Jam’iyyah Ruqyah Satukan Praktisi Nasional
WONOSOBO, NU MEDIA JATI AGUNG, Jam’iyyah Ruqyah Aswaja (JRA) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakerknas) III dan Silaturahmi Nasional (Silatnas) VI pada Sabtu–Ahad, 29–30 Agustus 2026, di Pondok Pesantren Al-Mubaarok Manggisan, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Kegiatan tersebut mempertemukan praktisi JRA dari berbagai daerah sekaligus menjadi ruang konsolidasi untuk memperkuat ukhuwah dan pengembangan dakwah ruqyah.
Agenda Nasional Praktisi JRA
Rakerknas III dan Silatnas VI JRA berlangsung di Pondok Pesantren Al-Mubaarok Manggisan, Jalan Manggisan, Gubrakan, Mudal, Mojo Tengah, Kabupaten Wonosobo. Panitia menjadwalkan kegiatan mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai.
Kegiatan tersebut berlangsung pada 16–17 Rabiul Awal 1448 Hijriah. Selain menjalankan agenda kerja organisasi, pertemuan nasional ini menjadi momentum bagi para praktisi JRA untuk mempererat hubungan dan membangun komunikasi antardaerah.
Silatnas menjadi agenda rutin JRA yang berlangsung sekurang-kurangnya tiga tahun sekali. Forum tersebut menghadirkan praktisi JRA dari berbagai wilayah di Indonesia dalam satu rangkaian silaturahmi nasional.
Silatnas Perkuat Ukhuwah
Pelaksanaan Silatnas memiliki sejumlah perkembangan bagi perjalanan organisasi. Salah satu tujuan pentingnya yaitu membangkitkan semangat ukhuwah dalam menjalankan aktivitas Jam’iyyah Ruqyah Aswaja.
Pertemuan nasional juga memberikan kesempatan bagi para praktisi untuk saling bertemu, bertukar pengalaman, serta memperkuat hubungan dalam menjalankan kegiatan organisasi. Dengan komunikasi yang lebih kuat, para praktisi dapat membangun kesamaan langkah dalam mengembangkan dakwah ruqyah.
Selain itu, forum nasional seperti Silatnas dapat menjadi ruang evaluasi terhadap berbagai dinamika yang muncul dalam aktivitas dakwah. Para praktisi dapat melihat perkembangan di masing-masing daerah sekaligus menyusun langkah yang lebih terarah untuk menghadapi tantangan ke depan.
Tantangan Mengenalkan Ruqyah kepada Gen Z
Dalam perkembangan dakwah saat ini, JRA menghadapi tantangan dalam mengenalkan ruqyah kepada generasi Z. Perkembangan teknologi dan arus informasi membuat generasi muda menerima beragam pemahaman mengenai ruqyah melalui media sosial maupun berbagai platform digital.
Kondisi tersebut menuntut para praktisi untuk menyampaikan pemahaman ruqyah secara tepat dan mudah diterima generasi muda. JRA melihat pentingnya pendekatan yang sesuai dengan karakter generasi Z agar mereka tidak memandang ruqyah sebagai sesuatu yang halu atau sekadar praktik mistis.
“Tantangan dalam berdakwah tentu banyak, salah satunya mengenalkan Ruqyah kpd gen z agar tdk memaknainya dg sesuatu yg halu atau mistis. Ini tantangan kita dalam mengenalkan ruqyah kpd generasi.”
Tantangan tersebut membutuhkan strategi dakwah yang mampu menjembatani pemahaman generasi muda dengan keilmuan ruqyah yang memiliki dasar. Karena itu, para praktisi perlu memperkuat kapasitas keilmuan sekaligus kemampuan komunikasi ketika menyampaikan materi kepada masyarakat.
