Jawa Timur, NU Media Jati Agung — Di tengah kehidupan pesantren yang sarat tradisi keilmuan dan nilai-nilai keislaman, hadir sosok santri muda dengan karakter yang berbeda.
Ia adalah Gus Abdul Hannan Majdy bin Amanulloh, salah satu generasi muda dari keluarga besar Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Gus Abdul Hannan Majdy merupakan bagian dari keluarga besar keturunan KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu tokoh penting dalam sejarah Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki perhatian besar terhadap persoalan keumatan dan kebangsaan.
Namun, latar belakang keluarga ulama tidak membuat Gus Hannan sekadar membanggakan garis keturunan.
Ia justru menjadikan warisan tersebut sebagai bagian dari perjalanan untuk memahami gagasan para pendahulunya dan menerjemahkannya dalam konteks kehidupan generasi muda serta persoalan kebangsaan hari ini.
NU Media Jati Agung melihat sosok tersebut saat melakukan sowan dan bersilaturahmi langsung dengan Gus Hannan pada Sabtu (22/8/2026).
Dalam pertemuan itu, redaksi melihat figur muda yang tampil santai dan khas, tetapi memiliki ketertarikan terhadap berbagai persoalan sosial, kepemudaan, keislaman, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sosok Nyentrik di Tengah Tradisi Pesantren
Kesan “nyentrik” yang melekat pada Gus Hannan bukan sekadar soal penampilan atau cara berkomunikasi. Karakter tersebut juga terlihat dari keberaniannya melihat berbagai persoalan melalui sudut pandang yang berbeda.
Di balik sikapnya yang santai dan khas anak muda, Gus Hannan Amanulloh, sapaan yang biasa digunakan untuknya, menunjukkan perhatian terhadap berbagai persoalan masyarakat.
Kehidupan sosial, perkembangan zaman, kepemudaan, serta hubungan antara nilai-nilai keislaman dan kehidupan berbangsa menjadi bagian dari ruang pemikirannya.

Karakter tersebut menunjukkan bahwa kehidupan pesantren memiliki beragambentuk ekspresi.
Santri dapat tumbuh dengan karakter berbeda, mengikuti perkembangan zaman, serta menyampaikan gagasan menggunakan bahasa yang dekat dengan generasi muda tanpa kehilangan akar tradisinya.
Gus Hannan dan Warisan Pemikiran Mbah Wahab
Bagi keluarga besar Tambakberas, nama KH Abdul Wahab Chasbullah bukan sekadar nama seorang ulama.
Mbah Wahab merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah NU yang memiliki perjalanan panjang dalam perjuangan keumatan dan kebangsaan.
Lingkungan keluarga dan pesantren kemudian menjadi ruang bagi generasi setelahnya untuk mengenal sekaligus mengembangkan warisan pemikiran tersebut, termasuk Gus Hannan.
Ia tumbuh dalam lingkungan pesantren yang mempertemukan tradisi keilmuan Islam dengan realitas kehidupan masyarakat.
Dari lingkungan itu, pembahasan mengenai agama, kebangsaan, persatuan, dan masa depan generasi muda terus menemukan ruang untuk berkembang.
Pendidikan pesantren pun tidak berhenti pada penguasaan ilmu keagamaan. Pesantren juga mengajarkan santri untuk membaca realitas sosial dan memahami persoalan masyarakat.
“Pesantren itu bukan hanya tempat belajar kitab. Pesantren juga mengajarkan bagaimana kita membaca kehidupan, memahami masyarakat, dan mengambil peran dalam kehidupan berbangsa,” jelasnya.
Pemikiran tersebut menunjukkan bahwa tradisi pesantren tidak hanya menjadi warisan masa lalu. Nilai-nilai tersebut juga dapat menjadi bekal generasi muda dalam menghadapi perubahan zaman.
Islam, Kebangsaan, dan Generasi Muda
Perhatian Gus Hannan terhadap hubungan antara Islam dan kehidupan kebangsaan menjadi salah satu hal yang menarik dari sosoknya.
Dalam tradisi pemikiran NU, agama dan kecintaan terhadap tanah air tidak harus berhadapan.
Nilai-nilai keislaman justru dapat menjadi landasan moral dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai, adil, dan berkeadaban.
Pandangan tersebut memiliki akar sejarah panjang dalam perjalanan para ulama NU, termasuk KH Abdul Wahab Chasbullah.
Tantangannya kini terletak pada bagaimana generasi muda menerjemahkan gagasan tersebut menggunakan bahasa yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Generasi muda menghadapi persoalan yang semakin kompleks. Persoalan kebangsaan tidak hanya berkaitan dengan politik dan pemerintahan, tetapi juga menyentuh teknologi, media sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, serta tantangan menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Karena itu, generasi muda tidak cukup hanya menghafal sejarah pemikiran para ulama.
Mereka juga perlu memahami gagasannya dan menemukan relevansinya dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Santri Muda dan Masa Depan Indonesia
Gus Hannan menjadi salah satu gambaran bahwa pesantren terus melahirkan generasi dengan karakter dan cara berpikir yang beragam.
Dari lingkungan Tambakberas, ia memperoleh warisan ilmu agama sekaligus pengalaman hidup yang mempertemukan tradisi keilmuan dengan realitas sosial masyarakat.
Sosoknya yang dianggap “nyentrik” justru memperlihatkan warna dunia pesantren. Ada santri yang tampil sederhana, serius dalam belajar, aktif berdiskusi, terlibat dalam kegiatan sosial, maupun memiliki gaya komunikasi yang khas.
Perbedaan karakter tersebut bukan persoalan selama santri tetap berpijak pada ilmu dan kebermanfaatan.
Bagi Gus Hannan, menjadi bagian dari keluarga besar ulama juga berarti memikul tanggung jawab untuk terus belajar, membuka wawasan, berdialog dengan perkembangan zaman, dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Dari Tambakberas untuk Generasi Muda
Pertemuan NU Media Jati Agung dengan Gus Hannan pada Sabtu (22/8/2026) membuka gambaran lebih dekat mengenai cara generasi muda pesantren memandang perubahan zaman.
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat, pesantren tetap memiliki ruang penting dalam membentuk generasi yang memiliki akar tradisi sekaligus mampu membaca masa depan.
Gus Hannan mungkin tampil dengan gaya yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut justru menjadi warna tersendiri dalam kehidupan pesantren.
Ia menunjukkan bahwa seseorang dapat berani berbeda dalam cara berpikir, tetapi tetap berpijak pada tradisi. Generasi muda juga dapat terbuka terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Membicarakan masa depan pun tidak berarti harus meninggalkan sejarah para pendahulu.
Dari Tambakberas, semangat tersebut terus menemukan bentuknya melalui generasi muda.
Di situlah sosok Gus Abdul Hannan Majdy menjadi menarik untuk diperhatikan. Bukan semata karena ia berasal dari keluarga besar ulama, melainkan karena ia berusaha menerjemahkan warisan tersebut melalui pemikiran, sikap, dan kebermanfaatan bagi masyarakat serta masa depan bangsa. (Wawan Hidayat)


