NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Pengendalian OPT Padi Jadi Fokus Petani Lampung Jelang MT II

Bandar Lampung, NU Media Jati Agung – Pengendalian OPT padi menjadi langkah penting yang harus dilakukan petani di Provinsi Lampung sebelum memasuki musim tanam padi kedua (MT II) tahun 2026.

Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (KPTPH) Provinsi Lampung mengingatkan petani agar menyiapkan lahan, benih, sarana produksi, serta melakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman guna menjaga produktivitas pertanian.

Dinas KPTPH Minta Petani Siapkan Sarana Produksi

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (KPTPH) Provinsi Lampung, Elvira Ummihani, mengatakan petani perlu melakukan berbagai persiapan sebelum memulai musim tanam kedua.

Selain menyiapkan benih, petani juga perlu memastikan ketersediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), pupuk, serta sarana produksi lainnya. Menurutnya, petani dapat mengakses bantuan benih dari Kementerian Pertanian untuk mendukung kebutuhan musim tanam.

Elvira menjelaskan bahwa persiapan musim tanam kedua pada dasarnya tidak berbeda dengan musim tanam sebelumnya.

“Untuk mempersiapkan musim tanam dua kali ini persiapannya sama seperti biasanya. Kami sudah meminta petani untuk mempersiapkan benih, dan benihnya bisa mengajukan bantuan dari Kementerian Pertanian kemudian mereka semai dan tanam,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (KPTPH) Provinsi Lampung Elvira Ummihani di Bandar Lampung, Senin.

Petani Diminta Prioritaskan Pengendalian Hama

Elvira menegaskan bahwa petani harus memprioritaskan pengendalian organisme pengganggu tanaman sejak awal musim tanam.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah peningkatan serangan hama yang dapat menurunkan hasil panen.

Ia juga mengingatkan bahwa pupuk subsidi telah tersedia sehingga petani dapat segera melengkapi kebutuhan budidaya tanaman.

“Kalau lahannya tidak luas mereka bisa sewa untuk alsintan, kemudian pupuk subsidi sudah siap juga. Kemudian yang sangat penting adalah petani harus melakukan pengendalian hama penyakit,” katanya.

Pengendalian OPT Padi Penting untuk Menjaga Produksi

Selain melakukan pengendalian hama, petani juga perlu menerapkan praktik budidaya pertanian yang baik atau good agriculture practices.

Melalui langkah tersebut, petani dapat menjaga kesehatan tanaman dan meningkatkan produktivitas lahan.

Elvira mengajak petani menerapkan pengendalian hama secara alami maupun nabati sebagai bagian dari budidaya yang berkelanjutan.

“Upaya pengendalian organisme pengganggu tanaman wajib dilakukan, lalu lakukan praktek good agriculture practices seperti melakukan pemupukan, pengendalian hama secara alami atau nabati, sehingga produksi bisa sesuai harapan,” ujar dia.

Menurut Elvira, lahan pertanian di Lampung saat ini hampir tidak memiliki masa istirahat karena petani langsung melakukan penanaman setelah panen.

Kondisi tersebut membuat siklus hama terus berlangsung dan meningkatkan risiko serangan organisme pengganggu tanaman.

Ia menekankan pentingnya memutus siklus perkembangan hama di lahan pertanian.

Gambar Artikel

“Pengendalian hama penyakit ini harus dilakukan karena lahan hampir tidak ada istirahat. Selesai panen tidak lama akan langsung tanam, sehingga siklus hama tidak terputus dan tidak pergi dari lahan itu karena makanan selalu tersedia dan perkembangannya hamanya makin banyak,” katanya menambahkan.

Data Serangan OPT Padi di Lampung

Berdasarkan data Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BRMP) Lampung periode Januari–Mei 2026, serangan hama tikus masih mendominasi gangguan pada tanaman padi.

Data tersebut mencatat serangan tikus terjadi di lahan seluas 1.457 hektare dengan luas puso mencapai 45 hektare.

Sementara itu, total lahan yang mengalami gangguan ringan, berat, hingga gagal panen mencapai 3.274 hektare.

Serangan tikus menyumbang 44,46 persen dari total kasus organisme pengganggu tanaman padi di Lampung selama periode Januari–Mei 2026.

Enam Kabupaten dengan Serangan OPT Terbesar

BRMP Lampung mencatat enam daerah dengan luas serangan organisme pengganggu tanaman tertinggi, yaitu:

– Lampung Tengah: 1.058 hektare

– Lampung Utara: 419 hektare

– Tulang Bawang: 405 hektare

– Lampung Timur: 320 hektare

– Tanggamus: 155 hektare

– Lampung Selatan: 140 hektare

Pemerintah Provinsi Lampung terus mendorong petani untuk memperkuat pengendalian OPT padi agar produktivitas pertanian tetap terjaga selama musim tanam kedua tahun 2026.

(Ahmad Royani, S.H.I)