Enam Agenda Strategis untuk Masa Depan Kader NU
Lampung Selatan, NU Media Jati Agung β Momentum peringatan Hari Lahir (Harlah) GP Ansor yang ke 92 dan Fatayat NU yang ke 76 menjadi refleksi penting dalam memperkuat arah gerakan pemuda-pemudi Nahdlatul Ulama di tingkat akar rumput.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Jaringan Kyai Santri Nusantara (JKSN) Lampung Gus Budi Setiawan, S.Pd dalam pernyataannya terkait harapan besar terhadap masa depan kader NU, khususnya di Kecamatan Jati Agung.
Menurutnya, tantangan zaman yang terus berkembang menuntut kader NU untuk tidak hanya aktif secara organisasi, tetapi juga mampu beradaptasi dan mengambil peran strategis di berbagai sektor kehidupan.
βHarapan saya untuk Jati Agung, Ansor bisa menerobos di sektor digitalisasi, kaderisasi, ekonomi mandiri, serta tetap berideologi nasionalis-religius berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah,β ujar Gus Budi, Senin (27/4/2026).
Kader NU Harus Berdaya dan Tidak Stagnan
Gus Budi menegaskan bahwa organisasi seperti GP Ansor dan Fatayat NU tidak boleh terjebak pada kegiatan seremonial semata.
Ia mendorong agar gerakan organisasi mampu berjalan secara berkesinambungan, terarah, dan memberikan dampak nyata di tengah masyarakat.
Menurutnya, kader NU harus tampil sebagai solusi atas berbagai persoalan sosial, ekonomi, hingga keumatan.
Oleh karena itu, semangat inovasi dan kreativitas menjadi kunci utama dalam menjaga eksistensi organisasi.
βSehingga Ansor benar-benar berkesinambungan, bersinergi, inovatif, kreatif, berdaya, dan tetap nasionalis religius,β lanjutnya.
Enam Agenda Penting Gerakan Kader NU
Dalam momentum Harlah tersebut, Gus Budi juga merumuskan enam poin strategis yang harus menjadi fokus gerakan pemuda-pemudi NU ke depan.
Pertama, memperkuat sistem kaderisasi sebagai fondasi regenerasi dan soliditas organisasi.
Kaderisasi yang baik akan melahirkan generasi yang militan, loyal, dan siap mengemban amanah.

Kedua, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) kader melalui pelatihan dan pengembangan kapasitas yang berkelanjutan.
Ia menilai kualitas kader menjadi faktor utama dalam menghadapi tantangan global.
Ketiga, menempatkan kader pada lini-lini strategis, baik di sektor pemerintahan, sosial, maupun ekonomi.
Langkah ini penting agar kader NU tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pengambil peran dalam pembangunan.
Keempat, mengembangkan kemandirian ekonomi kader berbasis potensi lokal. Menurutnya, kekuatan ekonomi akan menopang keberlanjutan organisasi secara jangka panjang.
Kelima, mendorong inovasi gerakan yang relevan dan solutif. Organisasi harus adaptif terhadap perkembangan zaman agar tetap eksis dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Keenam, memperkuat sinergi dengan agenda Nahdlatul Ulama serta seluruh badan otonom (banom). Kolaborasi lintas elemen menjadi kunci dalam memperbesar dampak gerakan.
Harlah sebagai Momentum Kebangkitan
Gus Budi berharap momentum Harlah Ansor dan Fatayat NU tidak hanya dimaknai sebagai perayaan seremonial, tetapi menjadi titik kebangkitan gerakan pemuda NU yang lebih solid dan progresif.
Dengan kaderisasi yang kuat, inovasi yang berkelanjutan, serta semangat kolaborasi, ia optimistis banom NU di Jati Agung mampu menjadi motor penggerak perubahan di tengah masyarakat.
βSemoga banom NU untuk pemuda-pemudi NU ini mampu menjadi lebih kuat, solid, dan berdaya dalam membangun umat dan bangsa,β pungkasnya. (ARIF)

