Skip to main content

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

PBNU Dorong Pencegahan Kekerasan di Pesantren Lewat SOP

PBNU Dorong Pencegahan Kekerasan di Pesantren Melalui Penguatan Sistem

Yogyakarta, NU Media Jati Agung – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberi perhatian serius terhadap pencegahan kekerasan di pesantren.

Karena itu, PBNU mendorong setiap pesantren membangun sistem perlindungan yang mampu mencegah berbagai bentuk kekerasan melalui penguatan tata kelola, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), serta peningkatan kapasitas pengasuh.

PBNU menganggap langkah tersebut penting untuk menjaga keamanan lingkungan pesantren seiring bertambahnya jumlah santri dan meningkatnya kompleksitas pengelolaan.

Advertisement
Advertisement

PBNU Nilai Penguatan Sistem Lebih Efektif Cegah Kekerasan

Penanggung Jawab Saka Pesantren PBNU, Hj Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid (Alissa Wahid), menjelaskan bahwa sistem yang kuat mampu mempersempit ruang terjadinya penyalahgunaan relasi kuasa maupun berbagai bentuk kerentanan lainnya.

Pihaknya, menegaskan bahwa pengaturan lingkungan pesantren memiliki peran besar dalam membangun ekosistem yang aman bagi seluruh warga pesantren.

Advertisement
Advertisement

“Mengapa mekanisme standar operasional prosedur (SOP) pencegahan dan penanganan itu dibuat? Termasuk pengaturan lingkungan fisik, tujuannya untuk meminimalkan ruang-ruang yang memungkinkan terjadinya kekerasan. Dalam teori, ini disebut enabling environment, yaitu lingkungan atau ekosistem yang memungkinkan suatu perilaku terjadi,” ujar Alissa dilansir dari NU Online Jumat (17/7/2026).

Jumlah Santri Bertambah, Tata Kelola Harus Menyesuaikan

Selain itu, Alissa menilai perkembangan jumlah santri mendorong setiap pesantren menyesuaikan sistem pengelolaannya.

Advertisement
Advertisement

Menurutnya, pola yang berlaku pada masa lalu belum tentu mampu menjawab tantangan saat ini.

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa perubahan kondisi internal pesantren menuntut pembaruan tata kelola.

Advertisement
Advertisement

“Dulu santrinya puluhan atau ratusan, sekarang banyak pesantren memiliki ribuan santri. Realitas internal kita sudah berubah. Karena itu, ekosistemnya juga perlu disesuaikan agar mampu melindungi seluruh warga pesantren,” katanya.

Tradisi Pesantren Tetap Dijaga Tanpa Mengabaikan Perlindungan

Selain itu, Alissa menegaskan bahwa penguatan sistem tidak bertujuan menghilangkan tradisi pesantren.

Advertisement
Advertisement

Sebaliknya, langkah tersebut bertujuan menjaga nilai penghormatan sekaligus mencegah penyalahgunaan relasi kuasa.

Ia kemudian mencontohkan tradisi takdzim yang tetap berjalan selama lahir dari kesadaran santri.

“Kalau santri memilih takdzim dengan cara tertentu atas kesadarannya sendiri, itu bagian dari tradisi. Tetapi ketika dilakukan karena paksaan atau relasi kuasa, persoalannya bukan lagi pada tradisinya, melainkan pada unsur pemaksaan tersebut,” jelasnya.

SOP dan Tata Kelola Jadi Fondasi Perlindungan Pesantren

Menurut Alissa, pesantren tetap memiliki ruang mempertahankan tradisi keilmuan dan adab.

Namun, setiap pengelola harus terus mengevaluasi berbagai praktik yang berpotensi menimbulkan kerentanan di tengah perubahan sosial.

Sebagai penutup, Alissa menegaskan bahwa penguatan tata kelola akan memperkuat perlindungan bagi seluruh warga pesantren.

“Melalui penyusunan standar operasional prosedur (SOP), penguatan kapasitas pengasuh, serta pembenahan tata kelola kita berharap pesantren mampu membangun sistem perlindungan yang semakin kuat tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur kepesantrenan,” ungkap Alissa.

Pencegahan kekerasan di pesantren menjadi fokus PBNU melalui penguatan SOP, tata kelola, dan kapasitas pengasuh demi melindungi santri.

(Ahmad Royani, S.H.I)