Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG – Aktual Informatif dan Terkini

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

01 / 01

Kyai Sahal: Hari Santri Harus Jadi Momentum Pengabdian Nyata Kepada Masyarakat

Pentingnya Menjaga Tradisi Pesantren, Kaderisasi Ulama, dan Persatuan Bangsa

Lampung Selatan, NU Media Jati Agung — Wakil Katib PCNU Lampung Selatan, Kyai Muhammad Sahalludin Mahfudz, menegaskan bahwa peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 harus menjadi momentum memperkuat tradisi pesantren, menyiapkan kader penerus ulama, serta meningkatkan pengabdian kepada masyarakat dan bangsa.

Pesan tersebut disampaikan Kyai Sahal, sapaan akrabnya, dalam wawancara bersama NU Media Jati Agung di sela-sela kegiatan ziarah muasis Nahdlatul Ulama (NU) Jati Agung, Selasa (20/10/2026). Kegiatan itu digelar dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026.

Menurut Kyai Sahal, tantangan santri saat ini tidak hanya berkaitan dengan perkembangan teknologi digital, tetapi juga menjaga nilai-nilai pesantren di tengah perubahan sosial dan munculnya berbagai paham keagamaan.

ā€œTantangan terbesar kita hari ini ada dua,ā€ kata Kyai Sahal.

Ia menjelaskan, tantangan pertama datang dari dalam lingkungan santri, terutama derasnya arus digitalisasi dan paham keagamaan transnasional yang instan.

Kondisi tersebut berpotensi membuat sebagian generasi muda memandang tradisi pesantren sebagai sesuatu yang kuno.

ā€œTradisi pesantren seperti sorogan, bandongan, ngaji kitab kuning, tawadhu’ kepada Kiai, dan khidmah, ini pelan-pelan dianggap kuno oleh sebagian anak muda. Padahal di situlah akar keilmuan dan akhlak santri,ā€ ujarnya.

Tradisi Pesantren sebagai Perekat Persatuan Bangsa

Selain tantangan internal, Kyai Sahal menyoroti polarisasi dan intoleransi yang berkembang di tengah masyarakat.

Ia menilai media sosial dapat menjadi sarana yang memperkeruh hubungan antarkelompok apabila digunakan untuk menyebarkan permusuhan.

Karena itu, Kyai Sahal mendorong santri untuk menjadikan nilai-nilai pesantren sebagai kekuatan dalam menjaga persatuan bangsa.

ā€œMaka tugas santri hari ini bukan hanya menjaga tradisi untuk pesantrennya sendiri, tapi menjadikan tradisi pesantren – yaitu tradisi tawasuth, tawazun, tasamuh dan i’tidal – sebagai perekat keutuhan negeri,ā€ tuturnya.

Foto NU Media Jati Agung: KBNU Jati AgungĀ 

Pihaknya meyakini, penguatan tradisi pesantren dapat menjadi salah satu fondasi untuk merawat kerukunan dan keutuhan bangsa.

ā€œSelama santri kuat memegang tradisinya, insyaAllah negeri ini akan tetap utuh,ā€ tambahnya.

NU Harus Hadir Menjawab Persoalan Masyarakat

Dalam wawancara tersebut, Pengasuh Ponpes Darul Mautaalimin ini juga menekankan pentingnya peran Nahdlatul Ulama dalam menjawab persoalan masyarakat, khususnya di bidang pendidikan, sosial, dan keagamaan.

Menurutnya, NU harus terus berpegang pada khittah perjuangan dengan mengutamakan pengabdian kepada umat.

ā€œNU harus kembali ke khittahnya yaitu berkhidmah kepada umat,ā€ tegasnya.

Di bidang pendidikan, dirinya menilai madrasah, pesantren, dan sekolah-sekolah Ma’arif perlu meningkatkan kualitas tanpa kehilangan identitas ke-NU-an.

ā€œPendidikan NU harus mampu mencetak generasi yang alim, terampil, dan cinta tanah air,ā€ katanya.

Sementara itu, dalam bidang sosial, Kyai Sahal mendorong NU agar hadir secara langsung untuk membantu masyarakat menghadapi persoalan kemiskinan, stunting, judi online, hingga masalah lingkungan.

ā€œLewat LazisNU, LPBI NU, dan Banom-banom, kita harus memastikan kehadiran NU dirasakan manfaatnya, bukan hanya namanya,ā€ ujarnya.

Lebih lanjut, pihaknya mengingatkan agar dakwah keagamaan mengedepankan pendekatan yang menyejukkan dan merangkul seluruh lapisan masyarakat.

ā€œDi bidang keagamaan, NU harus terus menjadi penuntun, bukan penghukum. Dakwah kita harus dengan pendekatan yang rahmah, mengayomi, merangkul semua,ā€ ungkapnya.

Kaderisasi Ulama Harus Dimulai dari Tingkat Ranting

Selain itu, Kyai Sahal turut menyoroti tantangan regenerasi ulama di lingkungan NU. Menurutnya, proses kaderisasi membutuhkan pembinaan yang terarah, penguatan sanad keilmuan, serta kesempatan bagi generasi muda untuk mengabdi.

ā€œTantangan utamanya adalah krisis keteladanan dan minimnya regenerasi yang sistematis,ā€ jelasnya.

Pihaknya menilai sebagian anak muda NU memiliki kemampuan intelektual yang baik, tetapi masih membutuhkan penguatan tradisi keilmuan dan pengabdian.