Keabsahan Sanad Jadi Perhatian
JRA juga menempatkan keabsahan sanad keilmuan sebagai salah satu bagian penting dalam memastikan praktik ruqyah tetap memiliki dasar yang jelas. Sanad keilmuan menjadi salah satu cara untuk memastikan seorang praktisi memperoleh dan mengembangkan ilmu melalui jalur keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Cara memastikan tentunya dg keabsahan sanad keilmuannya.”
Dengan perhatian terhadap sanad keilmuan, organisasi dapat mendorong para praktisi untuk memahami ruqyah secara lebih bertanggung jawab. Langkah tersebut juga dapat membantu masyarakat mengenali praktisi yang memiliki dasar keilmuan ketika mereka membutuhkan layanan ruqyah.
Selanjutnya, penguatan keilmuan juga dapat membantu JRA menghadapi tantangan persepsi masyarakat terhadap ruqyah. Para praktisi perlu menyampaikan informasi secara proporsional agar masyarakat memperoleh pemahaman yang sesuai dengan landasan keilmuan yang menjadi pegangan organisasi.
Sertifikasi Praktisi Jadi Program Utama
Dalam agenda organisasi, JRA menempatkan program sertifikasi praktisi secara nasional sebagai salah satu program utama. Program tersebut menjadi bagian dari upaya organisasi untuk memperkuat standar praktisi JRA di berbagai daerah.
“Program utama, mensukseskan program sertifikasi praktisi secara nasional.”
Program sertifikasi dapat menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas dan profesionalitas praktisi. Melalui program tersebut, organisasi dapat mendorong para praktisi untuk memenuhi standar keilmuan dan kompetensi yang telah ditetapkan.
Di sisi lain, pelaksanaan sertifikasi secara nasional membutuhkan koordinasi yang kuat antara pengurus dan praktisi di berbagai wilayah. Rakerknas dapat menjadi ruang untuk membahas langkah organisasi dalam menjalankan program tersebut secara lebih terarah.
Rakerknas Bahas Penguatan Organisasi
Rakerknas III menjadi bagian penting dalam konsolidasi organisasi JRA. Forum ini dapat mempertemukan pengurus dan praktisi untuk membahas perkembangan program serta menyusun langkah kerja organisasi ke depan.
Sementara itu, Silatnas VI memberikan ruang yang lebih luas bagi praktisi JRA dari berbagai daerah untuk memperkuat hubungan. Kedua agenda tersebut berjalan dalam satu rangkaian kegiatan sehingga dapat menggabungkan kebutuhan organisasi dengan semangat silaturahmi nasional.
Kehadiran praktisi dari berbagai wilayah juga memperkuat komunikasi antardaerah. Melalui pertemuan secara langsung, para peserta dapat membangun jaringan dan mempererat ukhuwah dalam menjalankan aktivitas Jam’iyyah Ruqyah Aswaja.
Menguatkan Dakwah Ruqyah
Penguatan dakwah menjadi salah satu perhatian dalam perkembangan JRA. Tantangan mengenalkan ruqyah kepada generasi Z menunjukkan perlunya strategi komunikasi yang relevan tanpa menghilangkan dasar keilmuan.
Karena itu, penguatan sanad keilmuan dan sertifikasi praktisi dapat berjalan beriringan dengan pengembangan dakwah. Organisasi membutuhkan praktisi yang memiliki pemahaman keilmuan sekaligus mampu menjelaskan ruqyah dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat.
Dengan agenda Rakerknas III dan Silatnas VI, JRA memiliki momentum untuk memperkuat konsolidasi organisasi, membangun ukhuwah antarpaktisi, serta mendorong pelaksanaan program sertifikasi praktisi secara nasional.
Pada akhirnya, rangkaian kegiatan di Pondok Pesantren Al-Mubaarok Manggisan, Wonosobo, menjadi bagian dari upaya JRA memperkuat gerakan organisasi dan dakwah ruqyah. Forum nasional tersebut sekaligus membuka ruang bagi para praktisi untuk menyatukan langkah dalam menghadapi perkembangan zaman dan tantangan dakwah di tengah generasi muda.

