NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

Bedah Rumah Mbah Surip, Ditjenpas Lampung Libatkan Warga Binaan

Bedah Rumah Mbah Surip Wujud Kepedulian Sosial Pemasyarakatan

Lampung Selatan, NU Media Jati Agung – Bedah Rumah Mbah Surip menjadi bukti nyata kepedulian sosial Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Lampung kepada masyarakat yang membutuhkan.

Program tersebut diresmikan di Dusun V Jati Sari Desa Jatimulyo, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Kamis (25/6/2026), sebagai bagian dari implementasi 15 Program Akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan yang menitikberatkan pada kegiatan sosial.

Peresmian rumah tersebut dihadiri Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kakanwil Ditjenpas) Lampung, Dr. Maulidi Hilal, Bc.IP., S.H., M.Si., Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Bandar Lampung, Jumadi, A.Md., IP., S.H., M.H., Danramil 421-09/TJB Kapten Inf Tarekat, Kepala Desa Jatimulyo H. Sumardi, S.E., Kepala Dusun V A Jati Sari Sarmin, serta Kepala Dusun V B Jati Sari Suminta.

Program Akselerasi Pemasyarakatan Hadir untuk Masyarakat

Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Lampung, Dr. Maulidi Hilal, mengatakan program tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian jajaran pemasyarakatan terhadap masyarakat yang membutuhkan.

“Ini merupakan salah satu dari 15 program akselerasi Bapak Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, di mana kegiatan-kegiatan sosial menjadi wujud kepedulian kami kepada masyarakat yang memang membutuhkan bantuan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Maulidi menjelaskan pembangunan rumah Mbah Surip berawal dari inisiatif Kepala Lapas Narkotika Kelas II A Bandar Lampung, Jumadi yang memetakan warga di sekitar lingkungan kerja yang membutuhkan bantuan.

“Kalapas mencoba melihat lingkungan sekitar mana yang memang perlu dibantu. Setelah tim kami menelusuri, rezeki jatuh kepada Mbah Surip. Akhirnya Alhamdulillah para Kalapas, Karutan, Kabapas, dan Kepala LPKA berembuk, kemudian sepakat membangun rumah Mbah Surip agar beliau lebih nyaman menempatinya. Mudah-mudahan menjadi rahmat dan keberkahan bagi Mbah Surip beserta keluarganya,” katanya.

Warga Binaan Ikut Membangun Rumah

Rumah Mbah Surip selesai dibangun dalam waktu 1 bulan 14 hari melalui kolaborasi seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan di Provinsi Lampung.

Selain itu, proses pembangunan melibatkan warga binaan yang sedang menjalani program asimilasi dan integrasi sosial.

Mereka telah memenuhi persyaratan serta memiliki keterampilan di bidang pembangunan.

“Kami memiliki program integrasi sosial dan asimilasi. Warga binaan yang memenuhi syarat serta memiliki keterampilan dalam bidang pembangunan fisik maupun sipil, merekalah yang membantu membangun rumah ini. Alhamdulillah dalam waktu satu bulan empat belas hari rumah ini dapat diselesaikan,” jelas Maulidi.

Menurutnya, keterlibatan warga binaan tidak hanya bertujuan menyelesaikan pembangunan rumah, tetapi juga membentuk kepedulian sosial sebagai bagian dari proses pembinaan.

“Ini merupakan salah satu bentuk mengasah kepekaan sosial warga binaan. Mereka melihat langsung bagaimana kondisi rumah sebelumnya, kemudian bersama-sama membangunnya. Mudah-mudahan bukan hanya membangun kepribadian mereka, tetapi juga membangun kepekaan sosial terhadap masyarakat yang membutuhkan,” ungkapnya.

Gambar Artikel

Rumah Dilengkapi Perabot untuk Ditempati

Tidak hanya membangun rumah, jajaran pemasyarakatan juga bergotong royong melengkapi kebutuhan dasar rumah tangga sehingga Mbah Surip dapat langsung menempati rumah barunya.

Foto dok. Ahmad Royani, S.H.I : Kakanwil Ditjenpas Lampung, Dr. Maulidi Hilal, menyerahkan secara simbolis kunci rumah kepada Mbah Surip

“Alhamdulillah teman-teman juga ikut bersedekah. Ada yang mengisi tempat tidur, kursi tamu, kompor, dan perlengkapan rumah lainnya. Jadi sudah cukup lengkap untuk standar sebuah rumah,” ujarnya.

Hapus Stigma Negatif terhadap Warga Binaan

Lebih lanjut, Maulidi menilai kegiatan tersebut membuktikan bahwa warga binaan masih memiliki kepedulian terhadap masyarakat dan mampu memberikan manfaat melalui proses pembinaan.

“Kami merasakan bahwa mereka juga masih peduli kepada lingkungannya. Ini menghapus stigma bahwa di Lapas tidak melulu orang jahat, tetapi mereka juga bisa kembali berbakti dan mengabdi kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan tujuan utama sistem pemasyarakatan bukan hanya menjalankan masa pidana, melainkan mengembalikan hubungan sosial warga binaan agar dapat diterima kembali oleh keluarga, masyarakat, dan negara.

“Karena tujuan pemasyarakatan adalah menyatukan kembali hubungan yang sempat retak, yaitu hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan masyarakat dan keluarga, serta dengan negara. Semua itu dapat diwujudkan melalui kegiatan pembangunan rumah ini,” tegasnya.

Komitmen Melanjutkan Program Sosial

Saat menjawab pertanyaan wartawan M-TJEK NEWS mengenai keberlanjutan program tersebut, Maulidi memastikan semangat kepedulian sosial akan terus menjadi komitmen jajaran pemasyarakatan.

“InsyaAllah ya, karena ini yang kita bangun adalah semangat kepedulian. Jadi apa pun bentuknya, yuk kita sama-sama,” pungkasnya.

Ia berharap semangat gotong royong tersebut terus tumbuh sehingga semakin banyak masyarakat yang membutuhkan dapat merasakan manfaat dari kehadiran jajaran pemasyarakatan di tengah kehidupan bermasyarakat.

(Ahmad Royani, S.H.I)