NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Pandangan Alissa Wahid tentang Relevansi Pendidikan Islam di Era Digital

 Sains dan Teknologi

SLEMAN, NU MEDIA JATI AGUNG,  — Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Alissa Wahid menegaskan pesantren harus ramah sains dan teknologi agar tetap relevan di era modern. Ia menyampaikan pernyataan itu dalam forum Damparan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta di Gedung Qo’ah Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Sleman, Sabtu (16/8/2025).

Pertama-tama, Alissa menilai pesantren memegang peran besar dalam membentuk karakter serta arah bangsa. Selanjutnya, agar pesantren tetap menjadi pilihan utama masyarakat, lembaga pendidikan Islam ini perlu mengikuti perkembangan zaman. “Pesantren harus ramah terhadap sains dan teknologi. Jika tidak, masyarakat akan menilai pesantren kolot dan ketinggalan zaman,” tegasnya di hadapan para kiai dan nyai pengasuh pesantren se-DIY.

KH Wahid Hasyim, Pelopor Integrasi Ilmu di Pesantren

Selain itu, Alissa mengingatkan peran penting KH Wahid Hasyim, kakeknya, yang dikenal sebagai pembaharu kurikulum pesantren. Pada 1935, KH Wahid Hasyim mendirikan Madrasah Nizhamiyah di Pesantren Tebuireng, Jombang. Kemudian, melalui madrasah tersebut, ia memperkenalkan sistem pendidikan yang memadukan pelajaran agama dengan ilmu umum. Dengan demikian, langkah itu menghadirkan terobosan besar karena mayoritas pesantren saat itu lebih menekankan pengajaran kitab kuning.

Pada awalnya, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menolak gagasan tersebut. Namun, KH Wahid Hasyim berhasil meyakinkan sang ayah dengan argumen bahwa tidak semua santri kelak menjadi kiai. Oleh karena itu, santri perlu menguasai ilmu umum agar tetap bermanfaat ketika kembali ke masyarakat,” tutur Alissa. Sejak saat itu, inovasi pendidikan tersebut mengangkat status Tebuireng sebagai pesantren yang melahirkan ulama berilmu agama sekaligus tokoh masyarakat yang mampu berbicara tentang isu sosial, politik, dan budaya.

Santri Perlu Bekal Ilmu Umum dan Sains

Sementara itu, Alissa menilai pesantren masa kini menghadapi tantangan yang kian kompleks. Di satu sisi, masyarakat membutuhkan ulama yang fasih dalam ilmu agama. Di sisi lain, bangsa ini memerlukan generasi yang mampu menavigasi perkembangan teknologi dan sains. Lebih jauh, ia menekankan pentingnya bekal pengetahuan umum bagi santri agar mereka dapat berkontribusi nyata di tengah masyarakat. Dengan begitu, lulusan pesantren bisa bersaing dalam berbagai bidang, baik di ranah keagamaan maupun sektor profesional.

Menurutnya, pesantren ramah sains mampu melahirkan generasi baru yang tidak hanya taat beragama, tetapi juga berperan sebagai inovator. Dengan kata lain, konsep tersebut menjadi kunci agar pesantren tetap relevan sepanjang zaman.

Tantangan Pesantren di Era Digital

Selain itu, Alissa menyoroti tantangan baru di era digital. Karena perubahan sosial dan teknologi berlangsung cepat, dunia pendidikan perlu beradaptasi secara cermat. Oleh sebab itu, ia menegaskan pesantren tidak boleh menutup diri dari perkembangan ini. Jika lembaga pendidikan tersebut menutup diri, peran strategis dalam mencetak kader bangsa berisiko menyusut. Sebaliknya, ketika pesantren membuka diri terhadap pembaruan, institusi itu memperkuat relevansi dan keunggulannya.

“Dengan langkah itu, pesantren tetap relevan, tidak hanya sebagai pusat pengajaran agama, tetapi juga sebagai institusi yang melahirkan kader bangsa siap menghadapi tantangan era digital,” ujarnya. Karena itu, Alissa mengajak para pengasuh pesantren membuka diri terhadap inovasi. Terlebih lagi, ia menilai pemanfaatan sains dan teknologi dalam pendidikan dapat memperkuat daya saing santri sekaligus menjaga marwah pesantren sebagai lembaga yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Forum Damparan RMI sebagai Ruang Gagasan

Forum Damparan RMI PWNU DIY hadir sebagai ajang silaturahim sekaligus ruang bertukar pikiran bagi para kiai dan nyai. Tidak hanya itu, forum ini membahas berbagai isu strategis, mulai dari kurikulum pendidikan, tantangan sosial, hingga strategi pengembangan pesantren di tengah perubahan zaman. Secara rutin, Damparan RMI menyediakan wadah penting bagi pengasuh pesantren untuk menguji gagasan. Bahkan, diskusi yang berkembang tidak sekadar menyoroti persoalan pendidikan agama, melainkan juga mengulas isu kebangsaan, sosial, dan pembangunan masyarakat.

Pada kesempatan kali ini, panitia mengangkat tema “Pesantren Maju Bersama, dengan Rohmah dan Amanah” sebagai pijakan diskusi. Dengan demikian, tema tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi antarpesantren dalam menghadapi era transformasi digital dan globalisasi.

Pesantren Ramah Sains sebagai Pilar Pendidikan Bangsa

Karena itu, gagasan pesantren ramah sains semakin terasa relevan. Secara umum, lembaga yang mampu mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan terus memperoleh kepercayaan masyarakat sebagai institusi pendidikan unggulan. Di sisi lain, pesantren yang menutup diri berisiko kehilangan minat generasi muda yang memilih lembaga lebih adaptif. Akibatnya, pengaruh pesantren dalam membentuk karakter bangsa berkurang.

Akhirnya, pandangan Alissa Wahid menyampaikan pesan kuat bahwa pesantren tidak boleh berhenti pada tradisi. Sebaliknya, lembaga pendidikan ini perlu melangkah maju bersama perkembangan zaman. Dengan demikian, pendekatan ramah sains menjembatani nilai agama dan kebutuhan modern. Pada gilirannya, pesantren tidak hanya mencetak ulama, melainkan juga melahirkan pemimpin bangsa yang siap menghadapi perubahan global.