Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

01 / 01

Muktamar NU, Kyai Sepuh Ingatkan AHWA Bukan Ruang Transaksi!

Kyai Sepuh Serukan Muktamar NU Berlangsung Bermartabat

Jakarta, NU Media Jati Agung— Muktamar NU ke-35 mendapat perhatian serius dari sejumlah kyai sepuh Nahdlatul Ulama (NU). Mereka menyerukan agar pelaksanaan Muktamar berlangsung secara jujur, adil, dan bermartabat, termasuk dalam proses pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Kyai Sepuh Sampaikan Seruan Moral

Seruan tersebut muncul dalam Forum Silaturahmi Para Kyai di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Forum itu menghadirkan sejumlah ulama sepuh, antara lain KH Ma’ruf Amin, KH Abdullah Ubab Maimoen, KH Ali Akbar Marbun, KH Muadz Thohir, KH Ahmad Haris Shodaqoh, KH Athoillah Sholahuddin Anwar, KH Muhyiddin Ishaq, dan KH Muhibbul Aman Aly.

Selain itu, KH Said Aqil Siroj, KH Ahmad Mustofa Bisri, KH Anwar Manshur, dan KH Zuhri Zaini mengikuti pertemuan secara daring.

Ma’ruf Amin Soroti Dinamika Muktamar

Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin mengatakan, para kiai menggelar pertemuan tersebut karena merasa prihatin terhadap dinamika yang berkembang menjelang Muktamar ke-35 NU.

“Adanya isu-isu mengkhawatirkan karena ditandai cara tidak terpuji untuk upaya-upaya dalam Muktamar yang akan datang,” ujar Ma’ruf Amin.

Menurut KH Ma’ruf Amin, para kyai memilih Gedung PBNU sebagai lokasi pertemuan agar forum tersebut menyampaikan seruan moral untuk kepentingan Nahdlatul Ulama, bukan untuk kepentingan individu atau kelompok tertentu.

Karena itu, ia menegaskan bahwa Muktamar ke-35 NU harus mengikuti hati nurani dan akhlak NU tanpa intervensi pihak mana pun.

AHWA Harus Menjaga Marwah Keulamaan

Salah satu perhatian utama para kiai sepuh menyangkut proses pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Forum tersebut terdiri dari sembilan kiai dan memiliki kewenangan memilih Rais Aam PBNU.

KH Ma’ruf Amin mengatakan, NU harus memilih anggota AHWA berdasarkan kapasitas, integritas, dan kejernihan hati nurani.

Ia menolak penggunaan titipan maupun transaksi kepentingan dalam proses tersebut.

“AHWA itu adalah representasi para ulama untuk memilih Rais Aam yang lahir dari hati nurani. Benar-benar tidak merupakan paket pesanan, apalagi transaksi,” kata Ma’ruf Amin. 

Menurut dia, menjaga marwah AHWA berarti menjaga kehormatan ulama sekaligus memastikan Muktamar tetap mengikuti tradisi keulamaan NU.

Kyai Sepuh Sampaikan Tujuh Seruan Moral

Usai pertemuan, Rais Syuriyah PBNU KH Muhibbul Aman Aly membacakan tujuh poin seruan moral untuk warga NU, pengurus, dan para muktamirin menjelang Muktamar ke-35.

Para kiai menegaskan bahwa Muktamar bukan sekadar arena kontestasi untuk menentukan pihak yang menang atau kalah. Mereka memandang Muktamar sebagai forum permusyawaratan yang harus menjunjung adab, akhlak, serta nilai-nilai keulamaan.

Selain itu, para kyai menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan muktamirin sebagai pemegang amanat dari struktur dan jamaah NU.

Kyai Tolak Rekayasa dan Pengondisian

Selanjutnya, para kyai mengingatkan seluruh pihak agar tidak melakukan rekayasa, pengondisian, maupun mekanisme yang dapat mengurangi kebebasan peserta Muktamar dalam menentukan pilihan.

Mereka juga menempatkan AHWA sebagai maqam keulamaan, bukan instrumen perebutan kekuasaan.

Karena itu, proses pengusulan calon AHWA harus menjauh dari mobilisasi yang tidak patut, tekanan, ataupun praktik transaksional.

Penggalangan Dukungan AHWA Jadi Sorotan

Para kyai sepuh turut menyoroti penggalangan dukungan terhadap daftar calon AHWA sebelum Muktamar berlangsung.

Mereka menilai praktik tersebut berpotensi menggeser proses musyawarah keulamaan menjadi arena politik dukungan.

Kyai Usulkan Perubahan Mekanisme AHWA

Para kyai sepuh juga mengusulkan perubahan mekanisme pengusulan nama calon anggota AHWA.

Mereka mengusulkan agar PWNU, PCNU, dan PCINU tidak lagi menyampaikan nama calon AHWA bersamaan dengan pendaftaran peserta Muktamar.

Sebaliknya, mereka mengusulkan pengusulan nama AHWA pada waktu khusus yang berdekatan dengan proses tabulasi dalam sidang pleno.

Menurut para kyai, mekanisme tersebut dapat mempersempit ruang pengondisian maupun transaksi menjelang pemilihan.

Kyai Ajak Semua Pihak Menahan Diri

Para calon, pendukung, dan pengurus NU juga mendapat ajakan untuk menahan diri serta mengedepankan akhlakul karimah selama proses Muktamar berlangsung.

“Perbedaan pilihan adalah sesuatu yang wajar. Namun persaudaraan, kehormatan para kiai, keutuhan jam’iyah, dan masa depan Nahdlatul Ulama jauh lebih besar daripada kepentingan siapa pun untuk menduduki suatu jabatan,” demikian salah satu poin seruan tersebut.

Muktamar NU Diharapkan Jadi Momentum Islah

Para kyai sepuh berharap Muktamar ke-35 NU menjadi momentum islah dan persatuan, bukan forum yang memperdalam ketegangan.

Mereka menegaskan bahwa Muktamar yang bermartabat bukanlah Muktamar yang memastikan kemenangan seseorang.

Sebaliknya, Muktamar harus menjaga kehormatan semua pihak dan mengutamakan kepentingan Nahdlatul Ulama. (ARIF)