Ziarah Muasis NU Jati Agung Warnai Peringatan HSN 2026
Lampung Selatan, NU Media Jati Agung ā Rois Syuriah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Jati Agung, Kyai Masduki, mengajak santri dan warga Nahdliyin meneladani perjuangan ulama dengan menjaga adab, merawat tradisi keilmuan pesantren, dan mengabdi kepada masyarakat.
Kyai Masduki menyampaikan pesan tersebut saat wawancara bersama NU Media Jati Agung di sela-sela kegiatan ziarah muasis NU Kecamatan Jati Agung, Selasa (20/10/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026.
Menurut Kyai Masduki, ziarah kepada para ulama terdahulu memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mendoakan ahli kubur.
Tradisi ini mengajak umat mengingat kematian, mengenang perjuangan para ulama, dan memperbaiki kualitas ibadah serta akhlak.
āZiarah bukan sekadar mendoakan ahli kubur. Melalui ziarah, kita juga mengingat kematian dan mengambil pelajaran dari perjuangan para ulama,ā ujar Kyai Masduki.
Ziarah Muasis NU Bukan Sekadar Rutinitas
Kyai Masduki mengajak warga Nahdliyin menjadikan ziarah sebagai momentum introspeksi diri.
Menurutnya, setiap peziarah perlu membawa pulang pelajaran yang mampu mengubah perilaku dan memperbaiki kehidupan sehari-hari.
āJangan sampai ziarah hanya menjadi rutinitas. Kita harus mengambil hikmah dari perjuangan para ulama, kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,ā ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga niat dan adab selama berziarah. Sikap sopan, menjaga kebersihan, dan berdoa dengan khusyuk mencerminkan penghormatan terhadap tempat ziarah.
Lebih jauh, Kyai Masduki mengajak warga NU meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
Baginya, keteladanan ulama perlu hadir melalui perbaikan ibadah, akhlak, dan hubungan sosial di tengah masyarakat.
Menghormati Ulama dengan Meneruskan Perjuangannya
Kyai Masduki menilai penghormatan kepada ulama terdahulu harus berjalan seiring dengan usaha meneruskan perjuangan keilmuan mereka.
Generasi muda tidak cukup hanya mengenang jasa para ulama, tetapi juga perlu mempelajari dan mengamalkan ilmu yang mereka wariskan.
āPenghormatan kepada ulama jangan berhenti pada ziarah. Kita juga harus mempelajari ilmu mereka, menjaga sanad keilmuan, dan mengamalkan ajaran yang telah mereka wariskan,ā tuturnya.
Ia menekankan pentingnya menjaga kesinambungan ilmu agama melalui tradisi pesantren, termasuk pembelajaran kitab kuning dan pemeliharaan sanad dari guru ke guru.
Menurutnya, generasi muda NU perlu memperkuat tradisi tersebut agar mampu meneruskan perjuangan ulama sekaligus menjawab persoalan masyarakat sesuai perkembangan zaman.
Adab dan Kesungguhan Menjadi Bekal Santri
Selain menjaga tradisi keilmuan, Kyai Masduki menekankan pentingnya adab dalam menuntut ilmu.
Penghormatan kepada guru, kesabaran, ketekunan, dan kerendahan hati menjadi bekal penting bagi santri.
āSantri tidak cukup hanya memiliki ilmu. Mereka juga harus menjaga adab kepada guru, bersungguh-sungguh dalam belajar, dan mengamalkan ilmunya untuk memberikan manfaat kepada masyarakat,ā jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa penguasaan ilmu harus berjalan seiring dengan pembentukan akhlak.
Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memberi manfaat kepada orang lain.
Karena itu, Kyai Masduki mendorong santri menumbuhkan semangat khidmah atau pengabdian kepada guru, pesantren, dan masyarakat.
Melalui pengabdian tersebut, santri dapat menerapkan ilmu sekaligus melanjutkan perjuangan para ulama.
Menjaga Tradisi Pesantren di Tengah Perubahan Zaman
Kyai Masduki juga menyoroti tantangan pesantren dalam menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan sosial.
Ia mengajak generasi muda mempertahankan tradisi keilmuan tanpa menutup diri terhadap kemajuan.
Ia menjelaskan prinsip al-muhafazhatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, yang berarti memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.
āTradisi lama yang baik harus kita jaga, sementara perkembangan baru yang membawa kebaikan perlu kita manfaatkan. Dengan begitu, pesantren dapat mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya,ā ungkapnya.
Menurut Kyai Masduki, pesantren dapat memanfaatkan teknologi dan media digital untuk menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah yang santun, moderat, dan menghargai perbedaan.
Namun, ia mengingatkan agar pemanfaatan teknologi tetap berjalan seiring dengan penguatan akidah, pemahaman fikih, pembelajaran kitab kuning, dan penjagaan sanad keilmuan.
Dengan pendekatan tersebut, generasi muda diharapkan mampu menghadapi tantangan zaman sekaligus menjaga nilai-nilai yang diwariskan para ulama.
HSN 2026 Menjadi Momentum Meneruskan Perjuangan Ulama
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi kesempatan bagi santri dan warga Nahdliyin untuk memperkuat kecintaan terhadap pesantren serta merefleksikan tanggung jawab mereka dalam kehidupan bermasyarakat.
Kyai Masduki mengajak warga NU menjadikan keteladanan para ulama sebagai pedoman dalam menuntut ilmu, menjaga akhlak, menghormati guru, dan mengabdi kepada umat.
āPerjuangan ulama harus kita lanjutkan melalui ilmu, akhlak, dan pengabdian kepada masyarakat. Itulah cara kita menjaga warisan mereka agar tetap hidup dari generasi ke generasi,ā pungkasnya.
Melalui kegiatan ziarah muasis NU Jati Agung, peringatan HSN 2026 diharapkan semakin memperkuat semangat santri dalam merawat tradisi pesantren, menjaga kesinambungan keilmuan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (ARIF)

