlatul Ulama (NU) di Lamongan. Ia pernah menjabat sebagai Rais Majelis Wakil Cabang NU Babat (1985), Rais PCNU Lamongan, serta Ketua PC RMI NU Lamongan.

Walaupun banyak santri KH Hasyim Asy’ari memilih mendirikan pesantren besar, KH Nur Salim menempuh jalan berbeda. Ia berdakwah dengan cara sederhana, membangun mushala, dan mengajar ngaji masyarakat sekitar dengan penuh kesabaran. Ia wafat pada 9 Ramadhan 1386 H (22 Desember 1966 M).

Kesederhanaan dan kerendahan hati itulah yang diwarisi oleh putranya, KH Abdul Kholiq. Namun, semangat dakwahnya justru tumbuh semakin kuat karena dorongan dari beberapa ulama besar seperti KH Ahmad Marzuqi Zahid dan KH Abdullah Faqih dari Langitan.


Dorongan dan Awal Berdirinya Pesantren

Setelah mendapatkan restu dari para kiai serta bantuan modal, KH Abdul Kholiq bertekad mendirikan lembaga pendidikan Islam. Akhirnya, pada 1 Rabiul Awwal 1406 H (14 November 1985 M), ia meresmikan Pondok Pesantren Nurus Siroj di Tritunggal, Babat, Lamongan.

Nama “Nurus Siroj” berasal dari dua sosok penting dalam keluarganya, yakni Nur dari KH Nur Salim dan Siroj dari H. Siroj. Melalui pesantren ini, KH Abdul Kholiq berupaya menyinari masyarakat dengan ilmu agama dan akhlak mulia. Seiring waktu, pesantren tersebut berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan banyak santri berkarakter.


Semangat Menuntut Ilmu dan Keteguhan Jiwa

Sejak muda, KH Abdul Kholiq dikenal disiplin dan berjiwa pemimpin. Pada awal 1950-an, ia belajar di Pesantren Langitan, Tuban, kemudian melanjutkan pendidikannya ke Pesantren KH Masduqi Lasem, Rembang (1954).

Di sana, ia mempelajari berbagai kitab klasik seperti Jami’ul Jawami, Asybah wan Nadzair, dan Fathul Wahhab. Selain memperdalam ilmu fikih, ia juga menekuni dunia tasawuf dan thariqah di bawah bimbingan KH Romli At-Tamimi dari Pesantren Darul Ulum Rejoso, Jombang.

Setelah menimba ilmu di berbagai pesantren, KH Abdul Kholiq menikah dengan Siti Masruroh, perempuan asal Desa Mulyoagung, Singgahan, Tuban. Dari pernikahan itu, ia membangun keluarga ulama yang kemudian melanjutkan perjuangannya dalam bidang pendidikan dan sosial keagamaan.


Peran Sosial dan Pemberdayaan Ekonomi

Selain mengajar dan berdakwah, KH Abdul Kholiq aktif memberdayakan ekonomi masyarakat. Ia mendirikan berbagai usaha seperti toko, penggilingan padi, setrum aki, dan pabrik tahu. Melalui kegiatan itu, ia membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.

Beliau dikenal dermawan, santun, dan dekat dengan masyarakat. Banyak warga Desa Tritunggal datang untuk meminta nasihat, baik mengenai urusan agama, keluarga, maupun masalah ekonomi. Dengan demikian, ia bukan hanya menjadi guru spiritual, tetapi juga pembimbing kehidupan sosial.

Cinta mendalam terhadap tanah kelahirannya membuat beliau tidak pernah meninggalkan desa. Ia memilih mengabdi di tempat asalnya sambil menanamkan nilai keikhlasan dan kerja keras kepada santri dan masyarakat.


Perjalanan Haji dan Gelar “Afandi”

Pada tahun 1966, KH Abdul Kholiq menunaikan ibadah haji melalui perjalanan laut. Dalam pelayaran menuju Tanah Suci, ia bertemu seorang perempuan salehah bernama Syehoh Abbasiyyah.

Perempuan tersebut kemudian memberikan tambahan nama “Afandi”, yang berarti As-Sayyid atau “Tuan.” Sejak saat itu, masyarakat mengenalnya sebagai KH Abdul Kholiq Afandi. Gelar itu menjadi bentuk penghormatan atas kealiman dan ketulusannya dalam mengabdi kepada umat.

Sepulang dari Tanah Suci, KH Abdul Kholiq semakin giat mengembangkan pesantrennya. Ia mendidik para santri dengan kedisiplinan tinggi dan kasih sayang mendalam hingga banyak dari mereka menjadi tokoh agama di berbagai daerah.


Akhir Hayat dan Warisan Dakwah

KH Abdul Kholiq Afandi wafat pada Kamis Legi, 5 Shafar 1425 H (25 Maret 2004 M) di RS Islam Nasrul Ummah Lamongan. Jenazah beliau dimakamkan di sebelah timur Pondok Putra Nurus Siroj. Hingga kini, para peziarah masih berdatangan untuk berdoa dan mengenang jasanya.

Warisan spiritual dan intelektual beliau terus hidup melalui para santri dan keturunannya. Pesantren Nurus Siroj tetap berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang menanamkan nilai keikhlasan, disiplin, dan kerja keras.


Keteladanan Dua Generasi Ulama Lamongan

Kisah dua ulama asal Lamongan ini menggambarkan bahwa ilmu dan pengabdian harus berjalan beriringan. KH Nur Salim menanamkan nilai kesederhanaan dan keteguhan iman, sedangkan KH Abdul Kholiq Afandi mewujudkannya dalam bentuk pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Melalui perjuangan keduanya, masyarakat Lamongan belajar tentang arti istiqamah, keikhlasan, dan kerja keras. Mereka menunjukkan bahwa kemajuan umat tidak selalu lahir dari kemegahan, tetapi dari ketulusan hati dan keteguhan niat.