Lompat ke konten utama

NU MEDIA JATI AGUNG – Aktual Informatif dan Terkini

NU MEDIA JATI AGUNG
Logo NU Jatiagung

NU Jatiagung - Situs Resmi

01 / 01

Ansori Perkuat NU Jati Agung Lewat Kaderisasi Digital

Ansori Dorong Kaderisasi dan Digitalisasi Pesantren

Lampung Selatan, NU Media Jati Agung — Kyai Ahmad Ansori, Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Jati Agung, mendorong penguatan kaderisasi, persatuan organisasi, dan digitalisasi pendidikan pesantren dalam momentum Hari Santri Nasional (HSN) 2026.

Ia menyampaikan hal tersebut seusai upacara HSN di Lapangan Kecamatan Jati Agung, pada Kamis (22/10/2026).

Kyai Ansori menilai kebersamaan masyarakat, pengurus, ranting, badan otonom (Banom), dan lembaga NU Jati Agung masih terjaga dengan baik.

Meski demikian, ia mengakui sejumlah persoalan internal perlu mendapat perhatian melalui komunikasi dan komitmen bersama.

ā€œAlhamdulillah, baik sekali, masih solid antara masyarakat, pengurus, ranting, Banom, dan lembaga yang ada. Memang ada sedikit problem, tetapi insyaallah tetap bisa kita tangani,ā€ ujar Kyai Ansori Kepada NU Media Jati Agung.Ā 

Ia berharap NU Jati Agung terus berkembang dalam bidang sosial, memperkuat solidaritas, dan menjaga persatuan seluruh elemen organisasi.

Kyai Ansori Perkuat Organisasi NU di 21 Desa

Lebih lanjut Kyai Ansori menyampaikan bahwa NU Jati Agung telah membentuk kepengurusan ranting di 21 Desa yang ada di Kecamatan Jati Agung.

Menurutnya, struktur organisasi hingga tingkat desa menjadi fondasi penting untuk memperluas pengabdian NU kepada masyarakat.

Selain ranting, beberapa desa juga telah memiliki kepengurusan anak ranting.

Melalui penguatan struktur tersebut, NU diharapkan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan warga.

ā€œSelagi belum habis masa jabatan di 2029, kita tetap solid, tetap menjaga, tetap mempertahankan 21 desa itu menjadi bagian daripada Nahdlatul Ulama Jati Agung,ā€ tegasnya.

Kyai Ansori juga menyoroti pembangunan kantor NU Jati Agung sebagai salah satu upaya memperkuat organisasi.

Ia berharap keberadaan kantor tersebut dapat mendukung koordinasi, konsolidasi, dan pelayanan pengurus kepada masyarakat.

Menurutnya, organisasi tidak cukup hanya membentuk struktur kepengurusan.

Setiap pengurus juga perlu menjalankan program kerja, membangun komunikasi, dan menghadirkan manfaat nyata bagi umat.

HSN 2026 Jadi Momentum Mencetak Santri Berakhlak

Bagi Kyai Ansori, Hari Santri Nasional menjadi momentum untuk memperkuat tanggung jawab bersama dalam membentuk generasi yang berilmu, berintegritas, dan berakhlakul karimah.

Ia mengingatkan bahwa nilai kesantrian tidak hanya melekat pada mereka yang menempuh pendidikan di pondok pesantren.

Sikap menghormati guru, menjaga akhlak, mengamalkan ilmu, dan mengabdi kepada masyarakat juga mencerminkan nilai-nilai kesantrian.

Karena itu, ia mengajak seluruh pondok pesantren di Jati Agung memperkuat kekompakan dalam mendidik generasi penerus.

ā€œSantri ke depan di Jati Agung ini saya harapkan untuk seluruh pondok-pondok pesantren harus meningkatkan kekompakannya, keguyubannya, untuk mencetak generasi-generasi yang berilmu dan berakhlakul karimah,ā€ ungkapnya.

Lebih jauh ia berharap pesantren terus menjaga tradisi keilmuan Islam sekaligus membekali santri dengan kemampuan untuk berkontribusi dalam kehidupan sosial.

Dengan demikian, santri dapat mengamalkan ilmu dan membangun masyarakat yang berkarakter serta berdaya saing.

Ziarah Muassis untuk Merawat Sejarah NU

Kyai Ansori juga menekankan pentingnya ziarah kepada para muassis atau tokoh perintis NU di Kecamatan Jati Agung.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mengenang jasa para pendahulu dan menghargai perjuangan mereka dalam membangun organisasi.

Ia menilai perkembangan NU Jati Agung saat ini tidak terlepas dari dedikasi para ulama, muassis, dan pengurus terdahulu yang merintis serta menjaga keberlangsungan organisasi.

