NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Digdaya NU Dorong PWNU Aceh Percepat Digitalisasi

Banda Aceh, NU Media Jati Agung – Digdaya NU menjadi program strategis Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk memperkuat tata kelola organisasi pada awal abad kedua Nahdlatul Ulama.

Wakil Ketua PBNU, H Amin Said Husni, mengajak PWNU Aceh mempercepat penerapan sistem digital agar pelayanan organisasi semakin efektif dan profesional.

Ajakan tersebut disampaikan Amin saat menghadiri pelantikan dan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) PWNU Aceh, Sabtu (27/6/2026).

Menurutnya, perubahan zaman menuntut NU menjalankan transformasi organisasi melalui tata kelola yang lebih modern.

Transformasi Organisasi Jadi Prioritas PBNU

Amin menegaskan bahwa NU harus meninggalkan pola pengelolaan konvensional.

Sebaliknya, organisasi harus mampu membaca perubahan dan menyesuaikan sistem kerja dengan perkembangan zaman.

Amin menekankan pentingnya transformasi organisasi sebagai langkah strategis menghadapi tantangan baru.

“Memasuki abad kedua, kita dihadapkan pada kebutuhan yang sangat berbeda dengan abad sebelumnya. Karena itu, Nahdlatul Ulama harus melakukan transformasi jam’iyah. Kita tidak bisa lagi mengelola organisasi secara konvensional. Kita harus cermat membaca perubahan zaman.”

Konsolidasi dan Kaderisasi Berjalan Bersama

Selanjutnya, Amin menjelaskan bahwa PBNU menjalankan dua agenda besar secara bersamaan.

Pertama, PBNU memperkuat tata kelola organisasi. Kedua, PBNU mempercepat kaderisasi berbasis sistem digital.

Ia menjelaskan bahwa kedua agenda tersebut saling melengkapi dalam memperkuat organisasi.

“Konsolidasi dilakukan melalui pembenahan tata kelola organisasi, memperkuat regulasi, serta meminimalkan berbagai persoalan internal. Di sisi lain, kaderisasi menjadi instrumen untuk merekrut sekaligus menyaring kader-kader terbaik NU.”

Digdaya NU Jadi Fondasi Digitalisasi

Amin menjelaskan bahwa PBNU meluncurkan Digdaya NU sejak Agustus 2024.

Program tersebut mengintegrasikan data kader, administrasi organisasi, layanan persuratan, dan berbagai aktivitas kelembagaan dalam satu sistem digital.

Menurutnya, digitalisasi tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi. Sebaliknya, digitalisasi menjadi dasar pengambilan kebijakan yang lebih tepat dan berbasis data.

Amin menegaskan pentingnya data yang terintegrasi.

“Ketika data Digdaya telah terpublikasi dan terdokumentasi dengan baik, maka data itu menjadi modal penting dalam pengembangan organisasi, tata kelola, hingga pemberdayaan Nahdlatul Ulama.”

Gambar Artikel

Ia menambahkan bahwa basis data yang akurat membantu organisasi menyusun program sesuai kebutuhan di lapangan.

Selain itu, sistem digital memperkuat koordinasi, meningkatkan transparansi, mempercepat pelayanan, dan memudahkan pemantauan program di seluruh tingkatan kepengurusan.

Digitalisasi Perkuat Khidmah kepada Umat

Amin menegaskan bahwa transformasi digital tetap berpijak pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

Karena itu, digitalisasi justru memperkuat pelayanan organisasi tanpa mengurangi tradisi keilmuan NU.

Amin menjelaskan bahwa teknologi harus mendukung pengabdian kepada umat.

“Teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkuat khidmah kepada umat. Nilai-nilai NU tetap dijaga, tetapi tata kelolanya harus semakin profesional, akuntabel, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.”

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan transformasi digital bergantung pada kualitas sumber daya manusia.

Oleh sebab itu, seluruh pengurus NU perlu memahami dan menerapkan sistem Digdaya dalam menjalankan organisasi.

Amin kembali menekankan pentingnya kaderisasi.

“Kaderisasi tetap menjadi tulang punggung transformasi NU. Digitalisasi adalah alat, sedangkan kader adalah penggeraknya.”

Harapan untuk PWNU Aceh dan Muktamar NU

Amin berharap PWNU Aceh menjadi salah satu wilayah yang aktif menerapkan Digdaya NU sehingga mampu memperkuat pelayanan organisasi sekaligus menjadi contoh bagi daerah lain.

Selain itu, ia mengajak seluruh jajaran NU menyambut Muktamar NU pada 1–5 Agustus 2026 dengan semangat persatuan.

Amin menyampaikan harapan bagi seluruh warga Nahdlatul Ulama.

“Mari kita sambut muktamar pertama di abad kedua Nahdlatul Ulama dengan suasana yang sejuk, muktabar, serta menjunjung tinggi adab dan akhlak NU. Semoga setiap periode menghadirkan capaian baru yang berkelanjutan bagi kemajuan jam’iyah dan kemaslahatan umat.”

(Ahmad Royani, S.H.I)