Refreshing Dipadukan dengan Ngaji Alam dan Shalawat di Pulau Mahitam
Pesawaran, NU Media Jati Agung ā Pulau Mahitam menjadi ruang tadabbur bagi jajaran Redaksi NU Media Jati Agung saat menggelar kegiatan refreshing yang dipadukan dengan Ngaji dengan Alam di Kabupaten Pesawaran, Lampung, Kamis (23/7/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menyegarkan pikiran, mempererat ukhuwah, sekaligus merenungkan kebesaran Allah SWT melalui keindahan alam ciptaan-Nya.
Sebanyak delapan anggota Redaksi NU Media Jati Agung berangkat dari Bandar Lampung sekitar pukul 08.30 WIB dan tiba di kawasan Pantai Mahitam sekitar pukul 10.00 WIB setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu setengah jam.

Sejarah Singkat Pulau Mahitam
Pulau Mahitam merupakan salah satu destinasi wisata bahari di Teluk Lampung yang berada di wilayah Kabupaten Pesawaran.
Dalam sejumlah kajian akademik, pulau ini pada awalnya lebih dikenal masyarakat dengan nama Pulau Maitem.

Seiring berkembangnya sektor pariwisata di Lampung, penyebutan Pulau Mahitam semakin populer dan kini lebih dikenal oleh masyarakat maupun wisatawan.
Pulau yang memiliki luas sekitar 27 hektare ini terkenal dengan fenomena pasir timbul yang muncul ketika air laut surut.

Hamparan pasir alami tersebut memungkinkan pengunjung berjalan kaki dari daratan menuju pulau pada waktu-waktu tertentu.
Keunikan inilah yang menjadikan Pulau Mahitam sebagai salah satu destinasi favorit wisata bahari di Provinsi Lampung sekaligus menawarkan panorama Teluk Lampung yang masih alami.

Setibanya di lokasi, rombongan memasuki kawasan wisata dengan tiket masuk sebesar Rp60.000 per kendaraan dan biaya parkir Rp10.000.
Wisatawan yang ingin menuju Pulau Mahitam dapat menggunakan jasa penyeberangan dengan tarif Rp20.000 per orang, sedangkan perahu pulang-pergi dari area parkir menuju pulau dikenakan biaya Rp20.000.

Namun, jajaran Redaksi NU Media Jati Agung memilih pengalaman yang berbeda. Karena perjalanan tersebut bukan sekadar wisata, melainkan diniatkan sebagai perjalanan tadabbur alam, seluruh rombongan berjalan kaki menyusuri laut menuju Pulau Mahitam.
Saat air laut surut, hamparan pasir yang menghubungkan daratan dengan pulau tampak membentang.
Jalur alami itu menghadirkan pengalaman yang mengajak setiap peserta merenungkan kebesaran Allah SWT melalui panorama alam yang begitu indah.
Menikmati Kebersamaan di Tengah Keindahan Alam
Sesampainya di pulau, rombongan membuka perbekalan, lalu menikmati santap pagi bersama.
Tawa, canda, dan obrolan ringan mengiringi kebersamaan di bawah rindangnya pepohonan dengan semilir angin laut yang menenangkan.
Usai makan pagi, seluruh peserta menikmati jernihnya air laut Pulau Mahitam yang berwarna biru kehijauan.
Di tengah riak ombak yang tenang, lantunan shalawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW menggema dari seluruh kru sehingga menghadirkan suasana yang syahdu.
Memasuki waktu Dzuhur, seluruh rombongan menghentikan aktivitas untuk menunaikan shalat berjamaah. Seusai shalat, beberapa kru berdialog dengan nelayan setempat dan mendengarkan kisah kehidupan mereka yang sehari-hari menggantungkan nafkah dari hasil laut.
Kebersamaan berlanjut dengan menikmati kopi, membakar ikan, hingga berdiskusi santai mengenai berbagai gagasan dan pengembangan NU Media Jati Agung ke depan.
Tak berhenti di situ, seluruh kru kemudian menyusuri hampir seluruh kawasan Pulau Mahitam.
Hamparan pasir putih, bebatuan alami, pepohonan rindang, hingga panorama Teluk Lampung menjadi latar sempurna untuk mengabadikan berbagai momen.
Arif Riana: Alam Adalah Kitab Terbuka
Pimpinan Redaksi NU Media Jati Agung, Arif Riana, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dirancang bukan hanya untuk melepas penat setelah rutinitas jurnalistik yang padat, tetapi juga menjadi sarana memperkuat spiritualitas dan kekompakan tim.
“Bagi kami, alam adalah kitab terbuka yang memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah. Karena itu, refreshing kali ini kami niatkan sebagai Ngaji dengan Alam. Kami ingin pulang bukan hanya membawa foto-foto indah, tetapi juga membawa hati yang lebih tenang, rasa syukur yang lebih besar, dan semangat baru untuk terus menghadirkan jurnalisme yang membawa manfaat bagi umat,” ujar Arif Riana.
Menurutnya, menjaga kekompakan tim tidak cukup dilakukan di ruang rapat maupun ruang redaksi.
Kebersamaan juga perlu dibangun melalui pengalaman yang mampu mempererat ukhuwah sekaligus menghadirkan ruang refleksi bersama.
Erwin Indra Saputra: Tidak Semua Keindahan Harus Diabadikan Kamera
Sementara itu, Fotografer NU Media Jati Agung, Erwin Indra Saputra, mengaku Pulau Mahitam menghadirkan pengalaman visual sekaligus pengalaman batin yang sulit dilupakan.
“Sebagai fotografer saya terbiasa mengejar momen. Tetapi di Mahitam saya belajar bahwa tidak semua keindahan harus diabadikan dengan kamera. Ada momen yang cukup disimpan dalam hati. Ketika melihat laut yang jernih, mendengar debur ombak, lalu bershalawat bersama teman-teman, saya merasa inilah nikmat yang luar biasa dari Allah SWT,” tutur Erwin.
Ia menambahkan, setiap sudut Pulau Mahitam memiliki karakter yang menarik untuk didokumentasikan, mulai dari bebatuan, pasir putih, hingga gradasi warna laut yang memanjakan mata.
Kegiatan tersebut diikuti oleh Pimpinan Redaksi Arif Riana, Direktur NU Media Jati Agung Andri Supriyadi, Editor Ahmad Royani, S.H.I., Fotografer Erwin Indra Saputra, Rio Saputra, Danang, Angga Leo S., dan Hadi Winoto.
Di balik riuhnya debur ombak Pulau Mahitam, keluarga besar NU Media Jati Agung pulang membawa lebih dari sekadar dokumentasi perjalanan.
Mereka membawa semangat baru, ukhuwah yang semakin erat, serta keyakinan bahwa setiap jengkal keindahan alam merupakan ayat-ayat kauniyah yang mengajak manusia untuk terus bertafakur, bersyukur, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.Ā (Erwin Indra Saputra)

