Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

01 / 01

Yenny Wahid: Mekanisme Pemilihan Bukan Tujuan Utama

Mekanisme Pemilihan Muktamar NU Harus Mengarah pada Tujuan Organisasi

JOMBANG, NU Media Jati Agung — Sabtu, 29 Agustus 2026 — Mekanisme pemilihan dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) bukan menjadi tujuan utama yang harus diperdebatkan.

Yenny Wahid menilai seluruh proses pemilihan Ketua Umum dan Rais Aam harus tetap mengarah pada tujuan besar organisasi serta masa depan NU.

Menurut Yenny, dinamika yang muncul menjelang penentuan mekanisme pemilihan merupakan hal yang lumrah dalam forum organisasi besar.

Saat ini, para muktamirin tengah membahas kesepakatan mengenai sistem yang akan digunakan dalam pemilihan.

ā€œHal lumrah terjadi dalam sebuah muktamar di mana akan terjadi pemilihan Ketua Umum dan juga Rais Aam. Tapi sekarang sudah akan disepakati proses mekanisme pemilihannya akan seperti apa,ā€ ujar Yenny.

Dua Pilihan Mekanisme Pemilihan Dibahas Muktamirin

Yenny menjelaskan, Muktamar ke-35 NU membahas dua pilihan dalam menentukan mekanisme pemilihan, yakni sistem langsung one man one vote atau melalui Ahlul Halli wal Aqli (AHWA).

ā€œNah, ini sudah ada dua pilihan, ya. Apakah dipilih secara langsung (one man one vote) atau dipilih melalui AHWA (Ahlul Halli wal Aqli).

Nah, nanti kita lihat hasilnya seperti apa. Dari situ biasanya para tim sukses sudah bisa memetakan kira-kira kandidat mana yang punya peluang lebih kuat,ā€ katanya.

Namun demikian, Yenny menekankan bahwa perbedaan pilihan mekanisme tidak boleh menggeser perhatian muktamirin dari tujuan utama Muktamar NU.

Yenny Menilai Suasana Muktamar Relatif Tenang

Menanggapi situasi di arena Muktamar ke-35 NU, Yenny mengatakan suasana yang ia lihat berjalan relatif tenang.

ā€œKalau saya lihat suasananya relatif tenang, kok. Relatif tenang, dan saya rasa muktamirin semuanya ini punya pemahaman yang sama,ā€ ujarnya.

Selain itu, ia menilai seluruh peserta perlu menjalankan proses musyawarah dengan suasana hati yang baik, bahagia, dan penuh kegembiraan.

ā€œBahkan tadi ada yang mengingatkan, ā€˜Kita ini bermuktamar dengan hati yang bahagia, dengan hati yang gembira.’ Ini sebetulnya juga pesan yang selalu disampaikan oleh Mbah Maimoen Zubair dulu,ā€ ungkapnya.

Yenny kemudian menekankan pentingnya niat baik dalam menjalankan seluruh proses Muktamar.

ā€œMelakukan segala sesuatu harus dengan bahagia, harus dengan riang gembira. Insya-Allah, apalagi kalau diawali dengan niatan yang baik, insya-Allah hasilnya juga pasti akan baik,ā€ lanjutnya.

Mekanisme Pemilihan Hanya Menjadi Wasilah

Yenny menegaskan dirinya bukan pemilik suara dalam Muktamar ke-35 NU. Oleh karena itu, ia memandang mekanisme pemilihan sebagai alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar.

ā€œSaya tidak… bukan pemilik suara. Jadi bagi saya, mekanisme itu hanyalah wasilah, hanyalah alat. Mekanisme, ya. Tetapi ghayah atau tujuan dari muktamar ini, itu yang paling penting,ā€ katanya.

Menurut dia, tujuan utama Muktamar NU adalah memilih Ketua Umum yang mampu membawa organisasi menuju kondisi yang lebih baik.

ā€œDan ghayah atau tujuan dari muktamar ini adalah memilih Ketua Umum yang akan bisa membawa—kita harapkan bisa membawa NU lebih baik lagi ke depannya,ā€ ujarnya.

