Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

01 / 01

7.000 Porsi Sehari: Cerita Dapur yang Menjaga Muktamar NU

Dapur Umum Muktamar NU dan Cerita di Balik Ribuan Porsi

Jawa Timur, NU Media Jati Agung – Di tengah ramainya arena Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, ada aktivitas yang berlangsung sejak dari dapur.

Setiap hari, para relawan menyiapkan hingga 7.000 porsi nasi gratis untuk para muhibbin yang datang dari berbagai daerah.

Dapur Umum Muktamar NU itu menjadi bagian penting dalam menopang kebutuhan konsumsi selama perhelatan berlangsung.

Dari tempat tersebut, makanan bergerak menuju para pengunjung yang mengikuti rangkaian kegiatan Muktamar.

Dari Dapur, Ribuan Porsi Disiapkan

Di dapur umum, para relawan tidak hanya memasak. Mereka mengatur bahan, memotong daging, meracik bumbu, memasak dalam kawah besar, kemudian mengemas makanan sebelum membagikannya kepada para muhibbin.

Koordinator Bidang Konsumsi, Lailatun Ni’mah atau Ning Eli, mengatakan pengelola membagi distribusi makanan menjadi dua shift.

Cara itu membantu mengatur alur pembagian sekaligus menghindari penumpukan massa.

“Pendistribusian ini dibagi dua shift, siang jam 11.00 WIB dan sore jam 17.00 WIB. Tiap shift disiapkan 3.500 bungkus,” ujar Ning Eli saat dikonfirmasi di arena Muktamar, Jumat (28/8/2026) dikutip KlikJOMBANG.com.

Dengan dua kali pembagian, dapur umum menyiapkan total 7.000 bungkus nasi dalam sehari. Para muhibbin kemudian menerima makanan secara tertib di area yang telah disiapkan.

Tujuh Ekor Sapi Mengisi Menu Dapur

Cerita dapur umum itu juga tidak lepas dari dukungan para donatur. Bahan pokok yang digunakan setiap hari berasal dari sumbangan donatur, alumni pesantren, dan wali santri di Jombang serta sekitarnya.

Dukungan tersebut membuat pengelola dapat menyajikan makanan dengan menu yang bergizi dan bervariasi. Bahkan, hidangan daging mendominasi menu yang tersaji bagi para muhibbin.

“Alhamdulillah menunya daging terus, karena kita mendapat bantuan pasokan tujuh ekor sapi dari para alumni,” terang Ning Eli.

Pasokan tujuh ekor sapi itu menjadi salah satu bentuk dukungan alumni dalam membantu memenuhi kebutuhan konsumsi selama Muktamar Ke-35 NU.

Gotong Royong di Balik Sepiring Nasi

Di balik ribuan bungkus nasi, terdapat puluhan relawan yang bekerja secara bergantian.

Mereka menjalankan berbagai tugas, mulai dari menyiapkan bahan hingga memastikan makanan sampai kepada para muhibbin.

Sejumlah Badan Otonom (Banom) NU ikut terlibat. Mereka berasal dari Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Banser, Fatayat NU, IPNU, dan IPPNU. Selain itu, personel Taruna Siaga Bencana (Tagana) juga ikut membantu.

“Para relawan membagi tugas mulai dari penyiapan bahan, pemotongan daging, meracik bumbu, memasak dalam kawah besar, hingga membungkus paket nasi,” tutur Ning Eli.

Kerja bersama itu membuat proses pengolahan dan pembagian makanan berjalan secara teratur.

Para relawan menjaga alur distribusi agar para pengunjung tidak perlu berdesakan ketika mengambil makanan.

Dapur Umum Menggerakkan UMKM Jombang

Cerita dari dapur umum tidak berhenti pada urusan makanan gratis bagi muhibbin. Pelaksanaan Muktamar juga membuka ruang bagi pelaku usaha lokal untuk ikut mengambil bagian.

Panitia melibatkan 20 UMKM untuk menyuplai kebutuhan konsumsi para Muktamirin.

Keterlibatan tersebut sekaligus memberi kesempatan kepada pelaku usaha Jombang untuk ikut menggerakkan aktivitas ekonomi selama Muktamar.

“Kita juga melibatkan 20 UMKM untuk menyuplai konsumsi para Muktamirin,” pungkas Ning Eli.

Dari Dapur, Semangat Kebersamaan Terlihat

Pada akhirnya, dapur umum menjadi salah satu gambaran kecil tentang bagaimana Muktamar Ke-35 NU berjalan di tengah keramaian Tambakberas.

Donatur menyumbangkan bahan, relawan mengolah dan membagikan makanan, sementara UMKM ikut menopang kebutuhan konsumsi peserta.

Ribuan porsi nasi yang keluar setiap hari bukan sekadar makanan. Di baliknya terdapat kerja bersama banyak orang yang memilih mengambil bagian agar para muhibbin dapat mengikuti Muktamar dengan lebih nyaman.

Dari dapur sederhana itu pula, semangat gotong royong warga Nahdliyin menemukan bentuknya: bekerja bersama, berbagi makanan, dan menjaga perhelatan besar NU dari sisi yang sering luput dari sorotan.

(Ahmad Royani, S.H.I.,)