Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

01 / 01

Wawancara Eksklusif: Arif Hidayat Gowes Sumsel-Jombang Demi Muktamar NU ke-35

56 Tahun, Arif Hidayat naik sepeda dari Sumsel ke Jombang Demi Muktamar NU

Jombang, NU Media Jati Agung — Usia 56 tahun tidak menghalangi Arif Hidayat untuk terus berkhidmat kepada Nahdlatul Ulama (NU).

Dengan sepeda, ia menempuh perjalanan dari Sumatra Selatan menuju Jombang, Jawa Timur.

Tujuannya bukan sekadar menghadiri Muktamar Ke-35 NU. Arif ingin menunjukkan kecintaan kepada NU dan para muassis.

Ia juga membawa pesan bagi generasi muda agar terus menjaga semangat berkhidmat.

Arif merupakan kader Gerakan Pemuda Ansor sekaligus Banser asal Desa Binakarya, Trans Subur, SP 5, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatra Selatan.

Ia lahir di Cilacap, Jawa Tengah. Pada 2000, Arif merantau ke Pekanbaru, Riau. Ia tinggal di sana hingga 2011.

Setahun kemudian, ia datang ke Musi Rawas Utara. Awalnya, Arif hanya ingin bersilaturahmi dengan keluarga istrinya.

Namun, perjalanan itu justru membawanya menetap di wilayah tersebut. Ia merasa cocok dengan lingkungan setempat dan mulai membangun kehidupan bersama keluarganya.

ā€œKarena betul katanya saya orang apa itu hidup di Sumatra, tapi di desa kami, Desa Binakarya, Trans Subur, SP 5 itu mayoritas 90% orang Jawa,ā€ kata Arif.

Sejak 2012 hingga 2026, Arif menetap di Desa Binakarya, Kabupaten Musi Rawas Utara.

Kecintaan Arif kepada NU Tumbuh Sejak Kecil

Kecintaan Arif kepada NU tidak muncul secara tiba-tiba. Orang tuanya sudah mengenalkan nilai-nilai ke-NU-an sejak ia masih kecil.

Setelah mengaji di musala, Arif kecil kerap membantu memijat orang tuanya. Dalam suasana tersebut, orang tuanya sering bercerita tentang perjuangan para muassis NU.

Cerita itu juga mencakup perjuangan para tokoh NU pada masa penjajahan. Pesan tersebut kemudian membekas kuat dalam dirinya.

ā€œLe, kapan engko kowe iki gede kudu dadi Banser,ā€ demikian pesan orang tuanya yang masih ia ingat.

Pesan sederhana itu akhirnya mengantarkan Arif pada jalan pengabdian melalui Gerakan Pemuda Ansor dan Banser.

Arif Menjadi Banser di Tengah Situasi Genting

Arif mulai mengabdi sebagai Banser pada 1997. Ia mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar atau Diklatsar Banser di Depok, Jawa Barat.

Saat itu, situasi di sejumlah daerah cukup genting. Para kiai NU menjadi sasaran teror yang dikenal masyarakat dengan istilah ā€œninjaā€.

Kondisi tersebut semakin menguatkan tekad Arif. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk meneruskan amanah yang telah ditanamkan orang tuanya.

Sejak saat itu, pengabdiannya bersama Ansor dan Banser terus berjalan. Puluhan tahun berlalu, semangat tersebut tetap ia jaga.

Dari Rencana Napak Tilas hingga Memilih Sepeda

Keputusan Arif bersepeda menuju Jombang tidak muncul secara tiba-tiba. Ia sudah mempersiapkan perjalanan tersebut sekitar lima bulan sebelum pelaksanaan Munas-Konbes yang menentukan lokasi Muktamar.

Dalam persiapan itu, Arif berkoordinasi dengan Erwin Pratama selaku PW Ansor Sumatra Selatan.

Awalnya, ia ingin melakukan napak tilas seperti pada 2019. Saat itu, Arif menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.

Namun, usia dan kondisi waktu menjadi pertimbangan. Setelah berkoordinasi dengan jajaran pusat, termasuk Ketua Umum Pusat Gus Yaqut, Arif mendapat dua pilihan.

Ia bisa menggunakan sepeda motor atau sepeda.

Arif memilih pilihan kedua.

Ia memilih mengayuh sepeda menuju Jombang.

ā€œSaya mengambil opsi yang kedua, bersepeda mengayuh,ā€ ujarnya.

Pilihan tersebut kemudian membawanya dalam perjalanan panjang yang penuh tantangan.

Berangkat 5 Agustus dari Sumatra Selatan

Perjalanan Arif dimulai dari Gedung PWNU Sumatra Selatan pada 5 Agustus. Pelepasan berlangsung sekitar pukul 14.00 WIB.

Satu jam kemudian, ia mulai mengayuh sepeda menuju Jawa Timur.

Perjalanan panjang itu tentu tidak mudah. Jarak, cuaca, kondisi tubuh, dan medan jalan menjadi tantangan yang harus ia hadapi.

Namun, Arif tetap memegang satu tujuan.

Jombang.

Kota tersebut menjadi lokasi Muktamar Ke-35 NU. Jombang juga memiliki jejak sejarah penting bagi Nahdlatul Ulama.

Salah satunya berkaitan dengan KH Abdul Wahab Chasbullah.

Arif Tiba di Jombang pada Tengah Malam

Setelah menempuh perjalanan hampir dua pekan, Arif akhirnya tiba di Jombang pada 18 Agustus.

Saat itu, waktu menunjukkan pukul 23.33 WIB.

