NU Setelah Muktamar: Kembali Berkhidmah
Oleh: Wawan Hidayat
Ada satu hal yang harus segera disadari setelah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas, Jombang, selesai: pertarungan kepemimpinan harus berhenti, tetapi perjuangan NU justru harus dimulai.
Muktamar telah menetapkan KH. Abdul Hakim Mahfud sebagai Ketua Umum PBNU, dengan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam. Dua amanah besar itu kini berada di pundak kepemimpinan NU untuk membawa organisasi ke fase berikutnya.
Namun, yang lebih penting daripada siapa yang terpilih adalah untuk apa mereka diberi amanah.
Sebab NU bukan sekadar struktur kepengurusan.
NU bukan pula panggung untuk menunjukkan siapa yang paling kuat.
NU adalah rumah besar tempat jutaan warga menggantungkan harapan, tempat pesantren menjaga tradisi keilmuan, tempat para kiai mewariskan nilai, dan tempat masyarakat menemukan jalan pengabdian.
Maka setelah Muktamar, tidak semestinya NU terus dibayangi oleh ketegangan dan fragmentasi yang mungkin muncul selama proses pemilihan.
Kini waktunya merajut kembali.
Muktamar Boleh Berakhir, Khidmah Jangan Berhenti
Tambakberas memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar lokasi penyelenggaraan Muktamar.
Di tanah yang memiliki jejak panjang perjuangan para ulama itu, NU seharusnya kembali mengingat dari mana organisasi ini berasal.
Para muassis NU tidak mewariskan organisasi untuk diperebutkan sebagai kekuasaan.
Mereka mewariskan khidmah.
Mereka mengajarkan bahwa ilmu harus menjadi jalan pengabdian, kekuatan harus digunakan untuk kemaslahatan, dan organisasi harus berdiri bersama umat.
Karena itu, kepemimpinan baru PBNU harus mampu menerjemahkan hasil Muktamar menjadi kerja yang konkret.
Warga NU membutuhkan organisasi yang hadir.
Pesantren membutuhkan penguatan.
Madrasah membutuhkan perhatian.
Anak-anak muda NU membutuhkan ruang.
Pelaku ekonomi kecil membutuhkan keberpihakan.
Dan masyarakat membutuhkan suara moral ketika kehidupan kebangsaan menghadapi berbagai persoalan.
Inilah pekerjaan besar yang menanti setelah Tambakberas.
Jangan Biarkan NU Terjebak dalam Sekat Kelompok
KH. Abdul Hakim Mahfud kini bukan hanya Ketua Umum bagi mereka yang mendukungnya.
Begitu amanah diberikan oleh forum Muktamar, beliau harus menjadi pemimpin bagi seluruh warga Nahdlatul Ulama.
Di sinilah kualitas kepemimpinan akan diuji.
Mampukah seluruh perbedaan dirangkul?
Mampukah kelompok-kelompok yang berbeda pandangan duduk bersama?
Mampukah energi kompetisi selama Muktamar diubah menjadi energi pengabdian?
Jawabannya akan menentukan wajah NU dalam beberapa tahun ke depan.
Sebab NU tidak membutuhkan kemenangan kelompok.
NU membutuhkan kemenangan bersama.
Yang diperlukan bukan lagi pertanyaan, “siapa berada di kubu siapa?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apa yang bisa kita lakukan bersama untuk NU?”
Menjaga NU Tetap Netral dan Bermartabat
Di tengah semakin besarnya pengaruh NU dalam kehidupan sosial dan kebangsaan, ada satu warning yang tidak boleh diabaikan: jangan sampai NU kehilangan jarak kritis terhadap kekuasaan.
Warga NU sebagai individu tentu memiliki hak politik.
Namun organisasi NU harus tetap memiliki independensi.
NU boleh berdialog dengan pemerintah.
NU boleh bekerja sama dengan negara dalam urusan kemaslahatan umat dan bangsa.
Tetapi NU harus tetap mempunyai keberanian untuk mengatakan benar ketika memang benar dan mengingatkan ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kepentingan rakyat.
Jangan sampai kedekatan dengan kekuasaan membuat suara moral NU menjadi kehilangan daya.
