NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Jejak Banser dari Malang 1937 hingga Era Digital Kini

Lampung Selatan, NU Media Jati Agung — Asisten Pendidikan dan Latihan (Asdiklat) Banser Lampung, Budiono T, menegaskan bahwa Barisan Ansor Serbaguna (Banser) bukan sekadar pasukan pengamanan dalam setiap kegiatan Nahdlatul Ulama (NU), melainkan representasi nyata pengabdian panjang yang berakar sejak masa kolonial hingga era digital saat ini.

Hal tersebut disampaikan Budiono T kepada NU Media Jati Agung melalui pesan WhatsApp, Kamis (23/4/2026).

Pengabdian Panjang Banser dalam Sejarah

Budiono menjelaskan, di balik barisan rapi dan seragam loreng khas Banser, tersimpan sejarah panjang yang mencerminkan semangat Islam Nusantara dalam menjaga agama, negara, dan kemanusiaan.

“Banser bukan hanya organisasi pengamanan. Ia adalah manifestasi nilai-nilai Islam Nusantara yang bergerak dalam bidang kemanusiaan, pertahanan sipil, dan penguatan kedaulatan bangsa,” ujarnya.

Secara administratif, Banser memang dikenal lahir pada 1962. Namun, akar ideologisnya telah tumbuh jauh sebelumnya, seiring kebutuhan akan kekuatan pertahanan di tingkat akar rumput.

Cikal Bakal dari Malang

Budiono mengungkapkan bahwa titik penting sejarah Banser bermula di Malang pada 1937, saat Ansor Nahdlatul Oelama (ANO) mengembangkan organisasi kepanduan bernama Banoe (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama).

Di bawah komando Moh. Syamsul Islam dan bimbingan instruktur Mayor TNI Hamid Rusydi, pasukan Banoe tampil disiplin dan terlatih. Penampilan mereka dalam Kongres II ANO di Malang menarik perhatian luas dan menjadi tonggak ekspansi organisasi ke berbagai daerah.

“Keberhasilan Banoe saat itu menjadi pemicu lahirnya cabang-cabang serupa yang kemudian berkembang menjadi Banser seperti yang kita kenal sekarang,” jelasnya.

Transformasi di Masa Perang

Memasuki masa pendudukan Jepang tahun 1942, kader Banoe mendapatkan pelatihan militer yang lebih terstruktur.

Banyak dari mereka kemudian bergabung dalam Laskar Hizbullah, yang menjadi bagian penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Transformasi tersebut membentuk karakter paramiliter Banser yang masih melekat hingga kini, terutama dalam hal kedisiplinan, loyalitas, dan kesiapsiagaan.

Peran dalam Sejarah Nasional

Budiono juga menyinggung peran Banser dalam dinamika sejarah nasional, termasuk pada periode konflik ideologi tahun 1965.

Gambar Artikel

Menurutnya, Banser menjadi bagian dari kekuatan sosial yang ikut menjaga stabilitas negara di masa sulit tersebut.

Simbol Toleransi: Kisah Riyanto

Dalam konteks modern, Budiono menyoroti sosok pahlawan Banser, Riyanto, sebagai simbol pengabdian tanpa batas.

Riyanto gugur saat menyelamatkan jemaat Gereja Eben Heizer dari ledakan bom pada malam Natal tahun 2000. Pengorbanannya menjadi bukti nyata bahwa Banser hadir sebagai penjaga kemanusiaan lintas agama.

“Peristiwa itu mengubah cara pandang publik. Banser tidak hanya menjaga ulama, tapi juga menjaga nilai kemanusiaan dan toleransi,” kata Budiono.

Banser di Era Digital

Kini, Banser telah berkembang menjadi kekuatan sipil yang adaptif di era digital. Selain menjalankan fungsi pengamanan, Banser juga aktif dalam kegiatan sosial, kebencanaan, hingga penguatan moderasi beragama di tengah masyarakat.

Budiono menegaskan bahwa eksistensi Banser akan terus relevan selama nilai pengabdian tetap dijaga.

“Selama GP Ansor berdiri, Banser akan terus hadir menjaga kyai, menjaga negara, dan menjaga kemanusiaan,” tegasnya.

Momentum Harlah GP Ansor ke-92

Di akhir pernyataannya, Budiono turut menyampaikan ucapan selamat atas Hari Lahir Gerakan Pemuda Ansor ke-92.

Momentum ini, menurutnya, menjadi refleksi penting untuk memperkuat komitmen kader dalam melanjutkan perjuangan organisasi di tengah tantangan zaman.

“Selamat Harlah GP Ansor ke-92. Semoga terus menjadi garda terdepan dalam menjaga NKRI dan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin,” pungkasnya. (ARIF)