Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

01 / 01

Muktamar NU ke-35 Bahas One Man One Vote dan AHWA

Sidang Komisi Siap Bahas Agenda Strategis

JOMBANG, NU Media Jati Agung – Muktamar NU ke-35 akan membahas mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU di Jombang, Jumat (28/8/2026). Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyebut peserta akan memperdebatkan dua opsi, yakni one man one vote dan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), sebelum menentukan keputusan melalui forum muktamirin.

Gus Ipul menyampaikan hal tersebut setelah mengikuti rangkaian agenda Muktamar NU ke-35 di Jombang. Ia menjelaskan bahwa peserta akan memasuki tahapan sidang komisi setelah laporan pertanggungjawaban selesai.

Menurutnya, sidang komisi akan memerlukan waktu karena peserta akan membahas sejumlah materi penting. Setiap komisi akan menampung pandangan dari berbagai peserta sebelum menyampaikan hasilnya.

ā€œNanti akan ada laporan pertanggungjawaban, dilanjutkan sidang-sidang komisi. Di sidang komisi nanti kita tahu ada beberapa bahasan yang mungkin memerlukan waktu, karena pasti akan terjadi perdebatan-perdebatan,ā€ ujarnya.

Gus Ipul menilai dinamika tersebut menjadi bagian yang wajar dalam forum organisasi sebesar NU. Ia menegaskan bahwa seluruh peserta memiliki kesempatan menyampaikan pandangan selama sidang berlangsung.

Dua Sistem Pemilihan Ketua Umum Masuk Pembahasan

Gus Ipul menjelaskan bahwa pembahasan sistem pemilihan Ketua Umum bukan muncul secara tiba-tiba. PBNU telah membawa materi itu melalui Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes).

Opsi pertama mempertahankan mekanisme one man one vote. Sistem tersebut tetap memberi ruang bagi calon yang memenuhi persyaratan untuk melanjutkan proses pencalonan setelah memperoleh restu Rais Aam.

Opsi kedua menawarkan mekanisme berbeda. Wilayah dan cabang yang memiliki hak suara akan mengusulkan lima nama calon.

Forum kemudian akan menghitung seluruh usulan tersebut. Nama dengan dukungan terbanyak akan masuk ke tahap berikutnya sebelum Rais Aam menentukan pilihan.

ā€œItu adalah opsi yang tentu semua tergantung keputusan muktamirin,ā€ kata Gus Ipul.

Ia menegaskan bahwa forum belum mengambil keputusan apa pun. Muktamirin akan menentukan hasil akhirnya melalui pembahasan resmi dalam persidangan.

One Man One Vote Tetap Menjadi Opsi

Sistem one man one vote selama ini menjadi mekanisme yang dikenal di lingkungan NU. Mekanisme tersebut memberi ruang kepada pemilik hak suara untuk menentukan pilihan secara langsung.

Proses pencalonan tetap mengikuti ketentuan organisasi. Calon yang memenuhi syarat harus memperoleh restu Rais Aam sebelum memasuki tahapan selanjutnya.

AHWA Kembali Menjadi Alternatif

Opsi AHWA kembali muncul sebagai bahan pembahasan dalam Muktamar NU ke-35. Mekanisme tersebut mengedepankan proses seleksi melalui usulan nama dari wilayah dan cabang.

Setelah itu, Rais Aam akan memilih dari nama yang memperoleh dukungan terbanyak. Mekanisme tersebut menjadi salah satu alternatif yang kini masuk dalam pembahasan resmi.

Aturan Rangkap Jabatan Ikut Menjadi Sorotan

Selain membahas pemilihan Ketua Umum, peserta juga akan mengkaji aturan mengenai rangkap jabatan. Materi tersebut masuk ke dalam agenda Komisi Organisasi.

Gus Ipul menjelaskan bahwa aturan saat ini berlaku bagi Ketua Umum beserta para wakilnya. Ketentuan yang sama juga berlaku bagi Rais Aam bersama wakil-wakil Rais Aam.

Ia menyebut sejumlah usulan baru telah muncul dalam pembahasan awal. Forum akan menguji setiap usulan sebelum mengambil keputusan.

ā€œIni ada usulan-usulan, ada dinamika-dinamika yang tentu nantinya semuanya bergantung pada muktamirin,ā€ ujarnya.

Gus Ipul menambahkan bahwa seluruh materi telah melewati pembahasan internal PBNU. Munas dan Konbes juga telah membahasnya sebelum Muktamar memasukkannya ke agenda resmi.

Dukungan AHWA Masih Menjadi Perdebatan

Sejumlah pihak menyebut banyak peserta mendukung mekanisme AHWA. Gus Ipul memilih tidak menyimpulkan besarnya dukungan terhadap salah satu opsi.

Ia menilai kondisi tersebut masih sangat dinamis. Peserta akan menyampaikan pandangan masing-masing dalam sidang sebelum forum mengambil keputusan.

ā€œKalau untuk setuju banyak-tidaknya masih relatif. Tapi ini akan menjadi perdebatan menarik,ā€ katanya.

Gus Ipul mengingatkan bahwa NU pernah mengalami dinamika serupa sekitar 15 tahun lalu. Saat itu, forum memilih Rais Aam melalui mekanisme AHWA dalam Muktamar di Jombang.

Perdebatan kala itu berlangsung cukup panjang. Forum akhirnya menyelesaikan proses tersebut melalui mekanisme voting.

ā€œApakah nanti juga perdebatan ini akhirnya diakhiri dengan voting? Itu akan kita lihat perkembangannya,ā€ tambahnya.

Gus Ipul Ajak Peserta Tetap Menjaga Kebersamaan

Gus Ipul berharap seluruh peserta tetap menjaga suasana kebersamaan selama Muktamar NU ke-35 berlangsung. Ia menilai perbedaan pandangan tidak boleh mengurangi semangat persaudaraan.

Penyelenggaraan Muktamar di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum juga memiliki makna tersendiri. Lokasi tersebut berkaitan erat dengan sejarah para muassis NU.

Ia menyebut nama KH Wahab Hasbullah, KH Hasyim Asy’ari, dan KH Bisri Sansuri sebagai bagian dari jejak sejarah yang melekat di kawasan tersebut. Nilai perjuangan para pendiri NU, menurutnya, perlu menjadi pengingat bagi seluruh peserta.

ā€œKita sudah terbiasa dengan perbedaan, kita sudah terbiasa berdebat. Tetapi apa pun yang terjadi, perbedaan sekeras apa pun, kita harus tetap gembira,ā€ tuturnya.

Gus Ipul berharap semangat para pendiri NU terus menginspirasi seluruh peserta. Ia ingin setiap tahapan Muktamar berlangsung dengan penuh keberkahan meski forum menghadapi berbagai dinamika dan perbedaan pendapat.

(Orba_Battik).