Marwah NU harus dijaga.
Kemandirian NU harus dipertahankan.
Dan netralitas organisasi harus menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan kepemimpinan baru.
Sebab ketika NU terlalu dekat dengan kepentingan politik praktis, yang dipertaruhkan bukan hanya posisi organisasi.
Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan warga NU.
Kembali kepada Jalan Para Muassis
Rais Aam KH. Miftachul Akhyar bersama Ketua Umum PBNU KH. Abdul Hakim Mahfud memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa NU tetap berjalan dalam koridor yang diwariskan para pendirinya.
KH. Hasyim Asy’ari.
KH. Abdul Wahab Chasbullah.
KH. Bisri Syansuri.
Dan para ulama yang ikut meletakkan fondasi Nahdlatul Ulama.
Mereka membangun NU bukan dengan ambisi memperbesar diri.
Mereka membangun NU dengan keikhlasan, keberanian dan pengabdian.
Maka ukuran keberhasilan kepemimpinan baru tidak seharusnya hanya dilihat dari banyaknya program atau besarnya struktur organisasi.
Ukuran yang paling penting adalah:
Apakah NU semakin dekat dengan umat?
Apakah pesantren semakin kuat?
Apakah pendidikan semakin maju?
Apakah kader muda mendapatkan ruang?
Apakah NU semakin bermanfaat bagi bangsa?
Dan yang paling penting:
Apakah marwah NU tetap terjaga?
Jangan Pulang dari Tambakberas Hanya Membawa Nama
Muktamar ke-35 jangan hanya meninggalkan nama seorang Ketua Umum baru.
Jangan pula hanya meninggalkan foto-foto, spanduk, gegap gempita dan cerita tentang dinamika perebutan kepemimpinan.
Muktamar harus meninggalkan harapan.
Harapan bahwa NU akan semakin dewasa dalam mengelola perbedaan.
Harapan bahwa NU akan semakin kuat dalam membela kepentingan umat.
Harapan bahwa NU akan semakin mandiri.
Harapan bahwa NU akan tetap menjadi kekuatan moral bangsa.
Dan harapan bahwa siapa pun yang berada di dalam struktur kepengurusan memahami satu hal:
jabatan di NU bukanlah mahkota, melainkan amanah.
Maka kepada kepemimpinan baru PBNU, pesan warga NU sebenarnya sederhana:
Jangan hanya menjadi pemimpin organisasi.
Jadilah penjaga rumah besar NU.
Rangkul yang berbeda.
Dengarkan suara akar rumput.
Dekati pesantren.
Berikan ruang kepada anak muda.
Perkuat pendidikan.
Bangun kemandirian ekonomi umat.
Dan jangan pernah kehilangan keberanian untuk menjaga independensi organisasi.
Sebab NU terlalu besar untuk diseret menjadi milik kepentingan sesaat.
Tambakberas sebagai Titik Balik
Pada akhirnya, sejarah Muktamar ke-35 akan dinilai bukan dari riuhnya arena ketika pemilihan berlangsung.
Ia akan dinilai dari apa yang dilakukan setelah semua orang pulang.
Tambakberas harus menjadi titik balik.
Dari arena Muktamar menuju ruang-ruang pengabdian.
Dari perbedaan menuju persatuan.
Dari kompetisi menuju kolaborasi.
Dari perebutan posisi menuju pembuktian amanah.
Dan dari hiruk-pikuk politik menuju penguatan kembali khidmah.
Selamat kepada KH. Abdul Hakim Mahfud atas amanah sebagai Ketua Umum PBNU. Selamat kepada KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam.
Semoga kepemimpinan baru mampu membawa NU menjadi organisasi yang semakin kuat, semakin bermartabat, semakin mandiri, dan semakin dekat dengan umat.
Sebab setelah Muktamar usai, tidak ada lagi kelompok yang menang dan kelompok yang kalah.
Yang harus menang adalah NU.
Dan yang harus dijaga bersama adalah marwah NU.
Karena pada akhirnya, kita semua bukan sedang mewarisi sebuah jabatan.
Kita sedang menjaga amanah para muassis.

