NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Uhibbuddin Al Haqq Bicara Tegas Soal Arah Ansor Jati Agung: Dari Penguatan Ranting hingga Tantangan Ideologi

Lampung Selatan, NU Media Jati Agung — Menjelang Konferensi Anak Cabang (Konferancab) PAC GP Ansor Jati Agung yang akan digelar di Ponpes Raudhatul Qur’an 4 pada Sabtu malam Ahad, 25 April 2026 mendatang, dinamika perebutan kepemimpinan mulai mengerucut.

Salah satu kandidat, Uhibbuddin Al Haqq Warga Desa Gedung Agung Kecamatan Jati Agung, tampil dengan gagasan penguatan struktur hingga respons tegas terhadap tantangan ideologi di tengah masyarakat.

Berangkat dari pengamatannya sejak 2019, Uhibbuddin Al Haqq menilai Ansor Jati Agung membutuhkan pembenahan yang terukur, bukan sekadar melanjutkan rutinitas organisasi.

“Saya mencalonkan diri karena mengikuti perkembangan Ansor Jati Agung sejak 2019. Bukan berarti yang sebelumnya tidak baik, tetapi ada kebutuhan pengembangan dan perbaikan di beberapa lini,” ujarnya kepada NU Media Jati Agung, Rabu (22/4/2026).

Ia menegaskan, pencalonannya berangkat dari semangat pengabdian yang sama dengan kandidat lain, namun dengan fokus pada peningkatan kualitas organisasi.

“Motivasi kami sama, ingin mengabdi dan membuat Ansor Jati Agung lebih baik dari periode sebelumnya,” lanjutnya.

Penguatan Ranting Jadi Kunci, Bukan Sekadar Struktur Formal

Berbeda dari pendekatan seremonial, Uhibbuddin menekankan bahwa kekuatan organisasi justru terletak di tingkat paling bawah, yakni ranting.

“Langkah konkret dimulai dari pembentukan dan penguatan struktur. Ranting itu yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, di situlah penanaman nilai Aswaja harus dilakukan,” tegasnya.

Menurutnya, Ansor sebagai anak sulung NU” tidak boleh lepas dari tanggung jawab ideologis.

“Sudah jelas, kita lahir dari rahim NU. Maka menjaga nilai-nilai Aswaja dalam kehidupan sehari-hari itu wajib,” katanya.

Tidak Ada Pemimpin Ideal, yang Ada Pemimpin Mau Mendengar

Dalam pandangannya, kepemimpinan bukan soal figur sempurna, melainkan kemampuan merawat kolektivitas.

“Tidak ada pemimpin yang ideal. Setiap orang punya karakter masing-masing. Yang penting, pemimpin harus mau mendengar kritik, saran, dan masukan dari kader,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran ulama dalam menjaga arah gerak Ansor, khususnya di kalangan pemuda.

“Anak muda itu wajar kalau ada khilafnya. Di sinilah peran kyai dan ulama untuk membimbing agar tetap di jalan yang benar,” tambahnya.

Kaderisasi Berbasis Potensi: Tidak Semua Harus Jadi Ulama

Salah satu gagasan utama yang diusung Uhibbuddin adalah kaderisasi berbasis potensi dan distribusi peran.

“Ansor tidak harus mencetak semua kader jadi ulama. Ada yang berwirausaha, jurnalistik, politik, bahkan pekerja biasa. Semua itu harus diakomodir sesuai bakatnya,” jelasnya.

Gambar Artikel

Ia menilai, organisasi akan kuat jika mampu mengelola keragaman latar belakang kader, bukan menyeragamkannya.

Soroti Tantangan Ideologi: Dari Isu Khilafah hingga Dinamika Keagamaan

Uhibbuddin juga menyinggung secara terbuka tantangan ideologi yang pernah muncul di wilayah Jati Agung.

“Potensi Jati Agung sangat besar, tapi ada juga dinamika seperti kampung khilafah dan proses kristenisasi di masa lalu. Itu bagian dari realitas yang harus kita hadapi,” tegasnya.

Namun, ia menilai kekuatan kader Ansor selama ini menjadi benteng utama dalam menjaga stabilitas sosial.

“Faktanya, kader Ansor mampu melalui itu semua. Yang sudah baik harus kita pertahankan, yang belum baik harus kita perbaiki,” lanjutnya.

Inovasi Sederhana tapi Berkelanjutan

Tidak berhenti pada konsep besar, Uhibbuddin mendorong inovasi berbasis potensi lokal yang realistis dan berkelanjutan di tingkat ranting.

“Apa salahnya kalau pengurus ranting punya lahan 400 meter, kita manfaatkan untuk menanam bayam. Bukan soal besar kecilnya nilai, tapi kontinuitas dan ada penghargaan atas usaha itu,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan sederhana seperti itu justru menjadi fondasi penting dalam membangun kemandirian organisasi.

Ia menekankan bahwa hasil dari pengelolaan potensi tersebut bukan semata pada nilai ekonomi, tetapi pada keberlanjutan gerakan dan semangat kolektif kader di tingkat bawah.

Jaga Soliditas: Siapapun Terpilih Harus Tetap Satu Barisan

Di tengah kontestasi, ia mengingatkan agar perbedaan pilihan tidak berujung perpecahan.

“Semua yang maju adalah kader terbaik. Jangan sampai setelah pemilihan justru terjadi perpecahan. Kita ini sama-sama mengabdi, dan di Ansor tidak ada gaji, ini murni pengabdian,” tegasnya.

Target Akhir: Kepemimpinan yang Dikenang Baik

Jika dipercaya memimpin, Uhibbuddin tidak hanya berbicara program, tetapi juga warisan organisasi.

“Saya ingin khusnul khatimah dalam kepemimpinan. Dikenang baik sebagai pribadi dan sebagai ketua, serta bisa meninggalkan sesuatu untuk Ansor, misalnya sekretariat,” pungkasnya.

Konferancab PAC GP Ansor Jati Agung 2026 diprediksi tidak hanya menjadi ajang pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum pertarungan gagasan—antara melanjutkan pola lama atau mendorong arah baru organisasi yang lebih adaptif dan berbasis potensi kader. (ARIF)