Di sisi lain, kader yang memiliki bekal ilmu agama dari pesantren juga perlu mendapatkan ruang untuk berkontribusi dalam struktur organisasi.

Karena itu, Kyai Sahal menekankan peran Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) dan Pengurus Ranting NU di tingkat desa sebagai ujung tombak kaderisasi.

ā€œPertama, MWC dan Ranting harus aktif mendata dan membina santri-santri yang baru pulang dari pesantren. Jangan dibiarkan hilang,ā€ katanya.

Lebih lanjut, Mantan Ketua MWCNU Jati Agung ini juga mendorong pengurus NU menghidupkan kembali kegiatan keagamaan dan kaderisasi berjenjang melalui IPNU-IPPNU, Ansor, dan Fatayat.

Selain pembinaan, kader muda perlu memperoleh kesempatan untuk mengambil peran dalam kegiatan organisasi dan keagamaan.

ā€œKyai-kyai sepuh harus legowo memberi kesempatan kepada kader muda untuk memimpin doa, menjadi khotib, menjadi pengurus. Kaderisasi ulama tidak bisa instan, harus disiapkan dari bawah, dari ranting,ā€ tegasnya.

Hari Santri Bukan Sekadar Seremoni

Memasuki peringatan Hari Santri Nasional 2026, Kyai Sahal mengingatkan warga Nahdliyin agar tidak menjadikan momentum tersebut sebatas upacara dan perlombaan.

Ia mengajak seluruh santri menjadikan Hari Santri sebagai kesempatan untuk mengevaluasi diri sekaligus memperkuat kepedulian terhadap sesama.

ā€œMaknai Hari Santri sebagai hari muhasabah. Tanyakan pada diri kita, sudahkah kita berjiwa santri?ā€ pesannya.

Menurutnya, jiwa santri tidak hanya melekat pada orang yang pernah menempuh pendidikan di pesantren.

Lebih dari itu, jiwa santri tercermin melalui keikhlasan, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap sesama.

ā€œSetelah upacara selesai, kembali ke masyarakat. Santri harus jadi solusi. Kalau di desanya ada yang susah, bantu. Kalau ada yang bertengkar, damaikan. Kalau ada yang tidak bisa ngaji, ajari,ā€ ujarnya.

Ia juga mengaitkan semangat pengabdian santri masa kini dengan Resolusi Jihad yang dikobarkan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

ā€œResolusi Jihad yang dikobarkan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dulu adalah jihad mengusir penjajah. Hari ini jihad kita adalah jihad melawan kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan,ā€ kata Kyai Sahal.

ā€œItulah pengabdian nyata seorang santri untuk masyarakat dan bangsa,ā€ lanjutnya.

Filosofi Santri sebagai Pedoman Kehidupan

Dalam kesempatan tersebut, Kyai Sahal juga menyampaikan filosofi santri melalui rangkaian huruf hijaiyah yang membentuk kata santri.

Menurut penjelasannya, filosofi ini mengandung pesan tentang orientasi kehidupan, tanggung jawab meneruskan perjuangan ulama, serta upaya menjaga agama dan akhlak.

Ia kemudian menjabarkan lima makna tersebut sebagai berikut:

–

Ų³ — Ų³ŁŽŲ§Ł„ŁŁƒŁŒ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‰ Ų§Ł„Ł’Ų¢Ų®ŁŲ±ŁŽŲ©Ł: Santri harus menempuh jalan menuju akhirat.

ن — Ł†ŁŽŲ§Ų¦ŁŲØŁŒ Ų¹ŁŽŁ†Ł Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ“ŁŽŲ§ŁŠŁŲ®Ł: Ia merupakan generasi pengganti para guru atau ulama.

ŲŖ — ŲŖŁŽŲ§Ų±ŁŁƒŁŒ Ų¹ŁŽŁ†Ł Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ¹ŁŽŲ§ŲµŁŁŠ: Menjauhkan diri dari kemaksiatan merupakan kewajibannya.

Ų± — Ų±ŁŽŲ§ŲŗŁŲØŁŒ فِي Ų§Ł„Ł’Ų®ŁŽŁŠŁ’Ų±ŁŽŲ§ŲŖŁ: Santri harus senang dalam hal kebaikan.

ي — ŁŠŁŽŲ±Ł’Ų¬ŁŁˆ Ų§Ł„Ų³Ł‘ŁŽŁ„ŁŽŲ§Ł…ŁŽŲ©ŁŽ فِي Ų§Ł„ŲÆŁ‘ŁŁŠŁ†Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„ŲÆŁ‘ŁŁ†Ł’ŁŠŁŽŲ§ ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’Ų¢Ų®ŁŲ±ŁŽŲ©Ł: Ia harus selalu mengharap keselamatan di dalam agama, dunia, dan akhirat.

Filosofi tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan santri tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga pembentukan akhlak, keteladanan, dan kepedulian sosial.

Menutup keterangannya, Kyai Sahal berharap pesan-pesan Hari Santri dapat dipahami dan diterapkan bersama oleh warga Nahdliyin dalam kehidupan sehari-hari.

Peringatan Hari Santri Nasional 2026 diharapkan tidak hanya memperkuat kecintaan terhadap tradisi pesantren, tetapi juga mendorong santri dan warga NU mengambil peran nyata dalam menjaga persatuan, membangun masyarakat, serta meneruskan perjuangan para ulama. (ARIF).