Pelatihan Kepemimpinan Muslimat NU Jati Agung Perkuat Karakter Aswaja
Lampung Selatan, NU Media Jati Agung—PAC Muslimat NU Jati Agung menggelar Pelatihan Kepemimpinan untuk memperkuat karakter Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja) sekaligus membangun jiwa kepemimpinan kader Muslimat Nahdlatul Ulama.
Kegiatan ini bertema “Penguatan Karakter Ahlussunnah Wal Jama’ah dan Kepemimpinan Muslimat” di Kantor MWCNU Jati Agung, Lampung Selatan, Kamis (9/7/2026).
Seluruh pengurus Muslimat NU se-Kecamatan Jati Agung mengikuti pelatihan tersebut.

Hadir dalam kesempatan itu Mustasyar MWCNU Jati Agung KH Nurkholis Ahmad, Rais Syuriyah MWCNU Jati Agung Abah Yai Masduki, Ketua Tanfidziyah MWCNU Jati Agung Ahmad Ansori, Sekretaris MWCNU Jati Agung Ustadz Nurrohim, Dosen UIN Raden Intan Lampung Dr. Laila Maharani, Ketua PAC GP Ansor Jati Agung Waryanto, Ketua PAC Muslimat NU Jati Agung Bu Nyai Siti Munawaroh, serta jajaran pengurus Muslimat NU Jati Agung.
Mulyani: Pelatihan Tindak Lanjut dari PC Muslimat NU Kabupaten
Wakil Ketua II PAC Muslimat NU Jati Agung, Bu Nyai Mulyani, mengatakan pelatihan ini merupakan tindak lanjut setelah pengurus mengikuti Pelatihan Kepemimpinan yang diselenggarakan PC Muslimat NU Kabupaten Lampung Selatan.


Menurut Mulyani, pengurus PAC meneruskan materi dari pelatihan tingkat kabupaten kepada seluruh pengurus di tingkat PAC.
Langkah tersebut bertujuan agar seluruh kader memperoleh pembelajaran yang sama.

“Kegiatan ini sengaja kami adakan setelah menerima pelatihan kepemimpinan dari PC Muslimat NU Kabupaten. Ilmu yang kami peroleh kemudian kami teruskan di tingkat PAC agar seluruh pengurus Muslimat di Jati Agung juga mendapatkan pembelajaran yang sama,” ujarnya kepada NU Media Jati Agung.
Ia menjelaskan, tujuan utama kegiatan tersebut ialah membentuk kader Muslimat NU yang memiliki jiwa kepemimpinan sekaligus memahami organisasi Nahdlatul Ulama secara utuh.

Penguatan Ke-NU-an Jadi Fokus Pelatihan
Pelatihan menghadirkan tiga pemateri, yaitu Rais Syuriyah MWCNU Jati Agung Abah Yai Masduki, Sekretaris MWCNU Jati Agung Ustadz Nurrohim, dan Dosen UIN Raden Intan Lampung Dr. Laila Maharani.
Ketiga pemateri menyampaikan materi tentang penguatan karakter Ahlussunnah Wal Jama’ah, sejarah Nahdlatul Ulama, struktur organisasi NU, amaliah ke-NU-an, serta dasar-dasar kepemimpinan kader Muslimat.

Mulyani mengatakan panitia memilih tema penguatan ke-NU-an karena masih banyak anggota yang telah mengamalkan tradisi NU. Namun, mereka belum memahami bahwa amaliah tersebut merupakan bagian dari identitas Nahdlatul Ulama.
“Tujuan kami adalah agar seluruh anggota Muslimat NU di Jati Agung memiliki jiwa kepemimpinan. Mereka yang bergabung di Muslimat NU tidak hanya sekadar menjadi anggota, tetapi juga memahami apa itu Muslimat NU, bagaimana perannya, serta mengenal lebih dalam tentang ke-NU-an,” kata dia.
Karena itu, para pemateri memberikan pemahaman mengenai sejarah NU, amaliah Ahlussunnah Wal Jama’ah, struktur organisasi, serta perjalanan Nahdlatul Ulama di Indonesia kepada peserta.
Bekal tersebut diharapkan mampu memantapkan para kader agar semakin yakin menjadi bagian dari Muslimat NU.
Kepemimpinan Dimulai dari Memimpin Diri Sendiri
Selain memperkuat wawasan ke-NU-an, pelatihan ini juga menanamkan pentingnya kepemimpinan yang dimulai dari diri sendiri.
Mulyani menjelaskan setiap kader harus mampu memimpin dirinya sebelum memimpin organisasi.
Karena itu, panitia mengundang seluruh pengurus Muslimat NU Jati Agung mengikuti pelatihan, bukan hanya para ketua ranting.
“Setelah mengikuti kegiatan ini, para peserta diharapkan semakin aktif menggerakkan organisasi, memahami tugas dan tanggung jawabnya, serta semakin mantap berkhidmat di Nahdlatul Ulama,” jelasnya.
Harapkan Kader Memiliki Empat Karakter Utama
Mulyani berharap seluruh kader Muslimat NU Jati Agung memiliki empat karakter utama, yaitu siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.
Menurutnya, kader Muslimat NU harus memiliki kecerdasan, keyakinan yang kuat terhadap amaliah Nahdlatul Ulama, aktif mengikuti kegiatan organisasi, serta tetap menjunjung tinggi sikap toleransi tanpa meninggalkan jati diri sebagai warga NU.
“Harapan kami, seluruh pengurus Muslimat NU Jati Agung memiliki keyakinan yang kuat dan bangga mengatakan, ‘Saya adalah Muslimat Nahdlatul Ulama,'” ungkapnya.
Seluruh Peserta Menerima Sertifikat Kepemimpinan
Panitia menutup kegiatan dengan menyerahkan Sertifikat Kepemimpinan kepada seluruh peserta.
Sertifikat itu menjadi bentuk apresiasi atas partisipasi peserta. Selain itu, sertifikat tersebut menjadi bukti bahwa mereka telah mengikuti pembekalan kepemimpinan dan penguatan karakter Ahlussunnah Wal Jama’ah sebagai bekal berkhidmat di lingkungan Muslimat Nahdlatul Ulama.(ARIF)

