Debu Vulkanik Mulai Dirasakan Warga Jati Agung
Lampung Selatan, NU Media Jati Agung ā Debu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) mulai dirasakan warga di wilayah Jati Agung, Lampung Selatan, Sabtu (5/9/2026) malam.
Sekitar pukul 19.30 WIB, debu halus mengganggu pengendara yang melintas menuju Pasar Jatimulyo dan mulai masuk ke sejumlah rumah warga.
Paparan debu terasa cukup mengganggu karena partikel halus masuk ke mata pengendara hingga menimbulkan rasa perih.
Kondisi tersebut juga membuat warga mulai menggunakan masker dan kacamata ketika beraktivitas di luar rumah.
Pengendara Keluhkan Debu Masuk ke Mata
Kondisi tersebut dirasakan langsung saat aktivitas warga berlangsung di sekitar Pasar Jatimulyo. Debu yang terbawa angin masuk ke mata sejumlah pengendara, terutama mereka yang tidak menggunakan pelindung wajah.
Ria, salah satu warga Dusun Jati Sari, Desa Jatimulyo, mengatakan dirinya mengalami kondisi tersebut saat menuju Pasar Jatimulyo untuk mencari kebutuhan sekolah anak.
“Iya, saya tadi ke pasar Jatimulyo mau cari keperluan untuk anak sekolah, karena tidak pakai helm debu masuk ke mata, rasanya perih sekali,” ujarnya kepada NU Media Jati Agung, Sabtu malam (5/9/2026).Ā
Warga Mulai Membeli Masker dan Kacamata
Setibanya di salah satu toko di Pasar Jatimulyo, Ria melihat sejumlah warga juga mengeluhkan kondisi serupa. Banyak warga kemudian membeli masker dan kacamata untuk mengurangi paparan debu.
” Banyak yang beli masker sama kacamata, debu juga sampai menempel dibaju, kita harus waspada dan hati hati jangan lupa pakai masker,” Ujarnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa paparan debu tidak hanya dirasakan oleh satu warga.
Sejumlah pengguna jalan dan warga yang berada di sekitar pasar juga merasakan gangguan akibat debu yang beterbangan.
Debu Halus Mulai Menempel di Rumah dan Kendaraan
Selain mengganggu aktivitas warga di jalan, debu halus juga mulai masuk ke sejumlah rumah di wilayah Jati Agung.
Debu berwarna hitam dan bertekstur halus terlihat menempel pada permukaan lantai serta bagian rumah lainnya. Ketika warga menyapu, material tersebut terlihat cukup jelas.
Kendaraan yang terparkir di luar rumah juga tidak luput dari paparan. Permukaan kendaraan terlihat ditempeli lapisan debu setelah berada di ruang terbuka.
Erupsi Anak Krakatau Masih Berlangsung
Sementara itu, kondisi tersebut terjadi saat Gunung Anak Krakatau masih mengalami erupsi menerus.
Badan Geologi melalui laporan khusus Nomor 1512.Lap/GL.03/BGL/2026 tertanggal 5 September 2026 mencatat aktivitas erupsi menerus Gunung Anak Krakatau disertai suara gemuruh dan semburan merah menyala yang terlihat terus-menerus dari Pos Pengamatan.
Badan Geologi menjelaskan fenomena tersebut menyerupai lava fountain atau lava air mancur. Aktivitas Gunung Anak KrakataĀ hingga laporan tersebut masih berada pada Level III atau Siaga.
Abu Vulkanik Dilaporkan Mencapai Sejumlah Wilayah Lampung
Laporan lapangan pada Sabtu malam juga menunjukkan debu vulkanik mulai mengganggu warga di sejumlah wilayah Lampung, termasuk kawasan sekitar Jati Agung. Warga melaporkan debu menempel pada kendaraan, jalan, serta bagian rumah.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di luar rumah. Penggunaan masker dan pelindung mata juga penting ketika debu mulai beterbangan.
Badan Geologi Tetapkan Radius Bahaya 3 Kilometer
Badan Geologi meminta masyarakat, nelayan dan wisatawan, tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat juga perlu mewaspadai potensi awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.
Badan Geologi meminta masyarakat mengikuti perkembangan aktivitas gunung melalui informasi resmi PVMBG, MAGMA Indonesia, dan Badan Geologi.
Sementara itu, kondisi debu yang mulai dirasakan warga Jati Agung menjadi perhatian di lapangan.
Warga diimbau tetap tenang, membatasi paparan debu, serta mengikuti informasi dan arahan resmi dari pemerintah maupun instansi terkait. (ARIF)

