Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

01 / 01

Dari Tubaba ke Tambakberas, Mas Lulud Jemput Ruh Khidmah

Mas Lulud Datang Mandiri ke Muktamar NU ke-35

JOMBANG, NU Media Jati Agung — Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang, tidak hanya menjadi forum pergantian kepengurusan atau penentuan arah kepemimpinan organisasi. Bagi Muhammad Ludfi Azis, atau Mas Lulud, momentum ini menjadi ruang untuk mendekat pada sejarah, belajar dari perjuangan para muasis NU, dan menjemput kembali ruh khidmah.

Mas Lulud, yang dikenal sebagai pemegang akun resmi Facebook NU Tubaba Lampung, datang dari Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, secara mandiri.

Ia tidak membawa rombongan besar maupun ambisi jabatan. Mas Lulud datang atas inisiatif sendiri dengan niat menyaksikan secara langsung perjalanan Muktamar NU ke-35 sekaligus membawa semangat khidmah tersebut pulang ke Tubaba.

Panggilan Hati Membawa Mas Lulud ke Tambakberas

Ketika ditanya alasan datang secara mandiri dari Tubaba ke Tambakberas, Mas Lulud menyebut adanya panggilan hati.

ā€œSaya merasa ada panggilan hati.

Muktamar NU ke-35 ini bagi saya bukan sekadar agenda organisasi yang kebetulan diselenggarakan di Tambakberas. Ini adalah momentum untuk mendekat kepada sejarah dan jejak perjuangan para muasis NU.

Saya datang dengan kemampuan saya sendiri dan atas inisiatif sendiri. Tidak ada ambisi jabatan yang saya bawa ke sini.

Saya hanya ingin hadir, melihat, belajar dan merasakan langsung bagaimana para kader NU bermusyawarah menentukan arah perjalanan organisasi.

Karena ada hal-hal yang tidak bisa kita rasakan hanya melalui layar handphone. Ada suasana, ada silaturahmi, ada doa, ada perjuangan, dan ada ruh khidmah yang terasa ketika kita hadir langsung.ā€

Media Sosial Menjadi Ladang Khidmah

Sebagai pengelola akun resmi Facebook NU Tubaba Lampung, Mas Lulud melihat perkembangan teknologi sebagai bagian dari medan khidmah generasi NU saat ini.

ā€œBagi saya, media sosial adalah ladang khidmah.

Kalau dahulu para ulama berkhidmah dengan ilmu, tenaga, harta dan perjuangan fisik, maka generasi hari ini memiliki tantangan dan medan perjuangan yang berbeda.

Kita hidup di era digital. Informasi bergerak begitu cepat. Maka kemampuan membuat konten, menulis, mengambil gambar dan menyebarkan informasi juga harus diarahkan untuk kemaslahatan.

Saya berusaha menjadikan akun resmi Facebook NU Tubaba sebagai ruang untuk menyampaikan informasi, kegiatan, nilai-nilai ke-NU-an dan semangat kebersamaan kepada warga Nahdliyin.

Tidak besar mungkin kontribusinya. Tetapi saya percaya, khidmah yang dilakukan dengan ikhlas tidak pernah kecil di hadapan Allah.ā€

Muktamar Bukan Sekadar Pergantian Pengurus

Mas Lulud menilai warga NU tidak cukup memaknai Muktamar hanya dari sisi pergantian pengurus. Menurut dia, forum tersebut juga membawa amanah sejarah dan umat.

ā€œTidak.

Kalau Muktamar hanya dimaknai sebagai pergantian pengurus, maka kita akan kehilangan makna terdalam dari Muktamar itu sendiri.

Muktamar adalah musyawarah besar. Di dalamnya ada amanah umat, ada sejarah perjuangan ulama, ada doa para pendahulu, dan ada harapan warga Nahdliyin.

Kita boleh membicarakan siapa yang menjadi pemimpin. Kita boleh berbeda pilihan. Tetapi jangan sampai kita lupa bahwa kepemimpinan dalam NU pada hakikatnya adalah amanah untuk berkhidmah.

Jabatan boleh berganti. Pengurus boleh berganti. Tetapi ruh khidmah jangan sampai ikut berganti.ā€

Tambakberas Menghadirkan Rasa Haru

Kehadiran langsung di Tambakberas juga memberi pengalaman tersendiri bagi Mas Lulud. Ia mengaku merasakan haru ketika berada di lingkungan yang memiliki sejarah panjang pesantren dan NU.

ā€œJujur, ada rasa haru.

Kita datang ke tempat yang memiliki sejarah panjang perjalanan pesantren dan NU. Ketika berada di sini, kita seperti sedang melihat kembali jejak para ulama yang dahulu berjuang dengan segala keterbatasan.

Kita yang hidup sekarang menikmati banyak kemudahan. Untuk datang ke Jombang saja kita bisa menggunakan kendaraan, komunikasi bisa dilakukan melalui handphone, informasi bisa tersebar dalam hitungan detik.

Sementara para pendahulu kita berjuang dalam keadaan yang jauh lebih sulit.

Maka saya merasa malu kalau generasi sekarang hanya sibuk memperebutkan posisi, tetapi lupa kepada tujuan awal perjuangan.

Muktamar seharusnya menjadi ruang untuk mengingat kembali siapa kita, dari mana kita berasal, dan untuk apa kita berkhidmah.ā€

Keberkahan Muncul dari Niat dan Adab

Mas Lulud tidak mengklaim secara berlebihan soal keberkahan Muktamar di Tambakberas. Namun, ia melihat tempat yang memiliki sejarah perjuangan ulama dapat memberikan pelajaran bagi setiap Nahdliyin yang datang dengan niat baik.

