Skip to main content

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Ruang Digital Buka Peluang Pelestarian dan Promosi Budaya Indonesia

Digital Jadi Sarana Perkuat Eksistensi Budaya Indonesia

JAKARTA, NU Media Jati Agung – Ruang digital menjadi sarana penting untuk memperluas eksistensi budaya Indonesia di tingkat global.

Teknologi digital membantu masyarakat mendokumentasikan, memperkenalkan, dan mengembangkan kekayaan budaya nasional kepada audiens yang lebih luas.

Strategi Komunikasi Jadi Kunci Pelestarian Budaya

Kepala Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie, Prima Mulyasari Agustini, menyampaikan pandangan tersebut menjelang Webinar Contemporary Digital Culture 2026. Webinar itu mengangkat tema Strategi Komunikasi dan Tantangan Ketahanan Budaya Lokal di Ruang Digital.

Advertisement
Advertisement

“Budaya lokal memiliki kemampuan untuk terus hidup apabila mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Ruang digital justru membuka peluang,” kata Prima dalam keterangan tertulis, Selasa (7/7/2026).

Menurut Prima, ruang digital memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengenalkan budaya Indonesia kepada khalayak yang lebih luas.

Advertisement
Advertisement

Namun, masyarakat memerlukan strategi komunikasi yang tepat agar pemanfaatan teknologi berjalan efektif.

“Masyarakat membutuhkan strategi komunikasi yang tepat agar teknologi dan budaya dapat tumbuh secara berdampingan.”

Advertisement
Advertisement

Webinar tersebut menghadirkan praktisi komunikasi Hany Nurahmawati.

Ia akan membahas komunikasi lintas budaya, branding, media digital, serta perubahan perilaku masyarakat.

Advertisement
Advertisement

Selain itu, pakar branding dan komunikasi pemasaran Bambang Sukma Wijaya akan mengulas perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI). Ia juga membahas praktik komunikasi modern.

Masyarakat Perlu Memperkuat Literasi Digital

Dosen Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie, Eli Jamilah Miharja, menjelaskan bahwa webinar juga membahas berbagai tantangan di ruang digital.

Advertisement
Advertisement

Tantangan itu meliputi disinformasi, cyberbullying, echo chamber akibat algoritma media sosial, serta menurunnya kualitas ruang publik digital.

Para narasumber menilai literasi digital menjadi fondasi penting untuk membangun masyarakat yang kritis, inklusif, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.

“Karena itu, pendekatan akademik melalui riset menjadi penting agar perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab tanpa mengikis nilai-nilai budaya yang menjadi identitas bangsa,” kata Eli.

Webinar Bahas Budaya Digital dan AI

Panitia menyelenggarakan webinar dalam dua sesi. Setiap sesi membahas perkembangan budaya digital kontemporer, komunikasi lintas budaya, branding di era AI, perubahan perilaku masyarakat digital, serta strategi mempertahankan identitas budaya Indonesia di tengah arus globalisasi.

Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie menargetkan sekitar 200 peserta.

Peserta berasal dari kalangan mahasiswa, dosen, peneliti, praktisi komunikasi, pegiat budaya, dan masyarakat umum.

Melalui kegiatan tersebut, Universitas Bakrie berharap dapat memperkuat kolaborasi antara akademisi dan praktisi.

Kolaborasi itu diharapkan menghasilkan rekomendasi berbasis riset untuk menjawab tantangan komunikasi di era digital.

Upaya tersebut juga diharapkan memperkuat literasi digital dan ketahanan budaya Indonesia.(Erwin Indra Saputra)