Khidmat di NU Harus Mengikuti Proses Organisasi
Jombang, NU Media Jati Agung ā Ketua PWNU Jawa Tengah KH. Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga etika dalam berorganisasi.
Gus Rozin menilai warga Nahdlatul Ulama harus menjalankan pengabdian berdasarkan panggilan untuk berkhidmat.
Ia menyampaikan pandangan tersebut saat wawancara pada Jumat (28/8/2026).
Momentum tersebut berlangsung ketika dinamika menjelang Muktamar NU semakin mendapat perhatian warga Nahdlatul Ulama.
Muktamar NU akan menentukan kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU periode 2026ā2031.
Nama Gus Rozin juga muncul dalam pembicaraan mengenai kandidat calon Ketua Umum PBNU.
Meski demikian, Gus Rozin menekankan pentingnya menjaga sikap dalam menjalankan proses organisasi.
Menurutnya, warga NU memiliki banyak ruang untuk memberikan pengabdian.
Setiap kader dapat memilih bentuk pengabdian sesuai kemampuan dan perannya masing-masing.
Namun, setiap bentuk pengabdian harus tetap mengikuti aturan serta mekanisme organisasi.
āKita di Nahdlatul Ulama ini harus selalu merasa terpanggil untuk berkhidmat dengan cara apa pun. Tidak boleh memaksakan diri, tapi juga harus tetap mengikuti proses yang ada,ā kata Gus Rozin.
Pernyataan tersebut menunjukkan pandangannya mengenai pentingnya keseimbangan antara semangat mengabdi dan penghormatan terhadap proses organisasi.
Gus Rozin tidak ingin semangat berkhidmat berubah menjadi dorongan untuk mengejar posisi tertentu.
Ia juga mengingatkan kader agar tidak memaksakan kehendak dalam menentukan arah pengabdian.
Pengabdian Tidak Berorientasi Jabatan
Gus Rozin memandang jabatan bukan sebagai tujuan utama dalam kehidupan organisasi.
Ia mengajak warga NU melihat kembali niat sebelum mengambil peran dalam struktur organisasi.
Menurutnya, setiap kader perlu mengutamakan kepentingan NU daripada kepentingan pribadi.
Sikap tersebut dapat membantu kader menjaga hubungan baik dengan sesama pengurus dan warga NU.
Gus Rozin juga mengingatkan kader agar tidak merasa memiliki posisi paling benar dalam organisasi.
Ia menilai setiap orang perlu melakukan evaluasi terhadap kualitas pengabdiannya sendiri.
āNU baik, kita masuk Nahdlatul Ulama itu supaya baik. Kita tidak boleh berniat memperbaiki Nahdlatul Ulama, karena yang kurang baik mungkin adalah perkhidmatan kita,ā ujarnya.
Pernyataan itu menekankan pentingnya introspeksi bagi setiap warga NU.
Gus Rozin mengajak kader melihat kekurangan dalam pengabdian masing-masing sebelum menilai organisasi.
Menurutnya, sikap tersebut dapat menjaga kerendahan hati dalam menjalankan amanah organisasi.
Kader juga perlu memahami bahwa NU memiliki tradisi dan nilai yang berkembang dalam perjalanan panjang.
Tradisi tersebut lahir melalui proses panjang bersama para ulama dan warga Nahdlatul Ulama.
Karena itu, kader perlu menjaga nilai tersebut ketika menjalankan aktivitas organisasi.
Dinamika Menjelang Muktamar NU
Muktamar NU menjadi salah satu agenda penting bagi perjalanan organisasi Nahdlatul Ulama.
Forum tersebut akan menentukan kepemimpinan PBNU untuk periode 2026ā2031.
Momentum tersebut juga memunculkan berbagai pembicaraan mengenai arah kepemimpinan NU ke depan.
Sejumlah nama kemudian muncul dalam dinamika bursa kandidat Ketua Umum PBNU.
Gus Rozin termasuk salah satu nama yang mendapat perhatian dalam pembicaraan tersebut.
Namun, ia tetap menekankan pentingnya menghormati proses organisasi.
Menurutnya, setiap warga NU perlu mengikuti tahapan yang berlaku.
Kader juga perlu menjaga suasana organisasi agar tetap kondusif selama proses berlangsung.
Sikap tersebut penting untuk menjaga persaudaraan di antara warga NU.
Perbedaan pandangan tidak harus menghilangkan hubungan baik antarkader.
