Pemprov Lampung Permudah Perizinan dan Perkuat Iklim Investasi
Bandar Lampung, NU Media Jati Agung – Kemudahan investasi Lampung menjadi komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung untuk menarik lebih banyak investor masuk ke daerah.
Selain itu, pemerintah terus memperkuat iklim investasi yang kondusif agar sektor industri dan ekonomi daerah berkembang secara berkelanjutan.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan pemerintah daerah akan memberikan kemudahan perizinan bagi pelaku usaha.
Langkah tersebut bertujuan mendukung masuknya investasi baru sekaligus mempercepat pertumbuhan industri pengolahan di Lampung.
Komoditas Unggulan Jadi Daya Tarik Investasi
Berbagai komoditas unggulan Lampung dinilai memiliki potensi besar untuk menarik investasi, khususnya di sektor industri pengolahan.
Karena itu, Pemprov Lampung menargetkan daerah ini menjadi pusat industri pengolahan pangan dan komoditas berbasis sumber daya alam di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).
Gubernur Lampung menjelaskan pentingnya penguatan sektor hilirisasi agar komoditas lokal memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
“Pemerintah Provinsi Lampung berkomitmen memberikan kemudahan perizinan dan menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi para pelaku usaha di Lampung.”
Selanjutnya ia mengatakan:
“Provinsi Lampung tumbuh dari sektor pertanian. Kita memiliki potensi besar mulai dari padi, jagung, singkong, nanas, pisang, kopi, tebu hingga berbagai komoditas perkebunan lainnya. Potensi ini harus terus ditingkatkan melalui hilirisasi agar memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat sehingga butuh iklim investasi yang baik.”
Nilai Investasi Lampung Terus Mengalami Peningkatan
Menurut Rahmat Mirzani Djausal, sektor pertanian masih menjadi fondasi utama perekonomian Lampung.
Oleh sebab itu, pemerintah terus mendorong pertumbuhan industri hilir agar hasil pertanian memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Ia menegaskan kondisi ekonomi Lampung terus menunjukkan perkembangan positif.
“Bahkan realisasi investasi di Lampung menunjukkan tren positif.”

Pada 2025, realisasi investasi di Lampung mencapai sekitar Rp15 triliun. Sementara itu, pemerintah menargetkan nilai investasi meningkat menjadi Rp20 triliun pada 2026.
Ia juga menjelaskan bahwa sejumlah investasi baru mulai masuk ke sektor energi dan industri pengolahan.
Namun, peningkatan produktivitas pertanian harus berjalan seiring dengan berkembangnya industri hilir agar harga komoditas tetap stabil.
“Sejumlah investasi baru di sektor energi dan industri pengolahan juga mulai masuk ke Provinsi Lampung. Namun adanya peningkatan produktivitas sektor pertanian harus diimbangi dengan pertumbuhan industri hilir agar tidak menimbulkan kelebihan pasokan yang dapat menekan harga komoditas pertanian.”
Apindo Diajak Perkuat Hilirisasi dan Investasi
Selain memperkuat kebijakan investasi, Pemerintah Provinsi Lampung juga mengajak Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Lampung menjadi mitra strategis dalam mendorong hilirisasi industri dan peningkatan investasi daerah.
Gubernur Lampung menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha.
“Apindo merupakan mitra penting pemerintah dalam mendorong peningkatan investasi, hilirisasi industri, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif di Provinsi Lampung. Ketika produktivitas meningkat tetapi hilirisasi tidak berkembang, harga akan jatuh. Oleh karena itu peluang investasi harus kita tangkap bersama agar pertumbuhan ekonomi Lampung semakin kuat dan berkelanjutan.”
Pertumbuhan Ekonomi Desa Dorong Investasi
Rahmat Mirzani Djausal menambahkan arah pembangunan ekonomi nasional kini mengedepankan pendekatan bottom up economy dengan menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.
Melalui peningkatan harga komoditas pertanian, Program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta penguatan ekonomi desa, pemerintah berharap daya beli masyarakat meningkat sehingga mampu menciptakan pasar yang lebih besar bagi dunia usaha.
Ia kembali menegaskan hubungan antara pertumbuhan ekonomi desa dan investasi.
“Kalau ekonomi desa tumbuh, daya beli masyarakat meningkat, konsumsi naik, dan pada akhirnya akan menciptakan pasar yang lebih besar bagi dunia usaha dan investasi masuk ke daerah.”
(Ahmad Royani, S.H.I)

