Teheran, NU Media Jati Agung ā Iran menghadapi fase transisi kepemimpinan setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Kini, Iran bergerak cepat untuk menentukan penerus yang akan memimpin republik tersebut.
Dilansir Al-Jazeera dan CNN, Ahad (1/3/2026), rezim ulama Iran langsung mempersiapkan mekanisme suksesi.
Namun, hingga kini, tidak ada nama resmi yang diumumkan sebagai pengganti Khamenei.
Peran Majelis Pakar dalam Suksesi
Sebagai langkah konstitusional, Iran menyerahkan proses pemilihan kepada Majelis Pakar, badan terpilih yang terdiri dari 88 ulama senior. Majelis inilah yang memiliki kewenangan memilih Pemimpin Tertinggi.
Sebelumnya, Majelis Pakar hanya sekali menjalankan tugas tersebut, yakni ketika memilih Khamenei setelah wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1979.
Karena itu, pemerintah Iran berupaya menunjukkan stabilitas politik. Majelis Pakar diperkirakan segera berkumpul untuk membahas kandidat yang memenuhi syarat.
Meski demikian, situasi keamanan menjadi tantangan, terutama setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan pengeboman terhadap rezim Iran akan berlanjut.
Syarat Konstitusional Calon Pemimpin
Menurut konstitusi, Iran mensyaratkan pemimpin baru harus laki-laki dan ulama yang memiliki kompetensi politik, otoritas moral, serta loyalitas terhadap Republik Islam.
Selain itu, Majelis Pakar dapat menafsirkan aturan untuk mengecualikan ulama reformis yang mendukung kebebasan sosial lebih luas dan keterlibatan dengan dunia luar.
Al-Jazeera melaporkan Ali Khamenei sebelum kematiannya telah memberikan empat nama. Namun, hingga kini, publik belum mengetahui identitas keempat nama tersebut.
Dewan Sementara Pimpin Iran
Sementara proses suksesi berjalan, Iran membentuk dewan sementara. Dewan tersebut terdiri dari presiden, kepala kehakiman, dan satu ahli hukum Dewan Penjaga Konstitusi.
Untuk sementara waktu, dewan ini menjalankan seluruh tugas kepemimpinan negara hingga Majelis Pakar menetapkan pemimpin definitif.
Daftar Kandidat Penerus Iran
CNN mengulas sejumlah nama yang dinilai berpotensi menggantikan Khamenei. Berikut kandidat yang mencuat dalam dinamika suksesi Iran:
Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei (56) merupakan putra kedua Khamenei. Ia dikenal memiliki pengaruh kuat di balik layar dan menjalin hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) serta pasukan Basij.
Namun demikian, banyak ulama Syiah tidak menyukai pola suksesi ayah ke anak. Selain itu, Mojtaba tidak memiliki pangkat ulama tinggi maupun jabatan resmi dalam struktur rezim. Amerika Serikat juga menjatuhkan sanksi terhadapnya pada 2019.

Alireza Arafi
Alireza Arafi (67) menjabat sebagai wakil ketua Majelis Pakar dan anggota Dewan Penjaga. Ia juga memimpin sistem seminari Iran.
Menurut Alex Vatanka dari Middle East Institute, kesediaan Khamenei menunjuk Arafi ke posisi strategis menunjukkan bahwa dia memiliki ‘kepercayaan yang besar pada kemampuan birokrasinya’.
Meski begitu, Arafi tidak dikenal sebagai tokoh politik dominan dan tidak memiliki kedekatan kuat dengan lembaga keamanan. Ia juga aktif menulis serta menguasai bahasa Arab dan Inggris.
Mohammad Mehdi Mirbagheri
Mirbagheri (60) dikenal sebagai ulama garis keras dan anggota Majelis Pakar. Ia mewakili sayap konservatif dalam struktur ulama Iran.
Menurut IranWire, dia sangat menentang Barat dan percaya bahwa konflik antara orang beriman dan orang kafir tidak dapat dihindari.
Saat ini, Mirbagheri memimpin Akademi Ilmu-Ilmu Islam di kota suci Qom.
Hassan Khomeini
Hassan Khomeini (50) merupakan cucu Ayatollah Ruhollah Khomeini. Ia memiliki legitimasi religius dan revolusioner karena garis keturunannya.
Namun, ia belum pernah memegang jabatan publik dan memiliki pengaruh terbatas terhadap aparat keamanan maupun elit penguasa. Pada 2016, otoritas melarangnya mencalonkan diri sebagai anggota Majelis Pakar.
Hashem Hosseini Bushehri
Bushehri (60-an) menjabat sebagai wakil ketua pertama Majelis Pakar. Ia memiliki kedekatan dengan Khamenei serta berperan dalam struktur suksesi.
Meski demikian, ia menjaga profil rendah dan tidak memiliki relasi kuat dengan IRGC.
Situasi Politik Iran Masih Dinamis
Saat ini, Iran menghadapi tekanan eksternal dan dinamika internal sekaligus.
Karena itu, proses suksesi akan menentukan arah politik dan stabilitas negara dalam waktu dekat.
Majelis Pakar memegang peran kunci dalam menentukan masa depan Iran, sementara dunia internasional terus memantau perkembangan di Teheran. (ARIF)

