NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Hari Lahir Pancasila: Kembali ke Sila Pertama untuk Menjaga Indonesia

Oleh: Arif Riana

Indonesia Maju, Tetapi Mengapa Masih Banyak Persoalan?

Bandar Lampung, NU Media Jati Agung— Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Momentum ini bukan sekadar mengenang pidato bersejarah yang disampaikan Ir. Soekarno pada 1 Juni 1945, melainkan juga menjadi waktu yang tepat untuk mengevaluasi sejauh mana nilai-nilai Pancasila masih hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jika melihat Indonesia hari ini, kita patut bersyukur atas berbagai kemajuan yang telah dicapai.

Infrastruktur terus berkembang, teknologi semakin maju, akses informasi semakin terbuka, dan berbagai sektor pembangunan terus bergerak.

Namun di balik kemajuan tersebut, bangsa ini masih menghadapi berbagai persoalan yang tidak ringan. Korupsi masih menjadi ancaman serius. Penyalahgunaan jabatan masih terjadi.

Hoaks dan ujaran kebencian menyebar begitu cepat melalui media sosial. Konflik akibat perbedaan pilihan politik maupun pandangan hidup kerap muncul di tengah masyarakat.

Bahkan, nilai sopan santun dan etika yang dahulu menjadi ciri khas bangsa Indonesia perlahan mulai memudar.

Pertanyaannya, mengapa berbagai persoalan tersebut masih terjadi di tengah kemajuan yang kita miliki?

Menurut saya, jawabannya dapat ditemukan dengan membaca kembali Pancasila secara utuh, mulai dari sila yang pertama.

  • Belajar dari Para Pendiri Bangsa

 

Ketika Pancasila dicetuskan pada tahun 1945, Indonesia belum merdeka. Para pendiri bangsa menghadapi tantangan yang luar biasa besar.

Mereka berasal dari latar belakang suku, agama, organisasi, dan pemikiran yang berbeda-beda.

Meski demikian, mereka mampu mengesampingkan kepentingan golongan demi kepentingan bangsa yang lebih besar.

Mereka memahami bahwa Indonesia tidak mungkin berdiri di atas satu kelompok tertentu.

Indonesia hanya dapat bertahan apabila seluruh elemen bangsa memiliki satu titik temu yang mampu mempersatukan perbedaan.

  • Dari kesadaran itulah lahir Pancasila.

 

Ironisnya, setelah lebih dari delapan puluh tahun merdeka, tantangan yang kita hadapi justru memiliki kemiripan dengan masa awal kelahirannya.

Perbedaannya, dahulu perpecahan datang dari ancaman kolonialisme dan kepentingan politik menjelang kemerdekaan.

Kini, perpecahan sering muncul melalui ruang digital, media sosial, serta berbagai kepentingan yang memecah belah masyarakat.

Karena itu, Hari Lahir Pancasila tidak cukup hanya diperingati secara seremonial. Peringatan ini harus menjadi momentum untuk kembali memahami makna yang terkandung di dalamnya.

Sila Pertama Adalah Pondasi Utama

Saya meyakini bahwa kelima sila dalam Pancasila bukanlah kumpulan prinsip yang berdiri sendiri. Kelimanya tersusun secara berurutan dan saling berkaitan satu sama lain.

Semua bermula dari sila pertama:

“Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Sila pertama bukan sekadar pengakuan bahwa bangsa Indonesia percaya kepada Tuhan. Lebih dari itu, sila ini menjadi fondasi moral bagi seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara.

Seseorang yang memiliki kesadaran ketuhanan yang kuat akan memahami bahwa setiap tindakan memiliki pertanggungjawaban, bukan hanya kepada manusia tetapi juga kepada Tuhan.

Dari sinilah karakter, integritas, dan kejujuran dibentuk.

Oleh karena itu, menurut saya, salah satu langkah penting yang perlu dilakukan bangsa ini adalah menghidupkan kembali nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari.

Masjid perlu diramaikan oleh umat Islam.

  • Gereja perlu diramaikan oleh umat Kristen dan Katolik.
  • Pura perlu diramaikan oleh umat Hindu.
  • Vihara perlu diramaikan oleh umat Buddha.
  • Begitu pula rumah-rumah ibadah lainnya sesuai keyakinan masing-masing.

Rumah ibadah tidak hanya berfungsi sebagai tempat ritual keagamaan, tetapi juga sebagai pusat pendidikan moral, pembentukan karakter, dan penanaman nilai-nilai kemanusiaan.

Dari Ketuhanan Lahir Kemanusiaan

Ketika nilai ketuhanan tumbuh dalam diri seseorang, maka sila kedua akan hadir secara alami.

“Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.”

Orang yang memahami ajaran agamanya dengan baik tidak akan mudah menzalimi sesama.

Ia akan menghormati hak orang lain, menjunjung kejujuran, menjaga amanah, dan memperlakukan manusia dengan adil.

