Peran Perempuan NU Menguat di Harlah Fatayat NU
Lampung Selatan, NU Media Jati Agung β Harlah Fatayat NU ke-76 menjadi momentum penting untuk menegaskan peran strategis perempuan dalam menjaga keberlanjutan perjuangan Nahdlatul Ulama.
Dalam refleksinya, Host NU Media Jati Agung, Rere Abyasa, menekankan pentingnya sinergi serta penguatan kapasitas perempuan NU di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Perempuan NU Harus Adaptif Hadapi Perubahan
Seiring perkembangan teknologi dan dinamika sosial yang terus bergerak cepat, perempuan NU harus bersikap adaptif sekaligus progresif.
Oleh karena itu, Rere Abyasa mendorong kader Fatayat NU untuk terus meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan, keterampilan, dan penguatan nilai ke-NU-an.
βFatayat NU harus menjadi ruang tumbuh bagi perempuan muda NU agar mampu menghadapi perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah,β ujarnya.
Penguatan Kapasitas Jadi Kunci Peran Strategis
Selain itu, Rere Abyasa menegaskan bahwa perempuan NU memiliki potensi besar untuk berkontribusi di berbagai sektor kehidupan.
Dengan bekal ilmu dan akhlak yang kuat, perempuan NU dapat berperan aktif dalam bidang sosial, ekonomi, hingga dakwah.
Lebih lanjut, ia menilai tantangan global menuntut perempuan untuk tidak sekadar mengikuti arus, tetapi juga menjadi solusi bagi masyarakat.
Karena itu, penguatan kapasitas diri menjadi kunci utama agar perempuan NU mampu bersaing tanpa meninggalkan nilai keislaman.
Sinergi Fatayat dan Muslimat Perkuat Gerakan
Di sisi lain, Rere juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara Fatayat NU dan Muslimat NU. Menurutnya, sinergi antar generasi perempuan NU menjadi fondasi penting dalam menjaga kesinambungan gerakan organisasi.
Dengan kerja sama yang solid, gerakan perempuan NU dapat berjalan lebih terarah dan berdampak luas.

Bahkan, sinergi tersebut mampu memperkuat posisi perempuan dalam berbagai lini kehidupan masyarakat.
βSinergi ini menjadi kunci agar perjuangan perempuan NU terus berlanjut dan semakin kuat dari generasi ke generasi,β jelasnya.
Perempuan NU Sebagai Penggerak Perubahan
Selanjutnya, Rere Abyasa menegaskan bahwa perempuan NU bukan sekadar pelengkap organisasi.
Sebaliknya, perempuan NU berperan sebagai penggerak perubahan dalam membangun peradaban.
Oleh sebab itu, ia mengajak seluruh perempuan NU untuk terus berkarya dan berkhidmat dengan penuh dedikasi.
Dengan semangat tersebut, perempuan NU dapat menghadirkan solusi serta memberikan manfaat nyata bagi umat, bangsa, dan negara.
Momentum Harlah Perkuat Komitmen Organisasi
Pada akhirnya, Rere Abyasa mengajak seluruh kader Fatayat NU untuk menjadikan Harlah ke-76 sebagai momentum memperkuat komitmen berorganisasi.
Dengan semangat kebersamaan dan nilai Ahlussunnah wal Jamaah, ia optimistis Fatayat NU akan terus berkembang menjadi organisasi perempuan yang maju dan berdaya.
βSemoga Fatayat NU semakin kuat, berdaya, dan terus melahirkan perempuan-perempuan hebat yang berkontribusi nyata bagi peradaban,β pungkasnya. (ARIF)

