Ahmad Qahar Yelipele Pentingnya Menjaga Marwah NU dan Mengedepankan Akhlak
JOMBANG, NU Media Jatiagung — Sabtu, 29/08/2026 Ahmad Qahar Yelipele, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua PWNU Papua Pegunungan, menyampaikan pandangannya terkait sejumlah keputusan dan sidang dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
Menurutnya, setiap keputusan yang dihasilkan merupakan bagian dari proses yang telah diamanahkan kepada tim dan perumus.
Ia berharap seluruh keputusan tersebut dapat membawa kebaikan bagi kepemimpinan NU ke depan.
“Apa pun yang diputuskan itu saya pikir adalah tim yang sudah diamanahkan dan dipercaya oleh perumus yang kemudian tadi sudah disepakati tidak ada yang saling merugikan. Tetapi bagaimana untuk pemimpin di antaranya Rais Syuriyah dan juga Ketum PBNU ke depan itu lebih baik,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa NU merupakan organisasi besar yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan kemanusiaan. Karena itu, menurutnya, nama baik dan marwah NU harus tetap dijaga.
“Nahdlatul Ulama adalah lembaga yang besar dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan juga kemanusiaan, sehingga hal ini perlu menjaga ruh nama baik NU-nya. Marwah NU-nya yang tentu harus dijaga,” katanya.
Musyawarah Harus Mengedepankan Etika dan Akhlak
Terkait proses sidang dan berbagai keputusan yang telah disepakati, Ahmad Qahar berharap seluruh proses tetap mengedepankan musyawarah, etika, dan akhlak.
Ia menyebut bahwa dalam proses yang berlangsung telah ada kesepakatan bersama. Namun, menurutnya, nilai etika dan akhlak harus menjadi perhatian utama.
“Saya pikir keputusan-keputusan atau sidang-sidang tadi sudah disepakati bersama dan diharapkan tentu dengan musyawarah, seperti yang disepakati tadi, second counting, tetapi diharapkan itu mengedepankan etika dan akhlak yang dikedepankan,” ujarnya.
Menurutnya, akhlak merupakan ruh penting dalam Islam. Karena itu, nilai tersebut harus terus dijaga oleh seluruh pihak, termasuk para tokoh NU.
“Kenapa? Karena jantungnya, ruhnya Islam itu adalah akhlak. Dan saya pikir ini para muassis, para kiai, para alim ulama juga yang sebagiannya hadir. Dan kami sangat berharap, berharap sekali untuk tetap melakukan mengedepankan dengan etika,” katanya.
Belum Menentukan Pilihan Calon Ketua Umum PBNU
Ketika ditanya mengenai nama calon yang akan menjadi Ketua Umum PBNU, Ahmad Qahar menyampaikan bahwa hingga saat wawancara dilakukan, dirinya belum memiliki calon yang akan dipilih.
“Saya sendiri, saya selaku Ketua Nahdlatul Ulama Provinsi Papua Pegunungan, saya sampai hari ini, sampai detik ini belum memiliki calon yang kira-kira siapa yang saya, tapi akan saya putuskan sebentar,” ujarnya.
Saat kembali ditanya apakah sudah ada nama-nama calon yang diketahui, ia menyatakan belum memiliki jawaban mengenai hal tersebut.
Sementara itu, ketika ditanya tokoh yang dikenalnya dengan baik, ia menyebut Rais Aam.
“Yang saya kenal baik sampai hari ini adalah Rais Aam. Rais Aam,” katanya.
Papua Membutuhkan Pembinaan Jam’iyyah NU
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Qahar juga menyampaikan harapan masyarakat dan pengurus NU di Papua kepada kepengurusan PBNU ke depan.
Ia mengatakan, Papua membutuhkan pembinaan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, terutama di daerah konflik dan wilayah yang dianggap tertinggal.
“Harapan kami ke depan juga kami kemarin dalam sidang rekomendasi juga kami sampaikan bahwa di Papua saat ini butuh pembinaan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama di daerah konflik, daerah yang dianggap tertinggal,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pihaknya ingin fokus pada perkembangan Jam’iyyah NU di wilayah Papua.
“Kami baru fokus pada bagaimana untuk perkembangan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama di sana. Itu yang kami harapkan,” katanya.
Menurutnya, Korwil Indonesia Timur perlu terjun langsung ke daerah untuk melihat perkembangan NU.
“Yang namanya disebut Korwil, Korwil Indonesia Timur, itu dia harus terjun. Harus terjun ke daerah dan bagaimana perkembangan NU-nya di sana, bagaimana kendalanya, bagaimana solusinya,” ujarnya.
Ia juga berharap PBNU dapat terjun dan mengapresiasi perkembangan NU di wilayah Papua.
“Kami Muslim Papua misalnya, kami ini bersyukur dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dan juga kami bisa masuk dalam bendera NU ini salah satu kebanggaan kita. Namun, hal itu PBNU jangan dibiarkan. PBNU harus apresiasi dan bangga,” katanya.
Harap Ketua PBNU Turun Langsung ke Papua
Selain peran Korwil, Ahmad Qahar berharap Ketua Umum PBNU juga dapat turun langsung ke daerah, khususnya Papua.
“Dan yang kedua, yang berikutnya adalah Ketua PBNU harus turun terjun ke lapangan. Bukan hanya Korwil, tapi Ketua PBNU-nya harus turun ke lapangan,” ujarnya.
Ia mengatakan bahwa keberadaan NU di Papua dapat diterima oleh berbagai kalangan. Menurutnya, hal tersebut juga berkaitan dengan sejarah dan penghormatan masyarakat Papua terhadap Presiden keempat RI, K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
“Lembaga besar NU Nahdlatul Ulama ini hadir di wilayah Papua itu seluruh umat yang ada di Papua sangat menerima, baik Islam maupun Kristen,” katanya.
Ia kemudian menceritakan salah satu hal yang menurutnya menjadi kenangan masyarakat Papua terhadap Gus Dur, termasuk terkait perubahan nama Irian Jaya menjadi Papua.
“Dulu namanya Irian Jaya, Pak. Lalu kemudian almarhum yang mengabadikan namanya Papua. Dan inilah yang kebanggaan orang Papua bahwa hadirnya Nahdlatul Ulama di Papua itu sangat menerima,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap kepengurusan NU ke depan memberikan perhatian terhadap pembinaan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama di daerah, khususnya Papua.
Di akhir wawancara, Ahmad Qahar secara khusus menyampaikan pesan untuk NU Media Jatiagung.
“NU media Jatiagung, saya tunggu di Papua!” ungkapnya . (Erwin Indra Saputra)

