Serangan Geng Haiti Tewaskan Puluhan Warga Sipil
HAITI, NU MEDIA JATI AGUNG, – Geng Haiti kembali memicu kekacauan besar di negara Karibia ini. Selain itu, National Human Rights Defense Network (RNDDH) melaporkan bahwa lebih dari 50 warga sipil tewas akibat aksi kekerasan kelompok kriminal Viv Ansanm pada 11-12 September 2025. Tak hanya itu, geng itu membakar puluhan rumah, sehingga masyarakat setempat mengalami trauma berat.
Kronologi Serangan Geng Haiti
RNDDH mencatat bahwa geng Viv Ansanm, yang menguasai kota Kabaret sejak 2024, menyerang warga sipil secara brutal. Sebagai informasi, Kota Kabaret berjarak sekitar 25 kilometer dari ibu kota, Port-au-Prince.
Beberapa korban berhasil melarikan diri ke wilayah tetangga, sementara itu, yang lain menyeberangi sungai menggunakan perahu untuk menyelamatkan diri. Laporan RNDDH per 14 September 2025 menunjukkan bahwa beberapa korban masih hilang, dan bahkan anjing liar menyerang mayat-mayat yang tercecer di semak-semak.
Dampak Kekerasan Terhadap Warga
Serangan itu menimbulkan korban jiwa serta menghancurkan infrastruktur lokal. Geng membakar rumah-rumah, sekolah, dan fasilitas publik, sehingga rusak parah. Warga setempat menghadapi keterbatasan akses terhadap makanan, air bersih, dan juga layanan kesehatan.
Banyak keluarga kehilangan tempat tinggal, oleh karena itu mereka mengungsi ke wilayah lain atau tinggal di tenda darurat. Situasi ini meningkatkan risiko kesehatan masyarakat, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Situasi Politik dan Keamanan di Haiti
Sejak Maret 2024, konflik antar-geng membuat Haiti mengalami ketidakstabilan serius. Selain itu, kelompok kriminal sering menyerang pejabat pemerintah, termasuk Perdana Menteri Ariel Henry. Port-au-Prince dan beberapa wilayah strategis kini berada di bawah pengaruh geng kriminal, sehingga menambah ketegangan masyarakat.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengutuk keras serangan di Kabaret. Selain itu, ia meminta negara-negara anggota mempercepat dukungan logistik, personel, dan juga pendanaan bagi misi Dukungan Keamanan Multinasional. Ia menekankan bahwa, kekerasan terus melemahkan otoritas negara Haiti.
Upaya Penanganan Krisis oleh PBB dan Negara Lain
PBB bekerja sama dengan negara-negara tetangga untuk menstabilkan situasi. Sebagai langkah awal, mereka mengirim bantuan berupa makanan, obat-obatan, serta perlindungan bagi warga sipil ke wilayah terdampak. Namun, geng masih menguasai beberapa daerah, sehingga akses bantuan terbatas.
Negara-negara donor diminta mempercepat pendanaan untuk program kemanusiaan dan misi keamanan. PBB menegaskan bahwa, tanpa dukungan internasional yang cepat, krisis kemanusiaan di Haiti bisa memburuk dalam hitungan minggu.
Reaksi Masyarakat Internasional
Berbagai organisasi hak asasi manusia menyoroti serangan geng Haiti sebagai bukti lemahnya perlindungan negara terhadap warganya. Oleh karena itu, mereka menyerukan intervensi internasional untuk menghentikan kekerasan dan melindungi korban.
Media internasional melaporkan tragedi ini sebagai salah satu konflik geng paling mematikan dalam sejarah modern Haiti. Selain itu, laporan awal juga menunjukkan meningkatnya kekhawatiran tentang kemungkinan serangan serupa di wilayah lain.
Ancaman Lanjutan dan Skenario Masa Depan
Ahli keamanan memperingatkan bahwa geng Viv Ansanm dan kelompok serupa masih menguasai sebagian besar wilayah strategis di Haiti. Jika pemerintah tidak segera menanganinya, geng itu bisa melancarkan serangan lebih besar dengan korban lebih banyak.
Pemerintah Haiti didesak membentuk strategi keamanan nasional yang efektif. Dengan demikian, mereka harus memperkuat polisi, berkoordinasi dengan misi internasional, dan melindungi warga sipil. Jika tidak, kekerasan bisa menimbulkan krisis kemanusiaan jangka panjang.
Serangan geng Haiti menewaskan banyak orang dan merusak infrastruktur secara signifikan. Saat ini, PBB serta komunitas internasional fokus menyelamatkan warga sipil dan menstabilkan wilayah terdampak. Kasus ini menjadi peringatan bahwa konflik geng di Haiti membutuhkan perhatian global serius.

