NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

LPBI PBNU Dorong Antisipasi Warga Atasi Banjir Rob Pantura

Upaya Warga dalam Menghadapi Banjir Rob

Jakarta, NU Media Jati Agung– LPBI PBNU menegaskan pentingnya antisipasi banjir rob oleh warga pesisir Pantura Jawa karena masalah tersebut muncul terus-menerus.

Wakil Ketua LPBI PBNU, H. Maskut Candranegara menjelaskan bahwa warga tidak boleh hanya menunggu pemerintah menyelesaikan persoalan, sebab penanganan rob biasanya berjalan cukup panjang.

Peninggian Rumah Jadi Langkah Umum

H. Maskut menyebutkan bahwa cara paling umum warga yaitu dengan meninggikan lantai rumah umumnya setiap dua hingga tiga tahun.

Warga biasanya menaikkan lantai atau fondasi setinggi 10–20 cm sebagai penyesuaian terhadap kondisi genangan.

“Ada pula yang membangun sekat air atau pintu air manual, seperti water barrier di pintu rumah dan juga yang menggunakan pompa air kecil untuk membuang genangan,” ujarnya dikutip dari NU Online, Kamis (20/11/2025)

Perbaikan Saluran Air Lingkungan

Warga juga bisa memperbaiki saluran lingkungan secara mandiri agar aliran air tetap lancar. Selain itu, mereka dapat membersihkan drainase kampung secara rutin karena sampah rumah tangga sering memperparah banjir rob.

“Oleh karena itu, harus ada edukasi kepada warga untuk membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan,” ucapnya.

Lebih jauh, warga harus membuat sodetan kecil untuk mengarahkan air menuju area yang lebih rendah. Cara sederhana ini tetap bekerja efektif dalam mengurangi genangan.

Rob Tidak Bisa Hilang Total

Selain itu, H. Maskut menegaskan bahwa rob tidak akan hilang secara total, tetapi masyarakat tetap mampu meminimalkan dampaknya.

Foto Ist: Wakil Ketua LPBI PBNU, H. Maskut Chandranegara.

“Intinya yang bisa saya sampaikan adalah, masalah rob tidak bisa dihilangkan total. Tetapi, bisa diminimalkan sampai masyarakat bisa hidup layak tanpa harus terendam terus-menerus,” tutur H. Maskut.

Penyebab dan Langkah Mitigasi Jangka Panjang

Banjir rob di Pantura muncul akibat gabungan beberapa faktor, seperti penurunan muka tanah, kerusakan ekosistem pantai, penataan ruang yang kurang tepat, serta perubahan iklim.

Infrastruktur dan Mangrove untuk Mitigasi

Lebih lanjut, H. Maskut mendorong warga melakukan mitigasi jangka panjang dengan meninggikan bangunan rumah, menata ulang drainase, dan ikut menanam mangrove.

“Upaya-upaya ini bukan sekadar respons situasional, tetapi investasi keselamatan yang akan mengurangi risiko kerugian material maupun gangguan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir,” ucapnya.

Peringatan Dini dan Penguatan Komunitas

Warga juga harus memperkuat kesiapsiagaan melalui sistem peringatan dini pasang surut, pembentukan relawan lingkungan, dan penyediaan jalur evakuasi aman.

“Antisipasi tidak boleh hanya bergantung pada pemerintah. Peran warga sebagai garda terdepan sangat menentukan, karena mereka yang paling merasakan dampaknya dan paling cepat mengambil tindakan saat situasi darurat terjadi,” ujarnya. (ARIF)