Sebaliknya, setiap kader dapat menyampaikan pandangan dengan tetap mengedepankan etika organisasi.
Mengutamakan Persaudaraan dan Tradisi NU
Gus Rozin menilai semangat khidmat harus menjadi dasar dalam menjalankan aktivitas organisasi.
Kader perlu menempatkan kepentingan NU di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Sikap tersebut dapat memperkuat soliditas organisasi dalam menghadapi berbagai agenda besar.
Muktamar juga menjadi momentum bagi warga NU untuk memperkuat kembali semangat persaudaraan.
Proses pergantian kepemimpinan perlu berjalan dengan mengedepankan nilai organisasi.
Kader juga perlu menjaga komunikasi agar perbedaan pilihan tidak berkembang menjadi konflik.
Gus Rozin berharap warga NU tetap memegang nilai pengabdian dalam setiap proses organisasi.
Ia juga mengingatkan pentingnya menghormati tahapan yang telah berjalan.
Menurutnya, proses organisasi memiliki mekanisme yang perlu dihargai seluruh pihak.
Sikap tersebut dapat menjaga keberlangsungan tradisi organisasi yang telah berkembang selama puluhan tahun.
Jabatan Bukan Ukuran Pengabdian
Dalam pandangan Gus Rozin, seseorang tidak harus memiliki jabatan untuk memberikan manfaat bagi NU.
Warga NU dapat berkhidmat melalui berbagai bidang sesuai kemampuan masing-masing.
Pengabdian dapat berlangsung melalui kegiatan sosial, pendidikan, dakwah, ekonomi, maupun pelayanan masyarakat.
Karena itu, kader tidak perlu memaksakan diri untuk mendapatkan posisi tertentu.
Semangat tersebut sejalan dengan pesan Gus Rozin mengenai pentingnya ketulusan dalam berorganisasi.
Kader perlu memandang setiap kesempatan sebagai ruang untuk memberikan manfaat.
Mereka juga perlu menghindari persaingan yang dapat mengganggu hubungan antarsesama warga NU.
Dengan demikian, proses organisasi dapat berjalan dengan lebih sehat.
Pengabdian juga dapat tumbuh tanpa harus bergantung pada jabatan struktural.
Menjaga Etika dalam Muktamar
Menjelang Muktamar NU periode 2026ā2031, pesan mengenai etika organisasi menjadi perhatian penting.
Warga NU menghadapi momentum yang menentukan arah kepemimpinan PBNU untuk periode berikutnya.
Setiap pihak memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan dan pilihan.
Namun, seluruh proses tetap membutuhkan sikap saling menghormati.
Gus Rozin mengajak warga NU menjaga semangat khidmat dalam menghadapi dinamika tersebut.
Ia juga mendorong kader agar tidak menjadikan jabatan sebagai ukuran keberhasilan pengabdian.
Semangat berkhidmat dapat menjadi kekuatan untuk menjaga persatuan warga NU.
Kader juga dapat memperkuat komunikasi dan persaudaraan selama proses Muktamar berlangsung.
Pesan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa NU memiliki tradisi organisasi yang perlu dijaga bersama.
Setiap kader memiliki tanggung jawab untuk meneruskan nilai pengabdian para ulama pendahulu.
Dengan menjaga proses dan etika, warga NU dapat menghadapi dinamika organisasi secara lebih dewasa.
Gus Rozin berharap semangat khidmat tetap menjadi landasan utama setiap kader.
Ia menilai pengabdian yang tulus akan memberikan manfaat lebih besar bagi organisasi.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kepentingan NU perlu mendapat perhatian utama.
Muktamar bukan sekadar momentum memilih kepemimpinan baru.
Forum tersebut juga menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan dan menjaga kesinambungan organisasi.
Karena itu, seluruh warga NU perlu menjaga sikap selama proses berlangsung.
Semangat khidmat, penghormatan terhadap mekanisme, dan persaudaraan menjadi nilai penting dalam menghadapi Muktamar.
Pesan Gus Rozin mengarah pada satu prinsip utama dalam kehidupan organisasi.
Kader perlu mengabdi dengan tulus tanpa memaksakan diri mengejar jabatan.
Mereka juga perlu menghormati proses yang telah menjadi bagian dari mekanisme Nahdlatul Ulama.
Dengan prinsip tersebut, dinamika organisasi dapat tetap berjalan dalam suasana persaudaraan.

