Bantul, NU Media Jati Agung – Layanan Ambulans NU Bantul mencatat 1.069 perjalanan selama Juni 2026.
NU Care-LAZISNU PCNU Kabupaten Bantul menghadirkan layanan tersebut untuk memenuhi kebutuhan transportasi kesehatan masyarakat di Kabupaten Bantul dan sekitarnya.
Dari total perjalanan itu, petugas melayani 1.005 perjalanan pasien dan 64 perjalanan ambulans jenazah.

Layanan Ambulans NU Bantul Tetap Menjadi Kebutuhan Masyarakat
Ketua LAZISNU PCNU Kabupaten Bantul, H. Choiron Marzuki, menyampaikan tingginya jumlah perjalanan menunjukkan masyarakat masih sangat membutuhkan layanan ambulans sosial.
Selain itu, NU Care-LAZISNU terus memperkuat pelayanan agar masyarakat memperoleh akses transportasi medis yang cepat, aman, dan mudah dijangkau.

Sebelumnya, rekapitulasi perjalanan selama Juni 2026 memperlihatkan tingginya aktivitas ambulans di berbagai rumah sakit rujukan.
Oleh karena itu, NU Care-LAZISNU terus menjaga kualitas pelayanan dengan dukungan relawan, pengemudi, dan masyarakat.

“Data ini menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap layanan ambulans sosial tetap tinggi. NU Care-LAZISNU berkomitmen menghadirkan pelayanan yang cepat, aman, dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.
Stroke dan Hemodialisis Mendominasi Layanan Ambulans
Berdasarkan data diagnosis pasien, kasus stroke menjadi layanan terbanyak dengan 190 pasien.

Selanjutnya, ambulans melayani 183 pasien hemodialisis (HD), 109 pasien penyakit dalam, dan 74 pasien kondisi darurat IGD.
Selain itu, petugas juga mengantar 59 pasien kontrol pascaoperasi, 53 pasien kanker, serta 52 pasien patah tulang.

Sementara itu, kategori penyakit lainnya mencapai 349 pasien sehingga menunjukkan beragam kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.
Pasien Lansia Menjadi Pengguna Terbanyak
Jika dilihat berdasarkan usia, kelompok 61ā70 tahun mendominasi penggunaan layanan dengan 304 pasien.
Selanjutnya, kelompok usia 51ā60 tahun mencapai 236 pasien, sedangkan usia 71ā80 tahun sebanyak 168 pasien.
Data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat usia produktif akhir hingga lanjut usia paling banyak memanfaatkan layanan ambulans untuk menjalani pengobatan maupun kontrol rutin ke fasilitas kesehatan.
RSUP Dr. Sardjito Menjadi Tujuan Perjalanan Terbanyak
Selama Juni 2026, RSUP Dr. Sardjito menjadi rumah sakit tujuan terbanyak dengan 233 perjalanan. Setelah itu, RSUD Panembahan Senopati Bantul menerima 227 perjalanan ambulans.
Selain kedua rumah sakit tersebut, ambulans juga melayani perjalanan menuju RS PKU Bantul sebanyak 77 kali, RSPAU Hardjolukito sebanyak 57 kali, serta RS Nur Hidayah, RS UII, RSA UGM, dan RS Santa Elisabeth.
Antar Jemput Pasien Mendominasi Perjalanan
Jenis layanan antar-jemput pasien mendominasi aktivitas ambulans dengan 858 perjalanan.
Selain itu, petugas melaksanakan 76 layanan antar pasien, 65 layanan antar jenazah, 56 penjemputan pasien, delapan penjemputan jenazah, empat layanan pemakaman, satu kegiatan NU, dan satu layanan lainnya.
Aktivitas ambulans berlangsung hampir setiap hari sepanjang Juni 2026. Puncak pelayanan terjadi pada 10 Juni dengan 57 perjalanan.
Sementara itu, pada 29 Juni jumlah perjalanan mencapai 55 layanan. Pada hari-hari lainnya, ambulans melayani sekitar 30 hingga 50 perjalanan setiap hari.
KOIN NU Menjadi Penopang Operasional Ambulans
Choiron menegaskan capaian tersebut lahir dari sinergi para pengemudi ambulans, relawan, donatur, pengurus NU Care-LAZISNU, serta masyarakat yang terus mendukung keberlangsungan layanan.
Ia menjelaskan koordinasi bersama 17 Ketua UPZISNU kapanewon menunjukkan skema layanan ambulans di setiap wilayah tidak sepenuhnya sama.
Sebagian besar operasional ambulans masih berjalan secara gratis berkat dukungan dana KOIN NU yang dihimpun dari masyarakat.
Namun, beberapa wilayah mulai mengajak keluarga pasien memberikan infak sukarela untuk membantu biaya operasional ambulans.
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar layanan tetap berjalan di tengah meningkatnya kebutuhan operasional.
“Infak tersebut bukan merupakan tarif layanan, melainkan bentuk gotong royong agar pelayanan tetap bisa berjalan. Paling tidak dapat membantu memenuhi kebutuhan operasional seperti pembelian bahan bakar,” jelas Choiron.
Choiron menambahkan penurunan kemampuan ekonomi masyarakat turut memengaruhi penghimpunan dana KOIN NU di sejumlah wilayah.
Meski demikian, NU Care-LAZISNU Bantul memastikan layanan ambulans tetap berjalan dengan mengedepankan semangat ta’awun atau tolong-menolong dan gotong royong.
Ia berharap dukungan masyarakat melalui KOIN NU maupun infak sukarela terus meningkat agar layanan ambulans dapat terus membantu warga tanpa terkendala biaya operasional. (Ahmad Royani, S.H.I)

