Gus Yahya Tekankan Pengasuh Pesantren Utamakan Santri
Bandar Lampung, NU Media Jati Agung – Pengasuh pesantren harus menjaga amanah dunia dan akhirat dalam mendidik santri.
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menegaskan pendidikan pesantren bukan sekadar proses belajar biasa, tetapi tanggung jawab besar yang menyangkut kehidupan lahir dan batin santri.
Gus Yahya menyampaikan pernyataan itu saat memberikan arahan kepada pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama dalam doa bersama peringatan Harlah Ke-72 secara daring pada Rabu (20/5/2026).
Selain itu, Gus Yahya meminta seluruh program transformasi pesantren memprioritaskan pengasuhan santri.
Menurutnya, pengasuh pesantren memegang amanah besar dari para orang tua.
Pesantren Memikul Amanah Besar dari Orang Tua
Gus Yahya menjelaskan pesantren yang menerima santri tinggal di asrama memikul tanggung jawab lebih besar dibanding lembaga pendidikan lain.
Sebab, orang tua menyerahkan anak-anak mereka kepada pesantren dengan penuh kepercayaan.
Selain mengajarkan ilmu, pesantren juga membentuk karakter dan kehidupan spiritual santri.
“Pesantren dengan membuka dan menerima santri yang tinggal di asrama sebenarnya sedang mengambil tanggung jawab yang luar biasa besar, berlipat ganda dibanding lembaga pendidikan lain. Karena ini anak-anak yang diserahkan orang tuanya dengan kepasrahan lahir batin, dunia wa ukhrawi,β kata Gus Yahya.
Karena itu, ia meminta pengelola pesantren tidak hanya mengejar pembangunan fisik, pengembangan bisnis, atau modernisasi kurikulum.
Gus Yahya Soroti Pentingnya Nilai Ruhaniyah
Selain membahas pengasuhan santri, Gus Yahya juga menyoroti pentingnya menjaga nilai ruhaniyah dalam pendidikan pesantren.
Menurutnya, kemajuan pesantren tidak memiliki arti apabila nilai spiritual mulai hilang.
Ia menegaskan pengasuh pesantren harus menjaga tanggung jawab lahir dan batin terhadap santri dalam kehidupan sehari-hari.
“Percuma pesantren dibuat mandiri, punya bisnis maju, kurikulum canggih, kalau makna ruhaniyahnya tidak terjaga dan tidak mampu mengikhtiarkan tanggung jawab lahir batin dunia akhirat secara sungguh-sungguh,β ujarnya.

Lebih lanjut, Gus Yahya mengingatkan para ulama terdahulu mendidik santri dengan keikhlasan dan kekuatan spiritual yang besar.
Karena itu, ia meminta pengasuh pesantren masa kini membangun kembali kesadaran tersebut.
Ia juga mengutip perkataan Ibnu Sirin, βInna hadzal ilma diinun, fanzhuru amman takhudzuuna diinakum,β yang berarti sesungguhnya ilmu agama adalah agama itu sendiri, maka perhatikanlah dari siapa mengambil agama.
Tata Ruang Pesantren Harus Lindungi Santri
Selain aspek spiritual, Gus Yahya juga menyoroti pentingnya tata ruang dan infrastruktur pesantren yang aman.
Menurutnya, desain lingkungan pesantren harus mampu mencegah perundungan dan kekerasan.
Ia menilai sistem pengawasan dan pola pengasuhan harus berjalan seiring dengan pembangunan fisik pesantren.
“Kejahatan sering kali terjadi bukan karena niat buruk, tetapi karena ada kesempatan. Kalau desain tata ruangnya memungkinkan terjadinya perundungan, maka jangan kaget kalau perundungan benar-benar terjadi,β katanya.
Karena itu, ia meminta pengelola pesantren memperkuat sistem pengawasan, pola pengasuhan, dan desain lingkungan yang mendukung pembentukan karakter santri.
RMI NU Fokus pada Karakter Pendidikan Pesantren
Gus Yahya meminta Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama tidak hanya mengejar program modernisasi pesantren berdasarkan standar pendidikan umum.
Menurutnya, pendidikan pesantren memiliki karakter berbeda karena pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk kehidupan santri secara lahir dan batin.
Gus Yahya kembali mengingatkan pentingnya kesadaran pengasuhan dalam pendidikan pesantren.
“Pertama-tama yang harus dikembalikan adalah kesadaran bahwa menerima santri berarti menerima tanggung jawab lahir batin dunia wa ukhrawi. Yang paling dahulu akan dimintai hisab adalah mereka yang mengampu pendidikan anak-anak itu,β tegasnya. (Ahmad Royani, S.H.I)

