Kader NU Harus Hadir dan Berkontribusi di Masyarakat
Lampung Utara, NU Media Jati Agung β Kader NU harus hadir secara nyata di tengah masyarakat dan tidak sekadar datang tanpa memberikan kontribusi.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftah Faqih, menegaskan hal tersebut saat membuka Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) di Pondok Pesantren Walisongo, Abung Selatan, Lampung Utara, Rabu (15/4/2026).
Kader Harus Hadir, Terlibat, dan Memberi Manfaat
Dalam kesempatan itu, Kyai Miftah menjelaskan bahwa kader NU bukan hanya hadir secara fisik, tetapi juga harus terlibat aktif dalam kehidupan masyarakat.
Oleh karena itu, ia mendefinisikan kader hadlir sebagai sosok yang hadir, datang, dan berkontribusi.
βKader itu harus hadir, datang, dan berkontribusi. Jangan hanya sekadar datang tanpa memberi manfaat,β ujarnya, dikutip dari NU Online Lampung.
Selain itu, ia menekankan bahwa khidmah atau pengabdian kepada umat menjadi inti utama peran kader NU di berbagai lini kehidupan sosial.
Perbedaan Datang Biasa dan Datang Membawa Solusi
Selanjutnya, ia membedakan antara sekadar datang (jaβa) dan datang dengan membawa solusi (ataa).
Menurutnya, kader ideal adalah mereka yang mampu menghadirkan solusi konkret atas persoalan yang dihadapi masyarakat.
Dengan demikian, kader NU harus mampu menjawab kebutuhan umat, bukan hanya menjadi bagian dari keramaian tanpa arah yang jelas.
Tawadhu Jadi Kunci dalam Berkhidmah
Di sisi lain, Kyai Miftah juga menegaskan pentingnya sikap tawadhu dalam menjalankan pengabdian.
Ia menyebutkan bahwa pelayanan kepada masyarakat tidak akan berjalan efektif jika masih dilandasi ego pribadi.
βKhidmah tidak bisa berjalan jika masih ada aku dalam diri. Harus tawadhu, mau musyarakah (terlibat bersama), dan mampu berkoeksistensi,β katanya.
Oleh sebab itu, kader NU dituntut untuk mampu bekerja sama serta menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi.

Keseimbangan Ibadah dan Pengabdian Sosial
Lebih lanjut, ia menjelaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara hubungan dengan Allah (hablu minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablu minannas).
Menurutnya, keseimbangan ini menjadi fondasi utama dalam membangun karakter kader NU.
Ia menjelaskan bahwa ibadah menjadi wujud hubungan dengan Allah, sedangkan pengabdian kepada masyarakat menjadi wujud nyata hubungan antar sesama manusia.
Makna Takwa Harus Diwujudkan Secara Nyata
Kemudian, Kyai Miftah menegaskan bahwa konsep takwa tidak cukup dimaknai sebagai rasa takut kepada Allah semata. Sebaliknya, takwa harus diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata yang produktif dan progresif.
βTakwa dan syukur itu tidak hanya diukur dari seberapa lama kita di masjid, tapi seberapa dekat kita dengan masyarakat. Bagaimana kita merespons jika ada yang kelaparan, bagaimana kita memenuhi kebutuhan dasar masyarakat,β jelasnya.
Dengan demikian, indikator keimanan juga terlihat dari kepedulian sosial yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari.
NU Harus Adaptif Menghadapi Perubahan Zaman
Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa lahirnya NU tidak terlepas dari respons terhadap dinamika global.
Ia mencontohkan peran KH Wahab Hasbullah dalam menjaga eksistensi NU di tengah tantangan zaman.
Menurutnya, NU harus terus menjadi pelopor perubahan yang adaptif. Ia menegaskan bahwa organisasi yang tidak mampu beradaptasi akan tertinggal.
βSehebat apa pun, jika tidak adaptif akan musnah, seperti dinosaurus. Sementara yang mampu bertahan adalah yang adaptif,β ujarnya.
Harapan untuk Kader NU Masa Depan
Akhirnya, Kyai Miftah berharap para peserta PMKNU mampu menjadi kader yang kuat secara nilai dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Dengan begitu, mereka dapat membawa perubahan positif bagi umat dan bangsa. (ARIF)

