NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Deteksi Dini Gizi Buruk Jadi Kunci Tekan Stunting

Deteksi Dini Gizi Buruk Jadi Fokus Dinkes Bandar Lampung

Bandar Lampung, NU Media Jati Agung – Deteksi dini gizi buruk menjadi langkah utama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandar Lampung untuk menekan angka stunting.

Melalui puskesmas dan posyandu, pemerintah kota memperkuat pemeriksaan status gizi sejak masa kehamilan hingga anak memasuki usia balita.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Tumenggung, mengatakan petugas kesehatan melakukan pemeriksaan status gizi di seluruh puskesmas, baik puskesmas rawat jalan maupun puskesmas pembantu.

Pemeriksaan tersebut meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan, berat badan menurut umur, serta berat badan menurut tinggi badan.

Pemeriksaan Gizi Dilakukan di Puskesmas dan Posyandu

Muhtadi menegaskan bahwa pemeriksaan rutin membantu petugas mengenali masalah gizi lebih cepat.

Dengan demikian, pemerintah dapat segera memberikan penanganan kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Deteksi dini dilakukan di seluruh puskesmas, baik puskesmas rawat jalan maupun puskesmas pembantu, dengan memeriksa status gizi masyarakat melalui pengukuran berat badan, tinggi badan, berat badan menurut umur, serta berat badan menurut tinggi badan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung Muhtadi Arsyad Tumenggung, di Bandar Lampung, Minggu.

Muhtadi menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan tersebut membantu petugas mengetahui kondisi gizi masyarakat sejak dini. Karena itu, pemerintah dapat segera memberikan intervensi sesuai kebutuhan.

“Selain di puskesmas, deteksi dini juga dilakukan melalui kegiatan posyandu yang diselenggarakan setiap bulan. Saat ini Kota Bandar Lampung memiliki 706 posyandu yang tersebar di 126 kelurahan,” kata dia.

Intervensi Gizi Diberikan Sejak Masa Kehamilan

Selain melakukan pemeriksaan, Dinkes juga mengoptimalkan edukasi kepada masyarakat.

Di setiap posyandu, petugas menimbang berat badan balita, mengukur tinggi badan, dan memeriksa indikator status gizi lainnya sehingga mereka dapat mengenali balita yang mengalami kekurangan gizi maupun berisiko stunting.

Selanjutnya, kader posyandu memberikan edukasi kepada orang tua mengenai penyusunan menu bergizi seimbang sekaligus menyediakan contoh makanan melalui Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT).

“Sebagai tindak lanjut, kader posyandu juga memberikan edukasi kepada orang tua mengenai penyusunan menu bergizi seimbang sekaligus menyediakan contoh makanan melalui program pemberian makanan tambahan (PMT),” katanya.

Gambar Artikel

Muhtadi menambahkan bahwa Dinkes juga memberikan intervensi kepada ibu hamil melalui Program PMT lokal serta pemberian tablet tambah darah.

Langkah tersebut bertujuan menjaga kondisi gizi ibu agar dapat melahirkan bayi yang sehat.

“Pencegahan stunting harus dilakukan secara berkesinambungan mulai dari masa kehamilan, kelahiran hingga anak memasuki usia balita. Kalau kondisi gizi ibu tidak baik saat hamil, bayi yang dilahirkan juga berisiko mengalami masalah gizi. Karena itu, penanganannya harus dilakukan berdasarkan siklus kehidupan, dimulai sejak ibu hamil,” katanya.

Angka Stunting Menurun

Muhtadi mengungkapkan bahwa angka stunting di Kota Bandar Lampung menunjukkan tren penurunan.

Pada 2024, petugas menemukan 47 balita stunting dari 207 balita yang diperiksa atau sekitar 22,7 persen.

Sementara itu, pada 2025 jumlah tersebut turun menjadi sekitar 40 balita dengan prevalensi sekitar 15 persen.

Muhtadi menyatakan optimistis berbagai program yang berjalan mampu menurunkan angka stunting secara bertahap.

“Jadi, dari 2024 ke 2025 ini kan ada penurunan. Harapan di 2026 ini akan terjadi penurunan yang lebih baik lagi,” ujarnya.

Selain itu, Muhtadi berharap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pusat dapat meningkatkan status gizi bayi, balita, dan ibu hamil sehingga penurunan stunting berlangsung lebih optimal.

“Selain kami juga terus mengoptimalkan berbagai upaya untuk mengoptimalkan penurunan stunting di kota ini,” kata dia. (Ahmad Royani, S.H.I)