ā€œTanpa pengurus terdahulu, muassis terdahulu, mungkin Jati Agung tidak seperti yang hari ini kita rasakan. Jadi, ini harus kita lestarikan dan kita adakan di generasi-generasi yang akan datang,ā€ tuturnya.

Karena itu, pihak nya mengajak generasi penerus menjaga warisan perjuangan tersebut melalui penguatan organisasi, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ziarah muassis juga menjadi kesempatan bagi warga NU untuk memahami perjalanan panjang organisasi sekaligus menumbuhkan tanggung jawab dalam meneruskan perjuangan para pendahulu.

Ansori Dorong Digitalisasi Pendidikan Pesantren

Di tengah perkembangan teknologi informasi, Kyai Ansori mendorong pesantren memperluas wawasan pendidikan tanpa meninggalkan tradisi keilmuan Islam.

Ia berharap para pengasuh pesantren memberikan ruang lebih luas bagi pembelajaran teknologi dan keterampilan digital agar santri mampu menghadapi perubahan zaman.

ā€œSaya harapkan untuk seluruh pengasuh pondok pesantren jangan terlalu ortodok untuk memberikan ilmu selain daripada kitab kuning dan ilmu tasawuf. Kita harus juga memasukkan ilmu-ilmu teknologi agar para santri ini tidak gaptek untuk bersosialisasi secara modern ataupun digitalisasinya nantinya,ā€ kata Kyai Ansori.

Menurutnya, penguasaan teknologi dapat membantu santri memperluas pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat modern.

Namun, ia juga menekankan pentingnya menjaga akhlak, etika, dan tradisi keilmuan pesantren.

Santri perlu mengembangkan kemampuan digital sekaligus belajar memilah informasi dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Dengan pendekatan tersebut, pesantren diharapkan mampu mencetak generasi yang kuat dalam pemahaman agama serta siap menghadapi tantangan pendidikan, kehidupan sosial, dan dunia kerja.

Kyai Ansori Perluas Kaderisasi Ansor dan Fatayat NU

Dalam upaya menjaga keberlanjutan organisasi, Kyai Ansori menyampaikan perkembangan pembentukan kepengurusan badan otonom NU di tingkat ranting.

Ia menyebut Gerakan Pemuda Ansor Jati Agung telah terbentuk dan mulai berkembang di sejumlah ranting.

Sementara itu, Fatayat NU telah memiliki delapan ranting yang sebelumnya belum terbentuk di wilayah-wilayah tersebut.

Menurutnya, penguatan Banom menjadi bagian penting dalam menyiapkan kader penerus perjuangan NU.

Keberadaan Ansor dan Fatayat NU di tingkat desa juga membuka ruang lebih luas bagi generasi muda dan perempuan untuk berkontribusi dalam kegiatan sosial serta keagamaan.

Ia berharap pengembangan kepengurusan terus berlanjut hingga seluruh desa memiliki struktur organisasi dan Banom sesuai kebutuhan.

Lebih jauh Kyai Ansori menempatkan target tersebut sebagai salah satu pekerjaan rumah kepemimpinannya hingga akhir masa jabatan pada 2029.

Namun, ia menilai pencapaian target itu memerlukan kesiapan kader, proses yang berkelanjutan, dan kerja sama seluruh pengurus.

Jaga Soliditas NU Jati Agung hingga 2029

Kyai Ansori mengakui bahwa persoalan internal masih menjadi tantangan bagi NU Jati Agung.

Meski demikian, ia berharap seluruh pengurus menyelesaikan perbedaan melalui komunikasi, musyawarah, dan semangat persaudaraan.

Ia menegaskan bahwa setiap elemen organisasi, mulai dari pengurus kecamatan, ranting, Banom, hingga lembaga, perlu menjaga kekompakan agar program kerja berjalan sesuai tujuan.

Selain itu, ia mengajak santri dan generasi muda NU memanfaatkan momentum HSN 2026 untuk meningkatkan pengetahuan, memperkuat akhlak, menjaga integritas, dan melestarikan tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama.

Ke depan, penguatan struktur organisasi, pembangunan kantor NU, pengembangan kaderisasi, dan peningkatan kualitas pendidikan pesantren menjadi sejumlah agenda yang perlu terus diupayakan.

Baginya, keberhasilan kepemimpinan tidak hanya terlihat dari terbentuknya kepengurusan di setiap desa.

Lebih dari itu, organisasi perlu melahirkan kader berkomitmen, menjaga persatuan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Peringatan HSN 2026 menjadi momentum bagi NU Jati Agung untuk memperkuat khidmah, menghargai perjuangan ulama terdahulu, merawat persaudaraan, dan menyiapkan generasi penerus yang berilmu, berakhlak, serta mampu menghadapi tantangan masa depan. (ERWIN INDRA SAPUTRA)