Yenny meyakini para muktamirin memahami pentingnya menjaga tujuan awal berdirinya Nahdlatul Ulama.

ā€œDan saya rasa semua muktamirin juga menyadari bahwa yang paling penting dari muktamar ini adalah bahwa tujuan-tujuan NU didirikan itu tetap tidak berubah,ā€ katanya.

Pergantian Ketua Umum Tidak Mengubah Tujuan NU

Menurut Yenny, pergantian kepemimpinan akan terus terjadi dalam setiap periode muktamar. Namun, NU harus tetap menjaga tujuan dasar organisasi.

ā€œYang namanya pemilihan Ketua Umum, itu hal yang akan berganti-ganti. Setiap muktamar akan terjadi pemilihan. Tetapi ada yang tetap. Yang tetap adalah apa? Yang tetap tujuan dari organisasi ini sendiri,ā€ jelasnya.

Dengan demikian, Yenny mengingatkan bahwa siapa pun yang terpilih harus tetap menjalankan tujuan dan perjuangan organisasi.

Tiga Tujuan Utama NU Harus Tetap Terjaga

Yenny menjelaskan terdapat sejumlah tujuan utama NU yang harus tetap menjadi pegangan kepemimpinan organisasi.

ā€œYang pertama adalah mempertahankan akidah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Yang kedua, berkhidmat atau berjuang untuk kepentingan masyarakat, kepentingan umat. Dan yang ketiga, mempertahankan keutuhan bangsa dan negara. Itu tujuan NU berdiri,ā€ tegasnya.

Karena itu, ia menilai pencapaian tujuan organisasi lebih penting daripada persoalan siapa yang memenangkan pemilihan.

ā€œNah, selama tujuan ini tetap dipegang, bagi saya, siapa pun yang jadi Ketua Umum, itu menjadi hal yang kedua. Gitu kira-kira. Yang penting tujuannya tercapai,ā€ ujarnya.

Yenny Harap Ketua Umum Baru Satukan Semua Faksi

Meski menempatkan tujuan organisasi sebagai prioritas, Yenny tetap memiliki harapan terhadap sosok Ketua Umum NU yang akan terpilih.

Ia berharap pemimpin baru mampu menyatukan berbagai kelompok yang selama dinamika Muktamar ke-35 NU berada dalam posisi berbeda.

ā€œTapi tentu saya punya harapan. Harapan saya, Ketua Umum yang akan terpilih nanti adalah sosok yang bisa menyatukan semua faksi—yang saat ini mungkin dengan adanya dinamika muktamar, berada dalam posisi yang berseberangan,ā€ katanya.

Setelah Muktamar berakhir, Yenny berharap seluruh elemen NU kembali membangun kebersamaan dan rekonsiliasi.

ā€œKita harapkan setelah selesai muktamar, kita kembali saling merangkul, kita melakukan rekonsiliasi, kita bersama-sama menyatukan energi untuk membangun NU lebih jauh lagi ke depannya,ā€ ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya memulihkan dan meningkatkan marwah NU.

ā€œMeningkatkan marwah NU yang mungkin kemarin sempat terpuruk karena ada kisruh-kisruh gitu, ya. Nah, itu menurut saya yang paling penting,ā€ lanjutnya.

Ketua Umum Baru Memiliki Tugas Besar

Yenny menilai Ketua Umum NU yang baru akan memikul tugas besar dalam memimpin organisasi dan menjalankan peran NU di tengah masyarakat.

Menurut dia, Ketua Umum harus mampu membangun kemitraan dengan pemerintah sekaligus menyampaikan aspirasi masyarakat.

ā€œJadi Ketua Umum, figur Ketua Umum ke depannya punya tugas besar. Tugas Ketua Umum NU yang baru nanti adalah pertama, dia menjadi mitra pemerintah, tetapi di sisi lain dia juga harus menjadi penyambung lidah masyarakat,ā€ katanya.