Kita sering berbicara tentang pentingnya etika publik, budaya anti korupsi, hingga penghormatan terhadap hak asasi manusia. Namun semua itu pada dasarnya berakar pada kualitas moral manusia itu sendiri.

Karena itu, kemanusiaan yang adil dan beradab tidak lahir secara instan. Ia lahir dari manusia yang memiliki kesadaran spiritual dan moral yang kuat.

Gambar Artikel

Dari Kemanusiaan Lahir Persatuan

Ketika masyarakat telah memiliki sikap adil dan beradab, maka perbedaan tidak lagi dipandang sebagai ancaman.

Di sinilah sila ketiga menemukan maknanya.

“Persatuan Indonesia.”

Persatuan tidak lahir karena paksaan. Persatuan lahir karena adanya rasa saling menghormati.

Masyarakat yang beradab akan mampu menerima perbedaan suku, agama, budaya, dan pilihan politik tanpa harus saling membenci.

Sebaliknya, ketika etika dan kemanusiaan melemah, perbedaan kecil sekalipun dapat berubah menjadi konflik besar.

Karena itu, persatuan Indonesia sesungguhnya merupakan buah dari keberhasilan menjalankan sila pertama dan sila kedua.

Dari Persatuan Lahir Musyawarah yang Sehat

Indonesia adalah negara besar dengan ratusan juta penduduk dan ribuan pulau. Tidak mungkin seluruh rakyat menyampaikan aspirasi secara langsung kepada pemerintah.

Karena itulah sila keempat hadir sebagai solusi.

“Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.”

Sila ini mengajarkan bahwa demokrasi Indonesia tidak hanya berbicara tentang suara terbanyak, tetapi juga tentang kebijaksanaan.

Rakyat membutuhkan wakil-wakil yang mampu menyampaikan aspirasi mereka secara jujur dan bertanggung jawab.

Namun wakil rakyat yang baik tidak lahir secara tiba-tiba. Mereka seharusnya lahir dari masyarakat yang telah mengamalkan sila pertama, sila kedua, dan sila ketiga.

Sebab seseorang yang memiliki ketakwaan, menjunjung kemanusiaan, dan menjaga persatuan akan lebih mampu menjalankan amanah dengan adil dan beretika.

Dari Musyawarah Lahir Keadilan Sosial

Tujuan akhir dari seluruh rangkaian tersebut adalah sila kelima.

“Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.”

Keadilan sosial bukan hanya soal ekonomi. Keadilan sosial berarti setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan, pekerjaan, layanan kesehatan, perlindungan hukum, dan kesejahteraan.

Keadilan sosial juga berarti pembangunan tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, tetapi dapat dirasakan hingga pelosok desa dan lapisan masyarakat yang paling bawah.

Apabila para pemimpin dan wakil rakyat menjalankan amanah dengan benar, maka kebijakan yang lahir akan berpihak kepada kepentingan rakyat banyak.

Pada akhirnya, keadilan sosial menjadi buah dari proses panjang yang dimulai sejak sila pertama.

Pancasila Adalah Satu Kesatuan

Dari uraian tersebut, saya memandang bahwa Pancasila sesungguhnya merupakan satu bangunan utuh yang tidak dapat dipisahkan.

  • Ketuhanan melahirkan kemanusiaan.
  • Kemanusiaan melahirkan persatuan.
  • Persatuan melahirkan musyawarah.
  • Musyawarah melahirkan keadilan sosial.

 

Jika fondasi pertama melemah, maka bangunan di atasnya akan ikut terguncang. Sebaliknya, apabila sila pertama benar-benar hidup dalam kehidupan masyarakat, maka sila-sila berikutnya akan lebih mudah diwujudkan.

Menjadikan Pancasila sebagai Jalan Masa Depan

Bangsa Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Kita juga tidak kekurangan aturan, lembaga, maupun sumber daya alam.

Yang sering kali kita kekurangan adalah keteladanan moral dalam menjalankan semuanya.

Karena itu, memperingati Hari Lahir Pancasila tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan.

Momentum ini harus menjadi ajakan untuk membangun kembali karakter bangsa, dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, rumah ibadah, hingga ruang publik.

Jika nilai ketuhanan hidup dalam hati, maka kemanusiaan akan tumbuh. Jika kemanusiaan tumbuh, persatuan akan semakin kokoh.

Jika persatuan kokoh, musyawarah akan berjalan sehat. Dan jika musyawarah berjalan sehat, keadilan sosial akan lebih mudah diwujudkan.

Itulah sebabnya, menurut saya, jalan menuju Indonesia yang lebih baik harus dimulai dengan kembali menghidupkan sila pertama sebagai fondasi seluruh sila lainnya.

Sebab Pancasila bukan hanya warisan para pendiri bangsa, melainkan kompas yang akan menentukan arah masa depan Indonesia.

“Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.” (ARiF)