ā€œSaya tidak ingin mengklaim sesuatu yang berada di luar kemampuan saya.

Tetapi sebagai seorang Nahdliyin, saya percaya bahwa tempat yang memiliki sejarah perjuangan para ulama selalu mengajarkan sesuatu kepada kita.

Keberkahan itu bisa hadir ketika kita datang dengan niat baik, menghormati ulama, menjaga adab dan membawa semangat khidmah.

Saya datang bukan untuk mencari keuntungan pribadi.

Saya ingin menyaksikan Muktamar, mengambil pelajaran, kemudian membawa semangat itu pulang.

Kalau setelah pulang dari sini kita menjadi lebih cinta kepada NU, lebih menghormati ulama, lebih rajin berkhidmah dan lebih peduli kepada umat, itulah keberkahan yang menurut saya paling nyata.ā€

Anak Muda NU Harus Hadir di Ruang Digital

Mas Lulud juga menyoroti peran anak muda NU dalam perkembangan teknologi. Ia menilai generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton ketika ruang digital terus berkembang.

ā€œAnak muda NU tidak boleh hanya menjadi penonton.

Ruang digital hari ini adalah salah satu medan perjuangan.

Kalau generasi muda NU tidak hadir, maka narasi tentang NU akan dibentuk oleh orang lain. Karena itu, kita harus hadir dengan konten yang mencerdaskan, menyejukkan dan memperkuat persatuan.

Tidak semua harus menjadi pengurus.

Ada yang berkhidmah melalui pendidikan. Ada yang melalui pesantren. Ada yang melalui ekonomi. Ada yang melalui sosial. Dan ada pula yang berkhidmah melalui media dan konten digital.

Saya kira semuanya memiliki nilai selama niatnya benar dan orientasinya adalah kemaslahatan.ā€

Membawa Ruh Muktamar Pulang ke Tubaba

Bagi warga NU Tubaba yang tidak dapat hadir langsung, Mas Lulud menyampaikan bahwa jarak geografis tidak seharusnya memutus semangat Muktamar.

ā€œJangan merasa jauh dari Muktamar hanya karena tidak hadir di Tambakberas.

Ruh Muktamar itu harus kita bawa pulang ke daerah masing-masing.

Saya berharap warga NU di Tubaba tidak hanya menunggu keputusan siapa yang menjadi pengurus. Tetapi juga mengambil semangat dari Muktamar ini.

Mari kita perkuat silaturahmi, jangan mudah terpecah, jangan mudah diprovokasi, dan jangan menjadikan perbedaan pilihan sebagai alasan untuk saling bermusuhan.

Karena NU terlalu besar untuk dipertarungkan hanya demi kepentingan kelompok.ā€

Pesan untuk Pemimpin NU Hasil Muktamar

Mas Lulud berharap pemimpin NU hasil Muktamar ke-35 tetap memegang prinsip amanah dan menjaga persatuan warga Nahdliyin.

ā€œSaya hanya ingin berpesan: jangan pernah lupa bahwa kepemimpinan adalah amanah.

Warga NU berharap pemimpinnya mampu menjaga marwah organisasi, merawat persatuan, memperkuat pendidikan, menjaga tradisi ulama, serta hadir untuk masyarakat.

Jangan sampai energi besar Muktamar hanya berhenti pada siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Karena dalam NU tidak boleh ada kemenangan yang melahirkan perpecahan.

Yang harus menang adalah NU, umat, bangsa dan kemaslahatan.ā€

Membawa Semangat Khidmah ke Tubaba

Mas Lulud tidak ingin kepulangannya dari Tambakberas hanya menghasilkan pengalaman pribadi. Ia ingin membawa semangat khidmah itu ke lingkungan NU di Tubaba.

ā€œSaya ingin membawa pulang semangat khidmah.

Saya datang dari Tubaba bukan untuk mencari panggung. Saya datang untuk belajar kepada sejarah.

Saya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan teman-teman kader NU bahwa berkhidmah tidak harus menunggu jabatan.

Kalau kita bisa menulis, mari menulis.

Kalau kita bisa membuat konten, mari membuat konten.

Kalau kita bisa mengajar, mari mengajar.

Kalau kita punya tenaga, mari digunakan untuk membantu umat.

Karena NU dibangun bukan oleh orang-orang yang hanya menunggu diberi posisi. NU dibangun oleh orang-orang yang bersedia memberikan dirinya untuk berkhidmah.ā€

Muktamar sebagai Momentum Menghidupkan Khidmah

Ketika diminta menggambarkan Muktamar ke-35 dalam satu kalimat, Mas Lulud menekankan kembali pentingnya ruh khidmah dalam perjalanan NU.

ā€œMuktamar bukan sekadar pergantian pengurus, tetapi momentum untuk menghidupkan kembali ruh khidmah yang diwariskan para ulama.

Saya datang dari Tubaba dengan langkah sederhana.

Tetapi saya berharap pulang membawa sesuatu yang besar: semangat untuk terus berkhidmah.

Sebab pengurus bisa berganti, zaman bisa berubah, teknologi bisa berkembang, tetapi selama ruh khidmah kepada ulama, umat, bangsa dan NU tetap hidup, insyaallah perjuangan ini akan terus mendapatkan jalan dan keberkahan.ā€

Dari Tambakberas, perjalanan Mas Lulud membawa satu pesan sederhana: Muktamar tidak berhenti pada keputusan organisasi. Ia juga menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat pengabdian kepada ulama, umat, bangsa, dan NU.( Wawan Hidayat )