Ia menegaskan NU perlu menjaga posisi yang seimbang dalam menjalankan perannya.

ā€œJadi NU posisinya selalu di tengah. Berada mendukung program-program pemerintah yang positif dan konstruktif untuk kebijakan masyarakat, di sisi lain menyambungkan aspirasi masyarakat supaya didengar oleh pemerintah. Itu tugasnya NU,ā€ ujarnya.

AHWA Akan Ditentukan Para Rais Syuriyah

Terkait mekanisme AHWA, Yenny menjelaskan para muktamirin, khususnya Rais Syuriyah Wilayah dan Cabang, akan menentukan sosok yang mereka percayai untuk masuk dalam AHWA.

ā€œSosok AHWA nanti kan akan… apa namanya, akan dipilih. Muktamirin, para Rais-Rais Syuriyah Wilayah dan Cabang akan menentukan pilihan siapa saja sosok-sosok yang akan mereka percayai untuk menjadi bagian dari AHWA,ā€ katanya.

Apabila Muktamar memilih mekanisme AHWA, para kiai yang terpilih akan menjalankan musyawarah untuk menentukan kepemimpinan NU.

ā€œNah, nanti dari situ juga akan kemudian para kiai tersebut akan bermuktamar di antara mereka. Kalau memang kesepakatannya adalah dipilih melalui AHWA, ya,ā€ ujarnya.

Yenny menjelaskan proses tersebut akan menentukan sosok Rais Aam dan Ketua Umum.

ā€œKalau pemilihan dipilih melalui AHWA, ya kiai-kiai ini yang akan menentukan siapa yang pertama dipilih menjadi Rais Aam, lalu kemudian siapa yang akan menjadi Ketua Umum kalau mekanisme yang dipilih adalah melalui AHWA,ā€ katanya.

Sementara itu, jika Muktamar menggunakan sistem langsung, seluruh pemilik hak suara akan menentukan pilihan.

ā€œKalau one man one vote, maka ya terserah muktamirin semuanya,ā€ ujarnya.

Sosok AHWA Harus Alim dan Memahami Tujuan NU

Yenny juga menyampaikan pandangannya mengenai kriteria ulama yang layak menjadi bagian dari AHWA. Menurut dia, kapasitas keilmuan dan pemahaman terhadap dasar perjuangan NU menjadi faktor penting.

ā€œYang pertama, pastinya yang alim, ilmu agamanya kuat, seorang fakih, mengerti fikih, dan sangat memahami kenapa NU didirikan,ā€ katanya.

Selain itu, anggota AHWA harus memiliki komitmen kuat dalam menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam Qanun Asasi NU.

ā€œLalu juga orang yang punya semangat untuk memegang … Qanun Asasi sebagai pegangan kita semua muktamirin, ya, di mana yang paling ditekankan oleh Mbah Hasyim Asy’ari adalah persatuan di antara semua,ā€ ujarnya.

Menurut Yenny, persatuan umat menjadi salah satu pesan mendasar yang ditekankan oleh Hadratusy Syeikh KH Hasyim Asy’ari.

ā€œJadi umat Islam tidak boleh terpecah belah. Ini pesan dari awal yang paling penting ditekankan oleh Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari,ā€ katanya.

Karena itu, ia berharap para ulama dan seluruh jajaran NU terus memegang semangat persatuan dalam menjalankan kehidupan organisasi.

ā€œJadi saya harap semua yang ada di sini, terutama para ulama kita yang akan membimbing mereka-mereka yang ada di Tanfidziyah, betul-betul memegang semangat ini,ā€ pungkasnya.

Muktamar ke-35 NU menjadi momentum penting untuk menentukan arah kepemimpinan organisasi ke depan. Di tengah pembahasan mekanisme pemilihan, Yenny Wahid menekankan pentingnya persatuan, rekonsiliasi, serta keberlanjutan perjuangan NU dalam menjaga akidah, mengabdi kepada umat, dan mempertahankan keutuhan bangsa dan negara.(Erwin Indra Saputra)