Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Kyai Ahmad Ansori: Jangan Lagi Pandang Sebelah Mata Pesantren NU

Lampung Selatan, NU Media Jati Agung – Menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), MWCNU Jati Agung, Lampung Selatan, menyampaikan harapan kepada kepemimpinan NU mendatang.

MWCNU Jati Agung menaruh perhatian pada penguatan pondok pesantren. Organisasi tersebut berharap NU dan pemerintah memberi perhatian lebih besar kepada pesantren.

Ketua Tanfidziyah MWCNU Jati Agung, Kyai Ahmad Ansori, menilai pesantren memegang peran penting dalam menjaga tradisi dan amaliyah ke-NU-an.

Advertisement
Advertisement

Karena itu, ia berharap NU terus memperkuat pesantren setelah Muktamar Ke-35 NU.

“Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35, kami pengurus MWCNU Jati Agung berharap pondok pesantren harus diperhatikan secara intensif. Jangan lagi pondok pesantren dipandang sebelah mata, karena pondok pesantren yang bisa mempertahankan amaliyah ke-NU-an,” ujar Kyai Ahmad Ansori.

MWCNU Jati Agung Antusias Sambut Muktamar NU Ke-35

Kyai Ahmad Ansori mengatakan MWCNU Jati Agung menyambut Muktamar Ke-35 NU dengan antusias.

Pengurus MWCNU Jati Agung juga menyiapkan kegiatan doa bersama. Kegiatan itu melibatkan pengurus MWCNU dan ranting NU di Jati Agung.

Advertisement
Advertisement

“Alhamdulillah, kami pengurus MWCNU sangat senang dan antusias sekali dengan adanya Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35. Insyaallah, kami pengurus MWCNU mengadakan doa bersama pada 22 Agustus dan malam 24 Agustus, Ahad malam Lailatul Ijtima, sekaligus doa bersama seluruh pengurus MWCNU dan ranting NU Jati Agung,” katanya.

Menurut Kyai Ahmad Ansori, Muktamar menjadi momentum penting bagi NU. Ia juga melihat Muktamar sebagai kesempatan untuk memperkuat hubungan antarpengurus.

Kyai Ahmad Ansori Dorong Silaturahmi dari PBNU hingga Ranting

Kyai Ahmad Ansori mendorong penguatan komunikasi antarstruktur NU. Ia berharap silaturahmi berjalan secara berkelanjutan.

Hubungan tersebut mencakup PBNU, PWNU, PCNU, MWCNU hingga ranting.

“Harus ada silaturahmi antara pengurus PBNU ke PWNU, ke PCNU, ke MWCNU, ke PRNU,” ujar Kyai Ahmad Ansori.

Menurutnya, komunikasi yang kuat akan membantu organisasi menjalankan program. Kebijakan NU juga dapat tersampaikan dengan lebih baik kepada masyarakat.

Pesantren Dinilai Menjadi Basis Penting Ke-NU-an

Penguatan pesantren menjadi salah satu perhatian utama MWCNU Jati Agung.

Kyai Ahmad Ansori menilai pesantren memiliki posisi strategis. Pesantren ikut menjaga nilai, tradisi dan amaliyah Nahdlatul Ulama.

Karena itu, ia berharap PBNU dan pemerintah memberi dukungan nyata kepada pesantren.

Menurutnya, dukungan tersebut dapat membantu pesantren berkembang. Pesantren juga dapat menjalankan perannya secara lebih optimal.

Bagi MWCNU Jati Agung, penguatan pesantren berkaitan dengan kaderisasi NU.

Pesantren tidak hanya menjadi tempat pendidikan keagamaan. Pesantren juga menjadi ruang penting untuk menjaga nilai-nilai ke-NU-an di tengah perubahan masyarakat.

UPZISNU Diharapkan Dorong Ekonomi dan Sosial Umat

Selain pesantren, Kyai Ahmad Ansori menyoroti penguatan UPZISNU. Menurutnya, gerakan zakat, infak dan sedekah perlu berkembang. UPZISNU juga harus memberi dampak bagi pemberdayaan masyarakat.

“Ini harus ada sambungan tangan dari pemerintah dan pengurus PBNU sehingga semua masyarakat yakin kepada upzisnu bahwasanya bisa mendorong kegiatan ekonomi dan sosial untuk umat,” katanya.

Ia berharap pemerintah dan organisasi ikut meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap UPZISNU.

Dukungan tersebut juga dapat membuka peluang program pemberdayaan ekonomi bagi warga Nahdliyin.

Kaderisasi Generasi Muda Jangan Sampai Kehabisan Obor

Perubahan masyarakat yang cepat menjadi tantangan bagi NU. Kondisi itu juga dirasakan di wilayah Jati Agung.

Karena itu, MWCNU Jati Agung menilai keterlibatan generasi muda sangat penting.

“Kita harus libatkan pemuda pemudi untuk mengikuti organisasi NU dan kita ajak dengan pengaderan NU sehingga kita tidak kehabisan obor untuk generasi NU yang akan,” ungkap Kyai Ahmad Ansori.

Menurutnya, NU perlu menjalankan kaderisasi secara berkelanjutan.

Generasi muda membutuhkan ruang untuk belajar dan berorganisasi. Mereka juga perlu mendapat kesempatan untuk mengambil peran di tengah masyarakat.

MWCNU Jati Agung Berharap Ada Dukungan untuk Struktur Bawah

Kiai Ahmad Ansori berharap MWCNU mendapat perhatian lebih besar setelah Muktamar Ke-35 NU.

Menurutnya, MWC memiliki tugas besar. Pengurus MWC membina ranting, menjalankan kaderisasi dan melayani warga NU.

“Setelah pasca muktamar Nanti di pengurus MWC NU harus ada bantuan materi sehingga kami pengurus MWC tidak sulit untuk membina ,mengkaderisasi dan melayani warga NU ,karena dipegurus MWC NU itu Rp tidak ada tapi PR nya amat banyak,” ujarnya.

Ia menilai dukungan untuk MWC akan membantu pengurus menjalankan program organisasi.

Dukungan tersebut juga dapat memperkuat pelayanan kepada warga NU di tingkat bawah.

Titipan Kyai Ahmad Ansori untuk Muktamar Ke-35 NU

Menjelang Muktamar Ke-35 NU, Kyai Ahmad Ansori berharap kepemimpinan NU mendatang memperhatikan MWC, ranting dan pondok pesantren.

“Saya tolong diperhatikan pengurus MWC NU ,PR pondok pesantren dengan adanya bantuan dari PBNU atau pemerintah kami bisa memaksimalkan kinerja kami sehingga NU benar – benar besar bukan hanya nama tetapi rel adanya, semoga Kita dapat istiqamah Merawat peradaban umat’,” pungkasnya.

Harapan tersebut menjadi aspirasi MWCNU Jati Agung menjelang Muktamar Ke-35 NU.

MWCNU Jati Agung berharap hasil Muktamar tidak berhenti pada keputusan tingkat nasional. Pengurus juga berharap hasilnya dapat hadir dalam bentuk program yang menyentuh masyarakat.

Program tersebut mencakup penguatan MWC, ranting, pesantren dan kader muda. Pemberdayaan ekonomi umat juga menjadi perhatian.

Bagi Kyai Ahmad Ansori, penguatan struktur hingga tingkat bawah sangat penting. Perhatian terhadap pesantren dan kaderisasi juga perlu berjalan bersama.

Ia berharap NU terus hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat.

(Ahmad Royani, S.H.I.,)