Kedatangannya menjadi momen istimewa. Ia tidak hanya berhasil menyelesaikan perjalanan panjang. Arif juga bertemu dengan keluarga keturunan KH Abdul Wahab Chasbullah.

Cucu dan cicit Mbah Wahab menyambut kedatangannya di depan makam tokoh tersebut.

ā€œAlhamdulillah saya disambut oleh zuriat Mbah Wahab, yaitu cucu dan cicit beliau pas di depan makam Mbah Wahab Hasbullah,ā€ tutur Arif.

Momen tersebut menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam perjalanan panjangnya.

Bukan Sekadar Gowes, Arif Bawa Pesan untuk Kader Muda

Bagi Arif, perjalanan dari Sumatra Selatan ke Jombang memiliki makna yang lebih dalam. Ia ingin memberikan contoh kepada kader muda.

Menurutnya, kader Ansor dan Banser harus tetap istiqamah dalam berkhidmat kepada NU.

ā€œMakna perjalanan saya secara pribadi, saya berharap dari kader-kader muda itu bisa istikamah di dalam berkhidmat terhadap para muassis, tentunya terhadap Nahdlatul Ulama,ā€ ujarnya.

Ia berharap perjalanan tersebut dapat menjadi pemantik semangat bagi generasi muda.

ā€œKe depan, Ansor Banser yang sudah solid akan menjadi solid dengan ghirohnya saya bersepeda. Itu yang saya harapkan.ā€

Arif Berharap Muktamar Melahirkan Pemimpin yang Merangkul.

Sesampainya di Jombang, Arif juga menyampaikan harapan untuk Muktamar Ke-35 NU.

Sebagai kader dan pecinta NU, ia ingin Muktamar berlangsung dalam suasana sejuk dan damai.

Lebih dari itu, Arif berharap forum tersebut menghasilkan pemimpin yang mampu merangkul berbagai kelompok.

ā€œJujur, saya sebagai pecinta NU, yang nota benanya cinta saya terhadap para muassis dan terhadap NU bukan kaleng-kaleng, saya berharap perjalanan Muktamar itu dengan kondisi sejuk, damai, melahirkan suatu pemimpin yang mampu merangkul di berbagai lini dan kelompok,ā€ kata Arif.

Baginya, pemimpin NU harus mampu menjaga persatuan. Kepemimpinan juga perlu merawat kebersamaan di tengah keberagaman.

Pesan Arif untuk Generasi Muda

Dalam wawancara bersama NU Media Jati Agung, Arif menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda. Terutama bagi kader Ansor dan Banser yang sudah mengikuti Diklatsar.

Ia meminta para kader tetap semangat. Selain itu, mereka harus menjaga jati diri.

ā€œSelalu semangat, selalu menjaga jati diri. NU itu besar,ā€ pesannya.

Arif juga mengingatkan bahwa pengabdian kepada NU bukan sekadar mencari keuntungan materi.

ā€œJangan pernah kita itu berharap ber-NU itu kita itu mendapat gaji, ya. Biarlah Allah yang akan mencatat gaji kita fi yaumil qiyamah nanti.ā€

Pesan tersebut menggambarkan prinsip yang ia pegang. Baginya, khidmah kepada NU merupakan bentuk pengabdian yang membutuhkan ketulusan.

Arif Tekankan Pentingnya Toleransi

Selain soal khidmah, Arif menyoroti pentingnya toleransi. Menurutnya, kebesaran NU tidak hanya terlihat dari jumlah kader dan organisasi.

Kemampuan merangkul perbedaan juga menjadi kekuatan NU.

ā€œKarena NU bukan milik satu golongan. Yang mencintai NU bukan cuma muslim, yang mencintai Ansor dan Banser bukan cuma muslim,ā€ ujarnya.

Ia kemudian mengingat kembali nilai toleransi yang ia pelajari dari sosok Gus Dur.

ā€œDi luar sana, minoritas-minoritas berkat toleransi kebesaran sosok seorang Gus Dur, itulah yang saya tanamkan.ā€

Karena itu, Arif mengajak warga NU untuk terus menjaga toleransi. Ia menilai sikap tersebut penting selama kelompok lain tidak memusuhi NU.

ā€œKita selalu bertoleransi dengan kelompok yang lainnya, tentunya kelompok yang tidak memusuhi kita,ā€ katanya.

Kayuhan Sepeda Menjadi Simbol Khidmah

Perjalanan Arif Hidayat dari Sumatra Selatan menuju Jombang bukan sekadar cerita tentang gowes jarak jauh.

Di balik setiap kayuhan, terdapat cerita tentang keluarga, perjuangan, sejarah NU, dan kecintaan kepada para muassis.

Usia 56 tahun juga tidak menghentikan langkahnya. Sebaliknya, Arif menunjukkan bahwa semangat berkhidmat tidak mengenal batas usia.

Ia berangkat dari Sumatra Selatan dengan sepeda. Arif tiba di Jombang pada tengah malam.

Namun, yang ia bawa bukan sekadar sepeda dan perlengkapan perjalanan.

Ia membawa pesan agar kader muda tetap istiqamah.

Ia membawa harapan agar Ansor dan Banser terus solid.

Selain itu, ia membawa pesan agar NU tetap menjadi rumah besar yang mampu merangkul berbagai kelompok.

Pada akhirnya, perjalanan tersebut menjadi simbol ketulusan dalam berkhidmat. Bagi Arif, pengabdian kepada NU tidak selalu harus diukur dengan materi.

Setiap kayuhan menjadi saksi perjalanan. Setiap perjalanan menjadi bagian dari khidmah.Ā (Erwin Indra Saputra).